Apakah Pemrograman Arsitektur?

[diterjemahkan secara pribadi dari Duerk]

Tulisan ini tentang Perancangan arsitektur. Bagian awal dari proses desain adalah pemrograman . Tulisan ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin melakukan perograman arsitektur dan ingin mengetahui lebih jauh tentang pertanyaan yang benar dalam waktu yang tepat.

Definisi
Kamus Webster (1966) Mendefinisikan program sebagai “perencanaan prosedur”. Pemrograman arsitektur adalah proses pengaturan informasi sehingga informasi yang benar dapat secara tepat posisinya dalam proses desain dan keutusan yang tepat dapat dilakukan untuk mempertajam hasil dari desain bangunan tersebut.
Pemrograman merupakan proses kreatif secara terstruktur terhadap harapan, keinginan, dan hasrat dari wujud bangunan nantinya.
Pemrograman juga merupakan perencanaan prosedur dan organisasi dari semua bagian sumber daya sudah tentu untuk membuat desain dalam suatu kontek dan persyaratan yang spesifik.
Pemrograman adalah pengumpulan, pengorganisasian, analisa, peng-interpretasi-an, dan pemaparan dari informasi yang relevan untuk proyek yang didesain.
Untuk memudahkan pemahaman beberapa aktifitas tersebut maka pemrograman dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
1. Analisis dari kondisi eksisting, yaitu analisa site, profil pengguna, kode, batasan dan iklim.
2. Proyeksi masa depan, yaitu beberapa criteria desain yang harus dipertemukan atau diselesaikan agar supaya cocok dan termasuk disini adalah misi, tujuan, konsep, dan persyaratan tampilan(performance).

Saya juga menyodorkan penggunaan isu desain sebagai alat penyaring untuk berbagai informasi atau data tentang kondisi eksisting dan sebagai topic untuk membangun tujuan, persyaratan tampilan dan konsep yang dibuat untuk membuat penjelasan kondisi masa depan.
Isu desain adalah pendifinisian sejauh mana wilayah garap dari permintaan dari tanggapan desain.

Siklus
Proses Desain

Proses Desain sering dianggap sebaga pengulangan secara terus menerus, siklus menuju suatu detail yang diinginkan. Pemrograman memberi seorang perancang atura-aturan untuk mengontrol informasi dalam setiap tahap detail.

Aturan Dokumen Program
Dokumen program menentukan misi (harapan) dari proyek. Dokumen tersebut juga merupakan kumpulan semua keputusan dari batas dan arah dari proyek. Ini merupakan kontrak resmi dari klien dan arsitek tentang kulaitas dari hasil (tujuan) dari proyek dan konteks (kondisi eksisting) dimana proyek tersebut dikerjakan.
Desain dipenuhi dengan harapan, tujuan-tujuan, keputusan desain yang berusaha untuk menyelesaikan banyak konflik yang muncul sehingga hasilnya mengarah pada kemungkinan terbaik atau seimbang, dimana membuat kemungkinan terbaik dalam kualitas hidup.

Kondisi Eksisting
Analisa merupakan bagian dari proses pemrograman yang bertugas meng-eksplorasi dan menjelaskan kondisi eksisting atau konteks dimana suatu desain sedang dikerjakan. Dalam pemrograman, antara kemampuan membuat sintesa dan dan analisa merupakan bagian penting untuk menghasilkan penegasan terhadap kondisi masa depan, persyaratan keberhasilan proyek dan pembuatan tujuan, persyaratan tampilan dan konsep.
Webster’s (1966) mendefinisikan analisa sebagai,
“a breaking up of any whole into its parts so as to find out their nature, function, etc.”
dan sintesa sebagai,
“The putting together of parts or elements so as to form a whole”.

Pengumpulan dan analisis data tentang kondisi eksisting atau konteks dari desain adalah tahap yang sangat penting terhadap keberhasilan dalam memahami batasan dan kemungkinan dari problem desain.

Pengaturan Kerangka Kerja
Pena(1987) dalam tulisannya memutuskan untuk membagi isu desain dalam 4 kategori yaitu, bentuk, fungsi, ekonomi, waktu. Palmer(1981) membuat 3 kategori untuk desain isu yaitu, factor manusia, factor fisik, dan factor eksternal. White(1972) mengkonsentrasikan tentang pembuatan daftar fakta dari kondisi eksisting dan menggunkan kategori proyek umum, klien, keuangan, kode, perencanaan dihubungkan dengan organisasi, fungsi, site, iklim dan pertumbuhan, dan perubahan. Tulisan ini memaparkan tentang penggunan isu desain sebagai alat pengkategoorian untuk mengorganisasi informasi desain dengan fakta yang ada, value, Goals, Perfomance Requirements, and Concepts.
Masing-masing ahli pemrograman atau proyek mungkin mempunyai format yang berbeda dalam mengorganisasikan data. Inti sebenarnya adalah harus ada suatu kerangka kerja untuk pengaturan yang memungkinkan seorang programmer dapat melacak informasi yang tertinggal, hilang atau tidak berguna.

Kondisi Masa Depan
Untuk memproyeksikan kebutuhan yang akan dating, programmer harus membuat konsep untuk mempertemukan harapan besarnya proyek dan masing-masing bagian. Proposal untuk kondisi masa depan atau desain yang sempurna adalah suatu pernyataan untuk mendekati tingkat dari hasil rancangan gedung tersebut. Harapan desain dari klien untuk kualitasn lingkungan menjadi rangkaian kekuatan internal yang membentuk rancangan.

Tingkatan Keputusan
Terdapat 4 bagian tahap dalam membuat program untuk menjelaskan kondisi masa depan : membuat misi, membangun tujuan proyek, membuat ketentuan persyaratan tampilan, dan membangun perhubungan konsep.
Misi : agar promis tentang desain menjadi sesuatu yang jelas, misi seharusnya membuat artikulasi yang tidak membuat pembaca bertanya. Misi seharusnya menjawab pertanyaan ,”Kenapa kita mengerjakan proyek ini?” dan “Apa kontribusi proyek ini untuk dunia?”. Webster(1966) mendefinisikan misi sebagai ,
“the special duty or function on which someone is sent, a special task or calling.”
Pernyataan misi merupakan landasan konsep untuk suatu proyek. Semua tujuan, persyaratan tampilan, dan konsep harus mendukung dan searah dengan misi dari proyek.
Tujuan : agar misi dapat dilaksanakan, tujuan seharusnya dibuat dalam bentuk yang jelas kualitasnya. Tujuan merupakan pernyataan dari suatu kualitas ideal dimana rancangan seharusnya sukses secara keseluruhan 100%.
Persyaratan Tampilan : agar tujuan desain dapat direalisasikan, bangunan harus berfungsi secara benar , menunjukkan tahap harapan yang bagus. Persyaratan tampilan merupakan kendaraan untuk komunikasi dari derajat fungsi yang disyaratkan untuk mengimplementasikan tujuan. Persyaratan tampilan disebutkan oleh Pena(1987) sebagai “statement of the problem” yaitu ringkasan dari persyaratan tampilan atau “design criteria.” Hal tersebut juga disebut sebagai “objectives” tetapi kata tersebut terlalu umum, bersinggungan dengan kata “goals”.
Konsep : agar bangunan berfungsi sesuai harapan dari tampilan, secara nyata diatur yang diarahkan untuk fungsi yang diutamakan. Konsep merupakan diagram yang mengilustrasikan perhubungan organisasi secara ideal. Konsep dapat dibuat untuk setiap tingkatan organisasi dalam desain, dari tingkat ide utama sampai dengan tingkat yang detail.

BAGAIMANA PENYESUAIAN PEMROGRAMAN DALAM PROSES DESAIN ?
Proses Konvensional
Dokumen standar menurut AIA membagi desain proses menjadi beberapa tahap, yaitu : pre-design services (termasuk pemrograman), schematic design, design development,construction documents, construction administration, and post-design services.
Masing-masing bagian desain didalam AIA sudah termasuk analisis, sintesis, dan evaluasi. Dokumen program merupakan perjanjian legal antara arsitek dank lien dalam hal ruang lingkup, titik berat, dan arah dari rancangan proyek tersebut. Dengan kata lain, dokumen tersebut merupakan esensi dari problem desain dan perjanjian arsitek untuk membuat kualitas dari tampilan yang diinginkan desain tersebut.
Pre-design Services
Pre-design services selayaknya termasuk didalamnya adalah kebutuhan, studi kelayakan, rencana induk dan jangka panjang, variasi pemilihan dari riset desain, dan terkadang contoh pembangunan. Pemrograman biasanya termasuk servis tambahan dalam tahap pre-design.
Needs Assesment and Feasibility Studies : merupakan tahap pre-design dari proses desain dimana untuk menyelesaikan problem aktifitas sangat penting untuk dikerjakan oleh tenaga ahli pemrograman. Beberapa pre-design sering mempersyaratkan kemampuan untuk membuat sebuah studi kelayakan untuk proyek. Termasuk disini adalah beberapa jenis alternatif proposal konsep untuk lahan tersebut dengan beberapa jenis fungsi, ukuran, konsep, dan biaya untuk diplih klien kita.
Studi kelayakan merupakan bagina yang sangat mendasar untuk pertimbangan yang cukup bagi pemberi dana, pembangun, dan atau klien untuk membuat keputusan terhadap nasib proyek tersebut berjalan atau tidak.
Master Planning : Seperti juga studi kelayakan, adalah pemrograman dengan cara yang singkat dan dengan detail yang minimal. Konsep umum tentang sirkulasi, fungsi bangunan, massa, dan penempatan dikerjakan dengan tahap-tahap perencanaan.
Building Prototypes : Pemrograman dapat menggambarkan kondisi kritis suatu pembangunan dari prototype gedung. Jika suatu rancangan diulang dalam beberapa situasi yang sama, sehingga asumsi dasar dapat diterapkan dengan baik.
Programming Research : Riset untuk pemrograman dalam merancang bangunan dapat berbentuk beberapa macam. Terdapat beberapa macam jenis riset yang dapat dilakukan seorang programer tergantung dari tingkat kesulitan dari penggalian beberapa isu dalam memahami spesifikasi bangunan. Brill(1984) telah melakukannya dalam meningkatkan produktifitas kantor, dan Farbstein(1987) melakukannya dalam mengatur lobbi kantor pos. Marcus(1975) dan Marcus-Sarkisian(1986) melakukan riset terhadap tempat tinggal, dan Howell(1980) juga melakukan riset pengembangan. Perancangan rumah sakit, penjara, sekolah, semua membutuhkan riset pengembangan terhadap literature yang arsitektural sehingga programmer dapat menggunakan sebagai sumber pustaka.
Post-design Services
Post-design services mungkin juga menggunakan kemampuan riset /analisis dan sintesis dari seorang programmer untuk membuat petunjuk bagi pengguna bangunan,adaptasi bangunan, petunjuk terhadap okupansi setelah terbangun, dan mengumpulkan informasi dari proyek sebagai referensi material untuk proyek yang akan dating dengan jenis gedung yang sama.
Building Users’ Manual : salah satu hasil dari kemampuan programmer adalah sebuah petunjuk tentang pembangunan gedung tersebut.

Model lain
Descriptive Models: Heading for a solution
Penjelasan dari proses desain telah sering dlakukan banyak periset untuk menangkap intisari dari apa yang dikerjakan seseorang ketika mereka menemukan ketertarikan baru tentang sesuatu. Proses tersebut mempunyai beberapa jenis, tiga tahap, lima tahap, sepuluh tahap dan beberapa lainnya dengan variasi jumlah dan nama tahap-tahap tersebut(Koberg dan Bagnall 1991,27).
Semua pemaparan tentang proses desain intinya terdapat tiga aktifitas pokok : analisa, sintesa, evaluasi. Pemrograman konsisten terhadap tiga bagian aktifitas ini dalam proporsi masing-masing.
Proses tersebut tidak linier, mulai dari analisis, sintesis, evaluasi, tidak terdapat tahapan yang selalu lurus.

Zeisel Model
Zeisel seorang sosiolog, mempunyai pandangan tersendiri tentang proses desain. Dia berpendapat tentang imaging, presenting, dan testing.
Imaging adalah bagian dari sintesis, yang membangun sebuah konsep tentang apa yang selayaknya ada untuk kondisi masa depan. Presenting adalah akktifitas pembuatan gambar yang dapat dikomunikasikan ke orang lain, berupa gambar, maket, atau computer.
Testing merupakan bagian dari proses evaluasi, dimana image(konsep) dapat diterima kesesuaiannya dengan criteria dari program desain.

Interaksi Program dengan Perancangan
Programer mungkin membuat dokumen program yang berdiri sendiri atau terlepas dari perancang. Ataupun menjadi satu bagian dengan proses desain.

Arsitektur Nusantara-Arsitektur Naungan, bukan Lindungan (sebuah reorientasi pengetahuan arsitektur tradisional)

[ jun 21 – univ khaerun, ternate josef prijotomo]

‘Bangunan panggung dibuat karena adanya ancaman dari binatang buas’, itulah yang kita pelajari dari arsitektur tradisional di Indonesia ini. Kita tidak terlalu mempersoalkan benar-kelirunya pernyataan itu karena telah banyak ditulis seperti itu, juga telah dikatakan oleh demikian banyak ahli dan peneliti. ‘Bangunan adalah tempat untuk berlindung’ juga sebuah pengetahuan akan arsitektur tradisional yang tak disoalkan benar-kelirunya. Jika mau dibuat rinciannya, demikian banyak ihwal pengetahuan tentang arsitektur tradisional yang tidak pernah kita pertanyakan benar-kelirunya. Masih dengan ihwal yang sama yaitu mempersoalkan benar-kelirunya, kita dengan mantap dan tegas menempatkan arsitektur tradisional kita dalam kaitan yang demikian erat dengan budaya dan kebudayaan, namun kalau berkenaan dengan arsitektur Erorika (Eropa-Amerika) serta arsitektur modern, nyaris tidak pernah ada pelibatan dan pengkaitan dengan budaya dan kebudayaan. Di satu sisi kita memantapkan itu untuk menegaskan bahwa arsitektur tradisional itu beda dari arsitektur Erorika, namun di sisi lain kita menjadi bermasalah dalam mengkinikan arsitektur tradisional dalam proses rancang yang sepenuhnya sangat Erorika itu. Tanpa harus membincangkan mengapa tidak disoalkan benar-kelirunya, sajian yang akan saya paparkan dalam kesempatan ini akan mencoba untuk memperlihatkan apa yang seharusnya kita tanggung sebagai konsekuensi dari kenyataan bahwa Erorika dan Indonesia/Nusantara itu memang berbeda dalam banyak hal. Perbedaan itu akan kita manfaatkan untuk menyadari konsekuensi yang timbul. Ada konsekuensi yang menunjuk pada pengertian arsitektur sebagai perlindungan dalam persandingannya dengan arsitektur sebagai pernaungan atau perteduhan; ada pula konsekuensi yang menunjuk pada tempat/kategorisasi dari pengetahuan yang Erorika dalam persandingannya dengan pengetahuan arsitektur Nusantara. Di sini saya tidak melakukan pembandingan antara Erorika dengan Nusantara(tradisional) karena sebuah perbandingan akan berakhir dengan siapa yang lebih dan siapa yang kurang. Saya akan melakukan penyandingan, menjejerkan yang erorika dengan yang Nusantara/tradisional untuk memerikan/mendeskripsikan bahwa perbedaan yang ada bukan perbedaan dalam hal lebih-kurang, melainkan perbedaan tatapikir (mindset) yang digunakan dalam mempelajari dan memahami arsitektur Nusantara. Kepulauan Nusantara Berbeda dari kebiasaan dalam memerikan arsitektur tradisional yang diawali dengan menggelarkan budaya dari anak bangsa di Indonesia, saya akan mengawali penggelaran atas arsitektur Nusantara ini dengan menggelar alam dan iklim, yakni sebuah lingkungan yang menjadi tempat bagi munculnya arsitektur. Indonesia adalah Negara kepulauan yang satu pulau dengan pulau yang lain dihubungkan oleh laut. Laut atau perairan adalah penghubung pulau dan daratan, bukan pemisah. Jikalau laut dan perairan menjadi pemisah maka keterisolasian dari masing-masing pulau akan dapat muncul sebagai konsekuensinya. Sebaliknya, dengan menjadikan perairan dan laut sebagai penghubung, maka tidak hanya keterisolasian itu tersisihkan, tetapi komunikasi antara pulau satu dengan yang lain akan muncul sebagai konsekuensinya. Di dalam keterhubungan ini pulalah kita masih ingat penggal nyanyian anak-anak dari tahun 1950-1960-an yang diantaranya berbunyi: “nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudera”, menyadarkan kita akan arti dan makna dari sebutan bangsa kita sebagai bangsa bahari. Kejayaan kita di laut bahkan sudah berlangsung ratusan tahun sebelum Masehi, sebagaimana ditunjukkan misalnya oleh para ahli linguistic. Para ahli bahasa ini telah berhasil menemukan pencatatan rempah-rempah dari Pasifik di dalam dinding-dinding piramida di Mesir. Bahkan dalam abad ke-2 Masehi, perairan Nusantara ini merupakan perairan yang sibuk dengan lalu-lalangnya kapal dan perahu dari pasifik hingga Madagaskar dan dari Taiwan-Cina hingga India dan Arab. Di masa itu, telah pula terbuktikan bahwa bangsa Nusantara ini bukan hanya penonton, melainkan menjadi pemain; perahu dan kapal nusantara telah mengarungi sejauh Madagaskar dan Pasifik. Keberhasilan mengarungi lautan dan samudera seluas dari Madagaskar hingga Pasifik dan Cina hanya mungkin terjadi bila teknologi pembuatan perahu kayu sangatlah handal. Kehandalan teknologi pembuatan perahu dari bangsa Nusantara ini sampai membuat para ahli kapal dan perahu Cina untuk belajar dari para pembuat perahu di Sulawesi Selatan di tahun 1420-an, demikian dikatakan oleh Gavin Menzies dalam bukunya yang berjudul 1423. Mereka itu perlu belajar tentang teknologi perahu dan kapal karena di tahun 1423 Cina memulai penjelajahan melintasi semua samudera di dunia ini! Setidaknya ada tujuh armada dikirim oleh Cina untuk mengarungi semua samudera. Masing-masing armada menjelajah samudera yang berbeda. Kehandalan dalam membuat perahu dan kapal yang dari kayu ini dengan langsung tentunya berimbas pada handalnya teknologi dan pembuatan bangunan kayu. Sebagaimana halnya teknik konstruksi ikat dalam pembuatan perahu yang sudah dikuasai semenjak duaratus tahun sebelum Masehi, di pedalaman Flores, tepatnya di desa Wae Rebo, kabuparten Manggarai, telah dapat dihadirkan sebuah bangunan berkonstruksi ikat yang memiliki ketinggian sampai lima lantai, dan lantai dasarnya mampu menampung lebih dari seratus orang. Sekali lagi, desa Wae Rebo bukan desa di pesisir tapi di pedalaman; sehingga dari sini kita dapat dengan tepat mengatakan bahwa pengetahuan tentang konstruksi ikat itu telah mampu menembus pedalaman dari daratan di pulau-pulau di Nusantara ini. Hal ini sekaligus menggugurkan pandangan yang selama ini mengatakan bahwa anak-anakbangsa Nusantara ini berada dalam keterisolasian. Lembab Lautan yang menjadi penghubung antar pulau juga memberikan kekhususan pada iklim yang ada di Indonesia. Iklim di Indonesia tidak hanya tropik, tetapi juga lembab, jadi beriklim tropik lembab. Kelembaban dari iklim ini dipermantap oleh kekayaan hutan hujan tropik yang mengisi daratan Nusantara. Dengan kelembaban ini pula tubuh menjadi mudah sekali berkeringat serta udara berkurang kenyamanannya karena menimbulkan kegerahan. Berhadapan dengan kelembaban ini, sebuah penyelesaian yang cemerlang telah berhasil ditemukan oleh anak-anakbangsa Nusantara. Pertama, tidak merasa perlu untuk mengenakan pakaian. Penutup tubuh yang ada hanyalah penutup kelamin semata, atau lebih diperluas lagi adalah sebatas dari pusar hingga lutut. Busana seperti itu adalah norma kesopanan yang berlaku, dan itu berarti bahwa samasekali tidak porno sebagaimana kita sekarang ini menilainya. Dan karena itu tidaklah mengherankan bila hingga abad ke 16 Masehi kita masih bisa menyaksikan relief candi yang menggambarkan sosok manusia dengan busana yang seperti tersebutkan tadi. Dari wayang kulit di Jawa kita juga menyaksikan bahwa sebagian terbanyak tokoh yang digambarkan bertelanjang dada. Dihadapkan pada orang-orang yang bertelanjang dada ini orang-orang Eropa yang mengunjungi Nusantara menilainya sebagai tidak beradab (maklum, dalam adat dan budaya Eropa, ihwal berbusana yang menutup seluruh tubuh adalah sebuah tanda beradab). Dengan memperhatikan kenyataan bahwa bertelanjang dada adalah penyelesaian atas kelembaban yang tak dapat dihindari, tentunya dapat dibayangkan bagaimana semestinya bangunan yang didirikan untuk ‘mewadahi’ manusia Nusantara. Sebuah ruangan yang memakai dinding serba tertutup sudah pasti sulit untuk dipahami sebagai penyelesaian atas kelembaban ini. Betapa tidak, dalam hal berada di luar bangunan saja sudah tak berpakaian, bagaimana nyaman bila berada dalam ruangan yang serba berdinding tertutup. Dengan pencermatan seperti itu, dapat kemudian dikatakan bahwa bangunan yang mewadahi manusia yang harus berhadapan dengan kelembaban adalah bangunan yang tidak memiliki dinding tertutup. Sebuah beranda, serambi (teras) dan kolong bangunan adalah tempat-tempat di bangunan yang dapat mewadahi manusia yang berkeringat dan gerah karena kelembaban. Dangau-dangau di sawah serta warung dan gardu jaga juga dengan jitu menjadi wujud bangunan yang merupakan penyelesaian atas kelembaban yang menimbulkan keringat. Apabila terpaksa harus ada dinding, maka dinding ini adalah berupa kerai atau kalau mau lebih canggih, dinding yang berukir tembus seperti lazimnya sekat berukir. Bagaimana halnya dengan bagian bangunan yang berdinding, bahkan berdinding rapat tanpa jendela? Keadaan bangunan yang serba tertutup seperti itu akan sangat jitu bila digunakan untuk menyimpan barang serta untuk menghangatkan tubuh bila suhu udara menjadi dingin. Kalau tidur di malam hari dianggap sebagai menyimpan badan, maka bagian bangunan yang serba tertutup itu tidak hanya menyimpan barang tetapi juga menyimpan badan. Dengan demikian, bagian bangunan yang berdinding tertutup itu asal-muasalnya bukanlah sebuah tempat tinggal, melainkan tempat penyimpanan. Bagian dari rumah yang digunakan untuk berbagai kegiatan harian hadir sebagai serambi, beranda, dangau atau gardu serta kolong dari bangunan panggung. Kalau dipaksakan untuk disebut tempat tinggal, maka bagian yang berdinding rapat adalah tempat untuk tinggal di malam hari sedang di siang hari adalah di beranda, serambi atau kolong. Dengan gambaran yang berdasar kelembaban seperti di depan, pembacaan denah dari arsitektur Nusantara akan menjadi sangat berbeda dari pembacaan denah dari bangunan Erorika. Di Nusantara, beranda, serambi dan kolong adalah tempat melangsungkan aktifitas siang hari. Bilik yang berdinding tertutup adalah tempat penyimpanan (termasuk menyimpan badan di malam hari). Pembagian bangunan dari irisan/potongan bangunan Nusantara juga bukan terdiri dari kepala-badan-kaki, melainkan terdiri dari atap-bilik-kolong. Bila antara bilik dengan muka tanah ada geladak, maka pembagiannya menjadi atap-bilik-geladak-kolong. Dengan kelembaban maka ketropikan di Nusantara menjadi berbeda dari ketropikan di Afrika, misalnya. Daerah-daerah yang bertropik-lembab tentu tidak hanya Indonesia. Malaysia dan Philipina, juga segenap daerah kepulauan di Amerika Tengah adalah daerah-daerah yang beriklim tropik lembab. Di segenap tempat tadi, beranda atau kolong dan ruangan berdinding tertutup memang menghadirkan diri, sekaligus mendapat pendayagunaan yang serupa dengan yang di Nusantara. Yang menjadikan berbeda dari Nusantara adalah dalam bentukan atap bangunan. Sebagian banyak bangunan di Amerika Tengah adalah bentukan atap pelana atau atap perisai; sedang yang di Malaysia dan Philipina umumnya serupa dengan yang ada di Nusantara, jadi cukup berragam bentukannya. Angin Kita tidak perlu menyangkal betapa pentingnya angin ini bagi pelayaran mengingat adalah angin yang seakan menjadi motor bagi bergeraknya kapal dan perahu. Dengan kemampuan berlayar par pelaut dan peniaga Nusantara hingga Madagaskar di abad-abad sebelum Masehi, tak ayal lagi pengetahuan akan pola pergerakan angin, dan sudah barang tentu pengetahuan akan arus laut yang bergantiganti sepanjang tahun, telah sangat dikuasai. Sebutan mata-angin dapat dipastikan berawal dari ihwal pelayaran, bukan dari ihwal bercocoktanam. Laut dan gunung dijadikan titik rujukan bagi mataangin itu, sehingga arah ke laut dalam mataangin orang Bali dinamakan kelod, di Madura dinamakan Laok, sedang di Jawa dinamakan Lor. Sementara itu, dalam hal menyusuri sungai, motor penggerak dari kapal dan perahu bukan angin, melainkan dayung dan keras-lemahnya arus sungai dari hulu ke hilir, dan karena itu arah hilir dan arah hulu atau udik (mudik) lebih banyak digunakan. Angin yang merupakan pergerakan udara dari dua tempat yang berbeda tekanan udaranya juga mampu didayagunakan dengan baik di daratan. Dalam keadaan normal (bukan dalam masa pancaroba khususnya), angin menjadi sumber utama bagi penyejukan udara. Angin yang berhembus dari laut akan membawa uap air dan mendatangkan udara yang lembab. Tetapi, bersamaan dengan angin yang berhembus itu, kepengapan udara dalam ruangan juga akan menjadi berkurang dengan cukup bena (signifikan). Di sini pula kolong, serambi dan beranda menjadi bagian dari bangunan yang dengan cemerlang mampu mendayagunakan hembusan angin guna menghadirkan ruangan yang nyaman (comfort). Melalui pembacaan atas asal angin berhembus, bangunan yang didirikan diarahkan agar dapat semaksimal mungkin memanfaatkan hembusan angin. Tidaklah mengherankan bila kebanyakan bangunan Nusantara didirikan dengan arah bubungan atap yang berlawanan dengan arah hembusan angin, seakan menjadi penangkap hembusan angin. Secara umum, arah hadap ke laut atau ke gunung adalah keletakan dari bangunan-bangunan Nusantara yang memakai bangun persegi empat; bangunan menjadi memanjang dan letaknya dibuat menangkap angin yang berhembus. Oleh karena itulah bangunan-bangunan di pantai utara Jawa memanjang dari timur ke barat dan menghadap ke ke laut Jawa (utara), sedang di daerah Jawa selatan, bangunan dibuat menghadap ke Samudra Hindia (selatan). Jikalau hubungan antara bangun geometrik dari denah bangunan menunjukkan adanya kaitan antara bangunan dengan arah angin, maka bangunan-bangunan dengan denah lingkaran rupanya bertempat pada daerah yang arah anginnya cenderung memutar, seperti misalnya di daerah lembah atau daerah yang dikelilingi oleh bukit. Selanjutnya, mengitari sekelompok gugus bangunan maupun sebuah gugus bangunan yang berdiri sendiri, pepohonan yang ditanam sepanjang pagar tapak lingkungan hunian serta pepohonan yang ditanam di seputar dusun diberi peran untuk menjadi pelambat lajunya hembusan angin. Dengan hembusan angin yang menyejukkan dan dengan kelembaban yang dapat ditanggulangi dengan tinggal di beranda. Serambi atau kolong, maka keberadaan bilik di dalam bangunan menjadi nyaris tak terkunjungi di siang hari. Di malam hari saja bilik-bilik itu digunakan sebagai tempat untuk tidur, untuk menyimpan badan. Kegiatan harian yang lebih banyak terpusat pada sekeliling bagian luar bangunan memberi kesempatan bagi tampang luar bangunan untuk ditangani dengan citarasa estetika dan artistika yang mempesona. Tubuh luar bangunan tidak hanya kaya dengan ukiran (dan di percandian dielokkan dengan relief-relief), tetapi juga dengan menggunakan warna yang cerah dan segar. Tidak itu saja, sosok bagian atap juga menjadi sangat berragam perupaannya. Bagian bilik dan kolong boleh saja tanpa sentuhan artistika dan estetika yang menyita perhatian, tetapi tidak demikian halnya dengan bentuk atapnya. Nampaknya, demi penandaan bagian yang terpenting dan terutama dari sesuatu bangunan Nusantara, maka bentukan atap menjadi sangat mencolok penampilannya. Kemarau dan Penghujan Iklim tropik memang bukan iklim subtropik bukan pula iklim yang empat musim. Iklim tropik hanya mengenal musim kemarau dan musim penghujan. Kalau mau dipaksakan menjadi empat musim, maka ada tambahan dua musim pancaroba, yakni pancaroba menuju penghujan dan pancaroba menuju kemarau. Salah satu pembeda mencolok antara iklim tropik dengan iklim subtropik adalah suhu udara. Bagi iklim subtropik rentang suhu udara dapat dipastikan mencakup suhu udara yang di sekitar nol derajat Celsius, sebuah suhu udara yang dalam iklim mereka berada dalam cakupan musim dingin. Suhu yang sangat rendah dalam musim dingin dengan langsung menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup manusia yang berdiam di tempat itu. Dan karena itu tidak mengherankan bila mereka mengatakan bahwa iklim adalah ancaman, bahkan ancaman yang mematikan. Artinya, suhu yang rendah berpotensi mengakibatkan kematian. Dihadapkan pada ancaman kematian ini, tak ada jalan lain kecuali harus melindungi diri dari ancaman tadi. Di situ pula lalu muncul perumusan bangunan adalah perlindungan, arsitektur adalah tempat berlindung. Sebuah tindakan berlindung adalah tindaan menyembunyikan diri, dan oleh karena itu lawan yang mengancam sebisa mungkin tidak bisa mengetahui di manakah yang berlindung itu berada. Sebuah ketertutupan di semua sisi lalu menjadi jawaban dari pihak yang berlindung. Sebuah bangunan, karena dijadikan perlindungan adalah buatan manusia yang disemua sisinya tertutup; yaitu lantai, dinding dan atap semuanya serba tertutup. Sekurangnya tiga bulan lamanya orang harus berdiam di tempat yang serba tertutup, yang serba terpisah atau terisolasi dari dan lingkungan sekitar bangunan dan dunia luar. Perasaan ketersendirian yang dialami lalu membuat penghuni bangunan empat musim ini mengenal dengan baik perbedaannya dari kebersamaan. Bagaimanakah halnya dengan iklim tropik seperti yang ada di Nusantara ini? Musim kemarau maupun musim penghujan tidak menghasilkan suhu udara yang selisihnya seekstrim seperti yang empat musim. Suhu udara juga samasekali tidak mampu menjadi ancaman bagi keselamatan hidup anak-anakbangsa Nusantara. Baik dalam musim kemarau maupun dalam musim penghujan orang tetap dapat menikmati hidup dengan busana yang hanya melingkari dari peerut hingga lutut. Terhadap terik matahari yang menyengat atau curah hujan yang demikian deras, cukuplah bernaung di bawah pohon yang sangat rindang. Kalau harus tetap melakukan perjalanan, orang Nusantara cukup memotong daun pisang atau daun keladi untuk menaungi kepala dan badan. Kalau mau mengenakan yang buatan sendiri, sebuah topi yang berdaun lebar atau sebuah payung juga sudah dapat menjadi penyelesaiannya. Dihadapkan pada keadaan yang dua iklim ini, bukan tindakan berlindung yang diperlukan, tetapi adalah tindakan bernaung atau berteduh. Dari sini tentunya sudah dapat dibayangkan bagaimanakah bangunan yang diperlukan bagi tanggapan terhadap iklim kemarau dan penghujan. Sepotong daun pisang atau keladi, sebuah topi lebar dan sebuah payung dan sebuah atap adalah tanggapan atas iklim tropik. Petikan dari naskah kuno di Jawa menggambarkan kebenaran dari hal itu “tiyang sumusup ing griya punika saged kaupamekaken ngaub ing sangandhaping kajeng ageng” – orang yang menyusup ke dalam bangunan itu dapat diupamakan dengan bernaung/berteduh di bawah pohon yang rindang. Kebutuhan utama akan bangunan dan arsitektur lalu bukan untuk dijadikan perlindungan sebagaimana dilakukan oleh bangunan di Erorika; yang dibutuhkan adalah sebuah pernaungan atau perteduhan. Arsitektur lalu bukan sebuah perlindungan; arsitektur adalah sebuah pernaungan. Itulah yang menjadi pengertian tentang arsitektur di Nusantara. Bagi kebutuhan seperti ini, yakni akan adanya pernaungan atau perteduhan, maka cukup hadirnya sebidang atap penaung atau peneduh yang menjadi jawabannya. Di depan telah dikatakan bahwa keaneka-ragaman bentukan atap itu berkaitan dengan peran penting dan terhormat dari bagian atap. Melalui peninjauan atas ketropikan yang berisi musim kemarau dan musim penghujan, tentu menjadi semakin mantap dan nyata bahwa unsur pertama dan utama dari arsitektur Nusantara adalah atap. Dengan peran dan kedudukan yang utama ini pula lalu struktur bangunan menjadikan tiang-tiang penyangga atap sebagai tiang-tiang utama. Sementara itu, dihadapkan pada musim penghujan yang basah, permukaan tanah akan dengan langsung menjadi basah bila hujan tiba. Menanggapi kepastian basahnya tanah ini, sebentang geladak dapat dihadirkan, dan merentang di atara tiang-tiang yang menopang atap. Geladak ini sudah barang tentu membentuk jarak dengan muka tanah, membentuk kolong bangunan. Lantai bangunan yang berupa geladak ini lalu bukan hadir karena takut pada binatang buas, melainkan agar diperoleh bidang yang tidak becek. Selanjutnya, melihat bahwa kolong geladak ini dapat didayagunakan pula untuk berbagai kegiatan manakala musimnya bukan musim penghujan, maka letak geladak semakin ditinggikan dari muka tanah di satu sisi, dan di sisi lain dibangun pula penopang-penopang geladak. Kini konstruksi bangunan tidak lagi hanya berupa tiang-tiang penopang atap tetapi juga tiang-tiang penopang geladak. Bangunan Kayu, Gempa dan Konservasi Perbedaan mencolok antara arsitektur Erorika dari arsitektur Nusantara dapat pula dilihat dari bahan bangunan yang digunakan. Bila kita membuka buku sejarah arsitektur Eropa kita akan melihat bahwa semenjak jaman Yunani hingga jaman sekarang ini, bahan bangunan yang dominan dipergunakan adalah bahan-bahan bangunan yang anorganik. Ini berbeda dari bangunan di Nusantara yang menggunakan bahan bangunan yang organik, seperti kayu, bambu, alangalang, rumbia dan rotan. Pemakaian bahan bangunan yang organik ini mengandung sebuah konsekuensi langsung yang tidak dapat dihindari yakni aus dan lapuknya bahan itu dalam jangka waktu yang tertentu. Alangalang dan rumbia akan menjadi bahan yang paling cepat aus dan lapuk, kemudian disusul oleh bambu dan rotan, dan akhirnya kayu yang dipakai untuk tiang, balok dan bilah lantai serta bilah dinding sebagai yang paling lama mengalami keausan dan kelapukan. Bila ketiga jenis bahan itu dipakai bersamaan di sebuah bangunan, maka akan terjadi saat aus dan lapuk yang berbeda. Untuk mempertahankan bangunan agar tetap dapat didayagunakan, sudah barang tentu dituntut adanya penggantian bahan bangunan. Tuntutan seperti ini dengan langsung berkaitan dengan konstruksi yang digunakan; dituntut konstruksi yang dapat dicopot dan diganti tanpa harus merusak atau merubuhkan seluruh bangunan. Konstruksi ikat konstruksi cathokan serta konstruksi purus dan lubang adalah yang jitu. Di depan telah ditunjukkan bahwa arsitektur Wae Rebo yang hanya bermodalkan konstruksi ikat dapat menghadirkan diri sebagai bangunan yang seukuran bangunan setinggi lima lantai. Sebuah keberhasilan yang luar biasa! Tidaklah mengherankan bila para pendatang Eropa geleng-geleng kepala dan terkagum-kagum menyaksikan kehebatan bangunan Nusantara yang samasekali tidak menggunakan paku tapi bisa berdiri dengan kokoh. Pemakaian paku dalam mengkonstruksi bangunan juga memperlihatkan perbedaan yang besar dari konstruksi yang tanpa paku. Bangunan yang tidak menggunakan paku akan menghasilkan konstruksi yang masih bisa bergoyang-goyang. Kemungkinan bergoyang ini ditopang pula dengan penggunaan alat yang belum memungkinkan untuk menghasilkan presisi yang tinggi, misalnya pada sambungan antara tiang dengan balok. Lubang pada tiang yang akan dimasuki oleh purus balok bisa saja satu atau dua sentimeter lebih longgar dari ukuran purus balok. Secara keseluruhan, konstruksi yang digunakan di arsitektur Nusantara menghasilkan bangunan yang bisa bergoyang-goyang. Bahkan, keadaan yang paling stabil dan kokoh dari bangunan di Nusantara itu akan dicapai bila bangunannya sedikit miring, tidak tegaklurus terhadap tempatnya berdiri. Dengan adanya kesempatan bagi bangunan untuk bergoyang ke sisi yang satu di saat yang tertentu, lalu bergoyang ke sisi lain dalam kesempatan yang berbeda, maka bangunan Nusantara ini lalu menjadi tak ubahnya dengan sebuah gubahan yang ‘hidup’, mengingat salah satu dari ciri dari keadaan yang hidup adalah adanya gerakan dari obyek bersangkutan. Di sini pula pengertian dari pengurip, penghidup, yang ada di sejumlah arsitektur anakbangsa Nusantara itu mendapatkan penjelasannya. Dengan menamakan konstruksi di Nusantara ini sebagai konstruksi goyang (sebagai lawan dari konstruksi mati, sebutan bagi konstruksi yang menggunakan paku), kehandalan dari arsitektur Nusantara menjadi semakin terbukti bila dihadapkan dengan gempa. Gempa yang merupakan gerakan bumi secara tiba-tiba, dapat berupa gerak yang horisontal dan dapat pula hadir dalam gerakan yang vertikal. Dengan penerapan konstruksi goyang, saat gempa menerpa, bangunan dengan nikmat mengikuti saja irama dari gempa, apakah horisontal ataukah vertikal, ataukah keduanya secara bergantian atau bersamaan. Pada sebagian banyak bangunan Nusantara yang keletakannya tidak dilakukan dengan menanam tiang ke dalam tanah, maka dapat saja terjadi bangunan akan terguling dan tergolek di tanah di saat gempa berlangsung; bangunan samasekali tidak remuk seperti yang selalu terjadi pada bangunan tembok dan beton. Di sini sebuah kecemerlangan pengetahuan konstruksi telah ditunjukkan dan dibuktikan oleh bangunan Nusantara, yakni penerapan konstruksi goyang. Gerakan konservasi adalah gerakan melestarikan bangunan agar mampu bertahan dalam perubahan waktu (dan ruang). Bagi dunia Erorika, konservasi dengan mempertahankan keaslian bangunan dapat dijalankan dengan tak banyak kesulitan. Maklum, bahan-bahan bangunannya sebagian terbesar adalah bahan bangunan yang anorganik. jikalau harus melakukan penggantian bahan, itu dapat dilakukan dengan harus tetap mengkuatirkan konstruksi dari bangunan. mencopot satu bata atau batu bisa saja mengakibatkan runtuhnya bangunan. Keadaannya akan sangat berbeda bagi konservasi di arsitektur nusantara. Hampir seluruh bangunan Nusantara dalah bangunan kayu, bangunan dengan bahan bangunan yang organik. Naluri dasar dari setiap bahan bangunan organik adalah mengalami penuaan, lapuk dan runtuh. pemikiran untuk mendapat bangunan yang mampu berusia ratusan tahun tentu tidak ada dalam pemikiran arsitektur Nusantara. yang ada ialah bangunan yang harus bisa mengalami penggantian bagian bangunan yang lapuk atau aus tanpa harus mengakibatkan bangunan runtuh. Atau, kalau memang harus mengganti seluruh bahan bangunannya, maka membuat bangunan baru yang sepersis mungkin dengan yang sudah tua dan aus adalah penyelesaiannya. Dengan demikian, konservasi di Nusantara adalah pelestarian yang mengharuskan penggantian. Bongkar dan ganti dengan yang persis dengan yang dibongkar, itulah tindakan konservasi yang berlaku di Nusantara. Arsitektur Nusantara Pencermatan atas arsitektur anak-anakbangsa Nusantara yang saya lakukan di depan bertitik-tolak atau berlandasan pada kenyataan geoklimatik Indonesia. Kenyataan ini dengan langsung menjadikan adanya keniscayaan akan adanya perbedaan dari kenyataan geoklimatik Erorika. Pengertian atau perumusan Erorika yang menjadikan arsitektur sebagai perlindungan lalu menjadi berbeda dari pengertian dan perumusan yang digunakan di Nusantara yakni arsitektur sebagai pernaungan atau perteduhan. Dalam hal arsitektur sebagai perlindungan bagian lantai, dinding dan atap adalah mutlak untuk hadir di bangunan, tidak demikian halnya dengan di Nusantara karena hanya memutlakkan hadirnya atap serta menganjurkan adanya geladak. Selanjutnya, jikalau paparan itu dicermati, maka ihwal adat, sistem kepercayaan dan pandangan dunia (worldview), serta budaya dari anak-anakbangsa Nusantara, hampir-hampir tidak terikutkan dalam memunculkan pengertian sebagai pernaungan atau perteduhan. Dalam tulisan-tulisan saya yang lain, ihwal-ihwal itu saya cermati sebagai keping-keping perekam pengetahuan tentang arsitektur, bukan sebagai sistem budaya yang dicerminkan oleh arsitektur. Sikap saya yang menempatkan segenap ihwal itu sebagai keping rekaman pengetahuan saya dasarkan pada kenyataan bahwa anakbangsa Nusantara ini mewariskan pengetahuannya tidak dengan menggunakan tulisan, melainkan dengan menggunakan segenap ihwal tadi. Masyarakat Nusantara adalah masyarakat yang bertradisi tanpatulisan; dan ini berbeda dari masyarakat Erorika yang bertradisi tulisan. Dengan tatapikir (mindset) tradisi tanpatulisan ini pula saya misalnya saja, memahami upacara pemasangan kuda-kuda dan bubungan atap di Jawa adalah sebuah bentuk pemeriksaan dan pengujian kehandalan konstruksi kuda-kuda. Selamatan yang diselenggarakan sebelum pemasangan kuda-kuda itu adalah sebuah wujud pengupahan tenaga kerja yang dirupakan sebagai barter antara tenaga dengan makanan yang disajikan. Dari pencermatan saya di depan, kita menjadi memahami betapa mengagumkan kecemerlangan pengetahuan anakbangsa Nusantara ini di bidang arsitektur, dan oleh karena itu samasekali tak dapat dikatakan sebagai sebuah genius loci atau kearifan lokal (local wisdom) sebab kedua sebutan itu berlatarbelakang Erorika sebagai inti dan sebagai yang unggul, sedang di luar Erorika adalah tak ubahnya dengan ‘antah berantah’. Sebagai pengganti kedua sebutan itu, saya menggunakan sebutan cerlang-tara, yang adalah singkatan dari kecemerlangan Nusantara. Di bagian awal dari paparan saya ini saya menjanjikan untuk menunjukkan bahwa arsitektur Nusantara itu berbeda dari arsitektur tradisional. Kiranya, melalui pasal yang terakhir ini kita semua telah dapat mengetahui bahwa arsitektur nusantara itu berbeda dari arsitektur tradisional. Arsitektur Nusantara mendasarkan pemahamannya atas arsitektur anakbangsa Nusantara pada pertama, kenyataan geoklimatik (kepulauan dan tropik lembab) serta yang kedua adalah kenyataan tradisi tanpatulisan. Di sini ihwal adat hingga upacara dan artefak menjadi rekaman-rekaman pengetahuan arsitektur. Sementara itu, arsitektur tradisional mendasarkan pemahamannya pada arsitektur sebagai cerminan budaya/kebudayaan, sebuah dasar yang tanpa disadari ternyata adalah ranah kajian budaya dan antropologi. [Surabaya, juni 2010]

Makna Ruang Terbuka

RUANG TERBUKA
Kita sering melihat anak-anak kecil bermain diarea-area sempit antara ruangan-ruangan gedung atau bangunan. Bahkan kita juga menyakasikan riang nya mereka berlarian dia pinggir jalanan depan rumah kita. Jalanpun sudah menjadi suatu ruang public yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana penunjang transportasi namun juga berfungsi sebagai tempat untuk sarana bermain anak-anak. Bahkan orang-orang dewasapun menggunakan untuk saran tempat permainan olahraga seperti badminton atau sepak bola.
Kenyataan tersebut memberikan gambaran kapada kita semua bahwa tempat-tempat untuk mengadakan sosialisasi diri terutama untuk bermain dan berkumpul semakin menjadi sesuatu yang langka atau susah didapat. Kondisi tersebut paling sering kita temukan diwilayah perkotaan dengan tingkat kepadatan yang tinggi. Tempat tempat bersosialisasi cenderung membentuk suatu komunitas yang ekslusif. Segmentasi berdasarkan capital sudah menjadi barang yang umum untuk dinikmati. Permainan dan tempat untuk menikmati sistim hubungan social dan orientasi secara horizontal dengan personal lainnya sudah harus dilakukan dengan mengeluarkan sejumlah financial. Ukuran-ukuran hubungan social menjadi semakin materialistic tanpa didasari naluri dasar manusia untuk mengenali masing-masing individu dalam tingkat yang alami. Tempat bermain dalam bentuk ruang terbuka dalam suatu komunitas kawasan dengan gambaran alami untuk mengadakan sosialisasi menjadi sesuatu yang sangat jarang kita temukan. Mungkin dibenak kita sekarang muncul beberap pertanyaan yang menggelitik, kenapa kondisi tersebut muncul ?
Diera tahun 90-an kita masih dapat melihat adanya ruang-ruang lebar yang muncul dalam setiap komunitas hunian masyarakat. Dengan suatu penataan yang mengharapakan adanya kondisi ideal dalam berkomunikasi secara horizontal maka muncul ruang-ruang terbuka yang berfungsi sebagai sarana untuk bermain atau berkegiatan lainnya. Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang pesat sekali tanpa ampun lagi pengorbanan dari ruang ruang terbuka tersebut menjadi sangat besar. Setiap jengkal tanah yang masih kosong menjadi sesuatu tambang emas yang harus diperebutkan. Apakah memang diperlukan dalam setiap komunitas social tersebut terdapat ruang terbuka yang dapat berfungsi sebagai ruang bermain ?

Naluri Berkumpul
Dalam sistim social masyarakat dapat dipastikan manusia pada dasarnya selalu ingin dapat berintaraksi dengan individu diluar dirinya sendiri. Kondisi tersebut merupakan keinginan dasar secara alami yang mungkin harus terpenuhi. Manusia juga memerlukan orientasi terhadap orang sehingga seseorang dapat mengukur keberdaan dirinya dalam suatu derajat eksistensi tertentu. Bertolak dari nilai-nilai tersebut seseorang dapat mengembangkan dirinya, memperkaya eksistensinya baik secara fisik maupun psikis sehingga terjadi suatu kondisi yang yang lebih beradab dan bermartabat. Dalam melakukan perwujudan tatanan social seperti itu dipersyaratkan adanya suatu wadah social yang dapat menampung aktifitas-aktifitas yang dilakukan secara komunal bagi kelompok masyarakat tersebut.
Kelompok masyarakat yang berkumpul tentunya akan membuahkan suatu organisasi tempat dalam suatu dimensi tertentu. Dimensi tersebut sering kita memberikan nama ruang.

Wadah Kegiatan
Dalam suatu kegiatan atau aktifitas manusia selalu dibutuhkan yang namanya ruang. Ruang merupakan bagian dari dunia yang kita tempati ini diluar bneda-benda fisik yang ada. Kita selalu berhadapan dengan ruang umum yang menjadi tempat kita dalam berkatifitas mengikuti sistim masyarakat. Ruang menjadi sesuatu yang tidak dapat kita tolak keberadaanya dalam melakukan aktifitas. Dengan kata lain bahwa setiap kegiatan manusia selalu membutuhkan ruang.
Kegiatan-kegitan dalam kerangka komunitas kecil kita menjumpai dan melakukan dalam organisasi masyarakt yang lebih yaitu rumah kita sendiri. Didalam rumah segala aktifitas ditampung dengan merencanakan adanya ruang keluarga, ruang tamu, ruang tidur, dapur, dan lain-lainnya. Setiap kegiatan ditampung dalam volume tempat yang mempunyai jenis ukuran yang berbeda. Pemenuhan tempat terhadap setiap aktifitas merupakan sarana social dalam memenuhi kebutuhan eksistensi dan orientasi komunitas tersebut.
Jika kita analogikan dalam konteks yang lebih luas, proses tersebut juga dilakukan dalam komunitas sebuah kawasan perumahan. Setiap kelompok akan membutuhkan tempat untuk melakukan aktifitas aktualisasi dengan ruang ruang umum. Ruang-ruang umu tersebut akan menjadi tempat dalam proses social secara keseluruhan.
Sebagai wadah untuk melakukan ktifitas tertentu konsekuensinya dipastikan akan mempunyai proporsi dan skala dari kapasitas ruang tersebut.dalam suatu komunitas yang perumahan yang sangat besar sudah barang tentu akan mebutuhkan perbandingan ruang yang besar pula. Besar dari ruang teresbut sangat tergantung dari jumlah pengguna atau rasio dari penduduk perumahan tersebut.
Sebagai tempat berkegiatan tentu menyangkut persoalan ukuran-ukuran fisik yang dapat dipakai dalam kegiatan atau aktifitas. Kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan dalam ruang tersebut tentu akan sangat mempengaruhi terhadap bentuk ataupu kebutuhan luasan ruang tersebut. Ruang-ruang terbuka yang luas sudah barang tentu akan dapat dipakai untuk beraktifitas dengan mobilitas pergerakan yang tinggi.

Fungsi Penyangga
Kita ketahui kota Surabaya prosentase ruang untuk menampung serapan air sudah sangat sedikit. Sebaliknya kepadatan penduduk baik yang menetap maupun tidak menetap berbanding terbalik. Ruang ruang terbuka sebenarnya mempunyai peranan jauh lebih besar. Sebagai permukaan diatas bumi yang masih berkomunikasi langsung dengan udara langsung, ruang ini melakukan fungsi sebagai aksesibitas bagi lalu lintas air hujan yang jatuh menujun serapan bumi. Sehingga ruang ini memberikan dukungan bagi proses keseimbangan siklus air mulai dari penguapan, menjadi awan, kemudian jatuh ke permukaan tanah menjadi air hujan yang diserap kembali kedalam tanah. Dari air tanah tersebut eksploitasi dilakukan oleh semua makhluk hidup untuk keperluan minum, pertumbuhan tanaman, dan semua kepentingan diatas permukaan tanah. Secara logika semakin sedikit permukaan tanah yang terbuka untu berhubungan langsung dengan udara bebas semakin sedikit pula pintu-pintu aliran air menuju ke dalam tanah.
Jelas bagi kita sebenarnya fungsi ruang terbuka hijau tersebut selain untuk keperluan aktifitas fisik bagi manusia juga berfungsi sebagai pengendali akan siklus pergerakan penyediaan air tanah bagi kehidupan. Dengan terpeliharanya siklus berarti juga terpelihara ketersediaan air tanah sebagai penyokong keberlanjutan lingkungan.

Beberapa argumentasi diatas sebenarnya merupakan sebagian dari pembuktian kegunaan dari ruangruang terbuka. Penting sekali untuk memahami ruang terbuka dari berbagai fungsi kegunaannya bagi lingkungannya. Persoalan yang mungkin perlu kita pertajam penyelesaiannya adalah bagaimana menghadirkan ruang-ruang terbuka tersebut dalam suatu penataan yang baik dan optimal. Kita harus memperhitungkan komposisi yang baik dalam perbandingan antara kepadatan lingkungan dengan ruang terbuka yang akan dihadirkan.

Sensasi kebebasan ruang
Ruang terbuka sebenarnya secara tidak kita sadari mempunyai efek psikologis terhadap proses penikmatan ruang. Jika kita berada dalam ruang sempit akan terasa berbeda dengan perasaan kita pada waktu berada dalam ruangan terbuka. Kemampuan indera kita untuk mengubah perasaan kita melalui perbedaan sensasi dalam hal penikmatan ruang, memberikan potensi untuk dapat memanipulasi perasaan kita. Dengan adanya perasaan yang lebih nyaman, bebas, lepas dari penat dalam menikmati ruang terbuka menjadi alas an utama bagi kita untu membentuk ruang terbuka berupa taman-taman dalam rumah atau berupa ruang terbuka ditengah-tengah massa bangunan.
Secara ekstrim kita akan melihat perbedaan secara psikologis dari hunia penjara dengan hunian normal. Orang yang menghuni penjara akan lebih cenderung tertekan daripada orang yang menempati ruangan normal. Teori ini juga dapat kita analogkan dengan kondisi permainan ruang-ruang terbuka diantara ruang-ruang yang rapat. Karena nilai kenikmatan yang lebih besar inilah kita dihadapkan pada komersialisasi bagi rumah-rumah yang berada dekat ruang terbuka dalam suatu kawasan perumahan. Jika anda akan membuat konfigurasi ruang mungkin ada perlunya untuk memperhitungkan teori tersebut.

Ber-Imajinasi dengan Tanah Toraja ; Berani ?

Sebuah usaha yang ingin menembus batas keraguan terhadap tradisi yang melekat.

Karya Perancangan Mahasiswa : Mendekati Sebuah Karya Melalui Bahasa Tradisi

Karya dari mahasiswa arsitektur UPN Veteran Jatim

Pemrograman Arsitektur

Apakah

Pemrograman Arsitektur?

 

Tulisan ini tentang Perancangan arsitektur. Bagian awal dari proses desain adalah pemrograman[1]. Tulisan ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin melakukan perograman arsitektur dan ingin mengetahui lebih jauh tentang pertanyaan yang benar dalam waktu yang tepat.

 

Definisi

Kamus Webster (1966) Mendefinisikan program sebagai “perencanaan prosedur”. Pemrograman arsitektur adalah proses pengaturan informasi sehingga informasi yang benar dapat secara tepat posisinya dalam proses desain dan keutusan yang tepat dapat dilakukan untuk mempertajam hasil dari desain bangunan tersebut.

Pemrograman merupakan proses kreatif secara terstruktur terhadap harapan, keinginan, dan hasrat dari wujud bangunan nantinya.

Pemrograman juga merupakan perencanaan prosedur dan organisasi dari semua bagian sumber daya[2] sudah tentu untuk membuat desain dalam suatu kontek dan persyaratan yang spesifik.

Pemrograman adalah pengumpulan, pengorganisasian, analisa, peng-interpretasi-an, dan pemaparan dari informasi yang relevan untuk proyek yang didesain.

Untuk memudahkan pemahaman beberapa aktifitas tersebut maka pemrograman dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :

  1. Analisis dari kondisi eksisting, yaitu analisa site, profil pengguna, kode, batasan dan iklim.
  2. Proyeksi masa depan, yaitu beberapa criteria desain yang harus dipertemukan atau diselesaikan agar supaya cocok dan termasuk disini adalah misi, tujuan, konsep, dan persyaratan tampilan(performance).

 

Saya juga menyodorkan penggunaan isu desain sebagai alat penyaring untuk berbagai informasi atau data tentang kondisi eksisting dan sebagai topic untuk membangun tujuan, persyaratan tampilan dan konsep yang dibuat untuk membuat  penjelasan kondisi masa depan.

Isu desain adalah pendifinisian sejauh mana wilayah garap dari permintaan dari tanggapan desain.

 


[1] di Inggris disebut dengan istilah ‘briefing’

[2] Staff, information, budget, dll.

MENYATU DENGAN ALAM

Anggapan umum

Sebagian besar pemilik rumah menganggap rumah merupakan ruangan yang tidak lebih sama dengan ruangan diluar rumah. Hal tersebut muncul dari anggapan bahwa ruangan di dalam rumah hanya dibedakan oleh jajaran dinding-dinding yang melingkupinya. Lao-tsu memberikan nama ruangan ini adalah ruang tektonik. Lepas dari istilah apapun yang diberikan, kita dapat melihat bahwa keinginan pengguna dalam hal ini pemilik rumah sempai dengan saat ini telah mengalami perkembangan yang menuntut kualitas ruang yang lebih baik. Ruangan tidak hanya sekedar membatasi alam ini dengan dinding-dinding secara privasi, namun bagaimana ruangan yang kita buat tersebut menjadi bagian kesenangan pemakai dalam menikmati keindahan.

30Kita sudah tidak heran lagi jika terdapat pembedaan tekstur dinding dalam satu fungsi ruangan. Satu ruangan bisa saja terdapat warna yang berbeda antar dindingnya. Hal tersebut untuk mengejar kepuasan akan estetika ruang yang lebih dinamis. Kualitas-kualitas ruang tertentu juga berusaha ditampilkan sseseorang dengan beberapa teknik  dan cara yang berbeda.

Kualitas-kulaitas ruang yang ingin dihadirkan secara keselurhan dapat kita identifikasi dalam tampilan rumah secara total.Keinginan kualitas ruang ini juga muncul saat ini pada waktu seseorang iingin membangun sebuah rumah. Tak terbatasi dengan berapa luasannya kualitas ruangan dapat dimunculkan sesuai kemampuan kita.

Harapan dan keinginan sebagian orang terhadap rumahnya

Beberapa orang menginginkan suasana pegunungan dirumahnya. Sebagian lagi mengharpkan ingatan dan kenangan didesa sewaktu kecil dapat terbawa kedalam tempat tinggalnya sekarang. Semua arapan tersebut dapat terwujud dengan mengatur benda-benda fisik yang terdapat dilingkungan kita. Bahkan tidak menutup kemungkinan untuk membawa kenangan (apapun) kita pada suatu tempat kedalam lingkungan tempat yang kita tinggali sekarang ini, tentunya dengan syarat indera kita masihdapat berfungsi normal untuk menikmati keindahan ruangan. Bagaimana caranya untuk mengatur ruangan kita agar dapat membangkitkan hasrat dan keinginan akan kualitas ruangan tertentu ?

 

RUANG TERBUKA

Syarat dan Teknik pemasukan ruang luar ke dalam rumah

Banyak cara sebenarnya untuk memindahkan suasana ruang luar  kedalam ruang dalam. Dari aspek pembentukan ruang kita harus memperbanyak perhubungan ruang antara ruang dalam dan ruang dengan cara antara lain, memperbanyak ruang-ruang taman yang berhubungan dengan udara luar ditengah-tangah bangunan rumah. Dalam teknik ini biasanya diwujudkan dengan adanya taman-taman diantara fungsi-fungsi ruang. Besarnya proporsi ruang-ruang terbuka tersebut sangat mempengaruhi kualitas kedekatan ruang luar dan ruang dalam. Bahasa umumnya  adalah memperbanyak taman-taman terbuka diantara ruangan.

Memperbanyak dinding transparan yang secara visual juga merupakan teknik yang dapat diterapkan untuk menghubungkan ruang dalam dan ruang luar. Jika dalam teknik sebelumnya kita menghubungkan secara langsung, dalam teknik ini kita menghubungkan dengan bidang transparan sehingga hanya dapat dinikmati secara visual namun secara fisik ruangan terpisah. Kualitas hubungan ruang juga tergantung dari besarnya bukaan transparan yang terdapat dalam bidang-bidang pemisah. Semakin banyak kita membuat pembatas ruang dengan bahan kaca, maka kualitas ‘kedekatan ruang’ akan semakin besar.

UNSUR MATERIAL

Sering kita melihat pada rumah-rumah sekarang pemilik rumah menghendaki adanya permainan material termasuk disini batu alam. Sebenarnya kita ingin memperoleh ‘kesan suasana’ yang dimunculkan oleh material tersebut, bukan hanya keindahan tanpa sebab. Namun ketidaksadaran akan ilmu estetikanya maka orang lebih cenderung hanya berperilaku meniru sesuatu. Jika kita memahami teknik pembentukan suasana maka kita sangat leluasa untuk mengatur ‘suasana panggung’ rumah kita. Masing-masing ruangan mungkin akan berbeda suasana yang ditimbulkan sesuai dengan pemakai ruangan.

Dalam susunan material bangunan bambu, batu-batu kali yang berserakan ditaman belakang kita akan memberikan dampak kesan ruangan yang organic, alami , mengingatkan akan suasana ruangan etnik di desa. Tekstur merupakan bentuk fisik dari material alam. Susunan material alam dalam suatu kelompok hamparan juga merupakan tekstur alam. Bahan-bahan penyusun dari unsur-unsur pembentuk ruang mempunyai pengaruh besar terhadap kesan ruang yang dibentuk.

Mungkin kita akan muncul pertanyaan dipikiran kita bahan yang bagaimana yang dapat memunculkan kesan ruang ? Setiap material atau bahan alam mempunyai habitat asli tempat material tersebut biasa berada. Seperti batu kali yang sering kita temukan di sungai-sungai di desa. Demikian juga dengan bambu yang sering kita temukan dialam terbuka pedesaan. Batu-batu alam di daerah pegunungan juga menjadi salah satu pilihan untuk membangkitkan kesan ruang tertentu seperti batu alam dari Jember, Malang, Cirebon, Palimanan. Masing-masing mempunyai karakter dan tampilan tekstur yang unik.

Kesederhanaan dalam artian polos terhadap tekstur sesungguhnya dapat memberikan efek ruang etnik seperti tampilan batubata tanpa plester. Dinding pembatas dengan bahan bamboo atau kayu dapat membuat kita terasa dekat dengan alam. Udara yang dihirup akan terasa beda dengan pembatas kayu dan alas tikar.

Pada prinsipnya bahan-bahan yang berasal dari alam secara umum akan  memberikan kesan alami.

 

TANAMAN

Sebagai salah satu pengisi ruang, tanaman akan mempengaruhi kesan, jika penempatan , jenis , komposisi jumlahnya diatur dalam kualitas tertentu. Tanaman akan memberikan kesan sejuk dengan warna-warna alam. Tanaman rambat akan mudah bergabung dengan dinding berlapis batu alam. Beberapa jenis tanaman dapat dipilih sesuai karakter tanaman tersebut. Terdapat tanaman air, tanaman rambat, tanaman dalam pot kering. Susunan dari tanaman tersbut sangat mempengaruhi kualitas ruang yang kita bentuk. Posisi tanaman yang berada diatas posisi pandang manusia akan memberikan kesan kuat terhadap pemasukan kesan alam kedalam ruang kita. Apakah anda pernah memasukkan pot-pot tanaman kecil anda ke dalam ruangan ? jika pernah berarti anda juga telah melakukan usaha untuk memasukkan suasana alam kedalam ruangan melalui elemen tanaman. Teknik merupakan teknik paling mudah untuk mewujudkan keinginan kesan alami.

 

UNSUR AIR

Satu bahan alam lagi yang perlu dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam pembentukan kesan ruang alami adalah adanya unsure air. Air sebagai nyawa kehidupan ala ini menjadi elemen yang penting untuk ditampilkan dalam komposisi sebuah ruangan. Gerakan-gerakan air yang mengalir akan lebih memperkuat kehadiran ‘roh alam’.

Biasanya kita akan menjumpai kolam-kolam kecil di taman kita, secara tidak tidak sengaja kita sedang menghidupkan alam kecil yang kita buat. Aiar bukan saja sekedar pengisi lubang, namun menggerakkan suasana ruangan.


SKY CITY 1000 ; Amazing Buildings of the Future

In 1989, the Takenaka Corporation pitched Sky City 1000 as a solution to Tokyo’s land crunch. This 3,281-foot tower will accommodate approximately 36,000 full-time residents and 100,000 workers. Residents will live in the side pillars and 14 dish-like plateaus will fill the tower centers with foliage.sky_city

Why It’s Awesome: As you know, Japan has a problem with space. And we aren’t talking about Mechagodzilla constantly coming down to Earth and stomping the Harajuku. Japan has the highest land prices on the planet. Although Sky City 1000 is a pricey endeavor, a bulk of its expenses will be land costs. By smooshing the population of a small town into a structure three times taller than the Eiffel Tower, the builder can preserve greenspace and save enough yen to later retrofit the place with holodecks.sky_city2

Merangkai Tradisi dalam Permainan Baru

7568910

Building Envelope

The building envelope is a critical component of any facility since it both protects the building occupants and plays a major role in regulating the indoor environment. Consisting of the building’s roof, walls, windows, and doors, the envelope controls the flow of energy between the interior and exterior of the building. The building envelope can be considered the selective pathway for a building to work with the climate-responding to heating, cooling, ventilating, and natural lighting needs.

This section includes:

For a new project, opportunities relating to the building envelope begin during the predesign phase of the facility. An optimal design of the building envelope may provide significant reductions in heating and cooling loads-which in turn can allow downsizing of mechanical equipment. When the right strategies are integrated through good design, the extra cost for a high-performance envelope may be paid for through savings achieved by installing smaller HVAC equipment.

With existing facilities, facility managers have much less opportunity to change most envelope components. Reducing outside air infiltration into the building by improving building envelope tightness is usually quite feasible. During reroofing, extra insulation can typically be added with little difficulty. Windows and insulation can be upgraded during more significant building improvements and renovations.

The building envelope, or “skin,” consists of structural materials and finishes that enclose space, separating inside from outside. This includes walls, windows, doors, roofs, and floor surfaces. The envelope must balance requirements for ventilation and daylight while providing thermal and moisture protection appropriate to the climatic conditions of the site. Envelope design is a major factor in determining the amount of energy a building will use in its operation. Also, the overall environmental life-cycle impacts and energy costs associated with the production and transportation of different envelope materials vary greatly.

Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 80 pengikut lainnya.