PENGELOLAAN (ELEMEN) SELUBUNG BANGUNAN DALAM KONSEP ARSITEKTUR KEBERLANJUTAN

PENGELOLAAN
(ELEMEN) SELUBUNG BANGUNAN DALAM KONSEP ARSITEKTUR KEBERLANJUTAN

OLEH

HERU SUBIYANTORO

ABSTRAK

Arsitektur ternyata merupakan bagian yang menyumbangkan perusakan lingkungan, berakibat terhadap penggunaan energi yang berlebihan. Fakta tersebut menjadikan bangunan sebagai komponen utama arsitektur mempunyai peranan yang sangat besar dalam mengendalikan lingkungan. Proses perancangan memberikan akses yang besar terhadap pengelolaan lingkungan.

Bangunan mempunyai penggunaan energi, baik yang diperlukan dari aktifitas pengguna maupun proses konstruksi dari bangunan tersebut. Mulai dari bangunan berdiri sampai dengan waktu penggunaan untuk aktifitas penghuni, kemudian untuk mempertahankan bangunan tersebut semua mempunyai keseimbangan dalam proses pengelolaannya.

Dalam makalah ini akan dibahas beberapa pemahaman tentang pengelolaan selubung bangunan untuk mendukung konsep keberlanjutan dalam penggunaan energi. Pembahasan tersebut meliputi tentang konsep keberlanjutan, bangunan sebagai bagian dari pengelolaan energi, kinerja energi elemen selubung bangunan, selubung bangunan sebagai pengendali keberlanjutan lingkungan.

  1. Pendahuluan

Isu tentang keberlanjutan sampai saat ini masih menjadi perhatian dunia, terutam bagi
negara-negara maju. Mereka lebih merasa berkepentingan dengan persoalan global dalam menyelematkan alam ini. Model pembangunan lingkungan yang berdasarkan konsep keberlanjutan menjadi salah satu konsep yang dikembangkan secara meluas, baik secara pembangunan paradigma ataupun implementatif. Banyak studi juga dikembangkan untuk lebih jelas mendefitifkan konsep-konsep tersebut. Dalam bagian awal ini akan dibahas mengenai beberapa pemikiran (notion) tentang sustainable development dan sustainable architecture.

Sustainable development merupakan sebuah konsep pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa harus mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri[1]. Definisi ini telah diformulasikan secara tegas dan jelas oleh World Comisión on Environment and Development (WCED), yang dipelopori oleh perdana menteri dari Norwegia Gro Harlem Brundtland pada tahun 1987. Pernyataan tersebut mengingatkan kepada dunia bahwa kemampuan eksplorasi energi yang kita lakukan saat ini harus mendapat perhatian secara serius agar tidak merusak lingkungan saat ini ataupun selanjutnya. Dengan terjadinya kerusakan akan menghilangkan peluang bagi generasi yang akan datang untuk melakukan pengelolaan energinya secara mandiri.

Definisi tentang ’Development’ dalam konteks ini mempunyai implikasi penting dalam dua aspek dasar , yaitu yang pertama adalah keterkaitan secara menyeluruh dalam segala bidang pembangunan tanpa dibatasi dalam satu atau beberapa bidang saja, dalam waktu yang tak terbatas, sekarang atau akan datang. Yang kedua adalah,tidak terdapat satu tujuan yang mengikat, namun lebih dipahami sebagai pembangunan yang tanpa batas waktu. Kesinambungan pembangunan itu sendiri yang menjadi tujuan utama dari pembangunan.

Pemahaman tersebut diatas didasarkan pada 2 konsep dasar :

· Konsep tentang ”needs”, menyediakan sebuah kondisi yang dapat diterima dalam tingkat standar kehidupan yang layak dari semua orang.

· Konsep tentang ”limits” dari kapasitas yang terdapat dalam lingkungan untuk memenuhi kebutuhan di masa sekarang dan masa akan datang, yang dipengaruhi oleh teknologi dan organisasi sosial masyarakat.

Konsep tentang kebutuhan dan pembatasan merupakan dua kutub yang saling menentukan tingkat keseimbangan yang terjadi dalam sebuah pembangunan. Kebutuhan dalam satu sisi merupakan proses yang cenderung tidak terkendali seiring dengan rentang waktu yang berjalan maka kebutuhan juga akan semakin meningkat tanpa batas tujuan akhir. Sedangkan pembatasan merupakan ”alat” yang dapat mengehentikan laju dari kecepatan pertumbuhan dari kebutuhan. Pengendalian laju kebutuhan menjadi angat penting dalam rangka mengendalikan siklus perbaikan kondisi keseimbangan dari suatu lingkungan.

Kebutuhan pertama yang harus dipenuh merupakan kebutuhan pokok adalah makanan, pakaian,papan, dan pekerjaan. Yang kedua, yang bersifat indvidual, dalam setiap bagian yang ada didunia adalah kesempatan untuk mencoba dan memperbaiki tingkat kehidupan diatas batas minimum yang ada.

Pembatasan bertanggung jawab dalam hal keterbatasan alam dalam aspek sumber daya alam, penuunan produktifitas yang diakibatkan oleh eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam, penurunan kualitas lingkungan dan mengembangkan metodologi yang ramah lingkungan. Untuk keberlangsungan masa akan datang , hal ini sangat diperlukan sementara kebutuhan tidak semakin turun, sedangkan sumbar daya alam semakin berkurang.

Gambaran tersebut diatas sebenarnya mengisyaratkan penyelesaian yang sangat sederhana dalam proses kebijakan politik, teknik, dan pembangunan sosial masyarakat, yang dapat dievaluasi dengan dua argumen tersebut diatas. Berbagai pembangunan sudah seharusnya membantu masyarakt untuk memenuhi kebutuhan dan juga seharusnya pula tidak memperbesar keterbatasan sumber daya alam.

METODOLOGI

Penelitian ini merupakan kajian holistik mengenai lingkungan yang berkelanjutan. Dengan melakukan pendalaman tentang konsep energi yang selama ini dipahami kemudian dilakukan komparasi dengan konsep dan isu baru, termasuk didalamnya hasil dari konferensi internasional tentang lingkungan berkelanjutan.

PEMBAHASAN

Bangunan sebagai bagian dari pengelolaan energi lingkungan

Setiap jam dalam sehari manusia berada dalam suatu ruang lingkungan arsitektural yang ditempati untuk aktifitasnya, seperti ruangan kantor, rumah, dan lain-lainya. Lingkungan arsitektural merupakan bagian kecil dari sebuah kontinum yang lebih besar sebuah lingkungan urban (urban environment). Arsitektur niscaya adalah menyangkut segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah bangunan. Bangunan merupakan bagian yang menjadi kebutuhan wajib dari manusia. Seperti dijelaskan sebelumnya masalah papan merupakan sebuah ”need” dari konsep hidup.

Jika setiap bangunan mempunyai perilaku kebutuhan energi yang spesifik, maka setiap permukaan wilayah urban ini merupakan sekumpulan partikel-partikel yang membutuhkan energi. Lingkungan urban merupakan gabungan antara aspek-aspek alam yang lebih luas antara lain hutan, sungai, gunung, desa, laut, dll. Setiap ruang dalam lingkungan merupakan bagian dari siklus keseimbangan dalam penggunaan energi. Dalam skala yang lebih luas ruang-ruang urban tersebut membentuk lingkungan regional. Jika pengelolaan skala urban masih dapat dilakukan secara sederhana, maka dalam skala regional pengelolaan sudah menyangkut kerjasama yang lebih luas.

Lingkungan regional yang paling besar dinamakan linkungan global[2]. Lingkungan global merupakan lingkungan yang mengikutsertakan semua komponen dari aktifitas kontinental dan kelautan seluruhnya dari permukaan bumi ini. Bangunan sebagai bagian lingkungan terkecil, architectural environment, mempunyai peranan besar dalam menentukan kondisi lingkungan yang lebih besar. Peranan bangunan harus selalu dilihat dalam konteks besarnya lingkungan yang dibicarakan.

Keseimbangan lingkungan menjadi sangat penting dikelola dengan baik ketika banyak aktifitas yang menunjang kerusakan kualitas lingkungan hidup. Bangunan sebagai bagian
pembentuk permukaan dari suatu lingkungan menjadi penting posisinya dikarenakan didalam bangunan tersebut juga terjadi aktifitas dari manusia sebagai pengguna energi.

Bangunan sebagai pembentuk permukaan ruang urban mempunyai bagian-bagian yang menentukan dalam mempengaruhi siklus energi secara global. Atap sebagai elemen yang paling atas merupakan bagian yang berhadapan langsung secara frontal dengan solar
radiation. Dalam makalah penelitian Marui dan Hoyano(2006)[3] digambarkan proposal mengenai city block model dan perbandingannya, yang memperlihatkan perhitungan tentang temperatr permukaan dan kalkulasi dari HIP(heat island potential). Dari hasil pengamatan menunjukkan adanya perbedaan temperatur pada bagian yang terdapat utilisasi shading dan evaporasi dan perbandingan yang cukup rendah nilai untuk bangunan dengan konsep sustainable city block.


Tabel diatas merupakan data tentang beberapa bentuk city block model yang menjadi bahan simulasi penelitian. Dari data tersebut diatas dibuat simulasi perbandingan temperatur dan HIP(grafik dibawah ini)

Dari tabel dan grafik komparsi tersebut membenarkan suatu dugaan pengaruh kuat adanya density dan konfigurasi permukaan dari sekumpulan bangunan dalam skala urban mempengaruhi adanya sistim kelola lingkungan. Jika terjadi perubahan konfigurasi dan density dari permukaan tersebut maka kecenderungan siklus energi yang bekerja pada permukaan uraban tersebut juga mengalami perubahan. Hal tersebut juga digambarkan oleh data penelitian dari Priyadarsini,Wong
dan Cheong(2006)
[4], yang menggambarkan adanya pengaruh kuat struktur permukaan (yang didalamnya terdapat aktifitas yang berbeda-beda) terhadap potensi pemanasan yang mengakibatkan energi yang beredar juga spesifik. Pada area CBD(Central Bussiness District), dengan kategori bangunannya merupakan ”high density” juga menyebabkan ”high temperature”. Kemungkinannya dikarenakan adanya penggunaan material pengaturan ventilasi yang tidak tepat dengan layout dan orientasi jalan, pengaruh penggunaan air-conditioning system. Grafik dibawah menunjukkan perbedaan tersebut.

Jika kita perhatikan lebih jauh bangunan-bangunan tersebut mempunyai pengaruh yang besar dalam proses konsumsi energi yang dilakukan dalam suatu lingkungan. Selain mengkonsumsi juga terdapat pembuangan energi yang mungkin tidak kita perkirakan dengan jelas. Hal ini pasti membuat ketidakseimbangan dalam siklus energi. Bangunan dengan bagian selubungnya berupa atap, dinding(beserta bagian-bagian yang menempati dinding seperti jendela, bukaan,dll), lantai memberikan kontribusi sendiri-sendiri dalam pengelolaan energi.

  1. Kinerja energi elemen selubung bangunan

Secara umum elemen selubung banguna sudah disinggung dalam bahasan diatas yaitu atap, dinding dan lantai. Bagian yang mempunyai variasi paling besar dalam kehadirannya adalah dinding. Dinding dalam hal ini termasuk semua bagian yang menjadi elemen penyusun dinding tersebut. Sebagai pembatas aktifitas dinding mempunyai peranan visual sampai dengan kenyamanan termal. Teori yang telah diterima tentang energi adalah adannya keseimbangan energi yang selalu mengiktui proses beraktifitas manusia. Energi tidak akan hilang begitu saja namun mengubah bentuk dalam materi yang berbeda-beda.Masing-masing lingkungan arsitektural maupun raung urban bekerja menurut sistem yang membiarkan energi berjalan masuk dan keluar melalui batas-batas sistem tersebut. Dalam lingkungan arsitektural diketahui akan teori tentang kesetimbangan termal yang digambarakan adanya energi yang dihasilkan dari penerangan, manusia, solar energi dan mekanikal. Dalam skala urban terdapat ukuran energi berupa perubahan temperatur dan juga heat Island temperature. Dalam selubung bangunan terdapat lalu lintas energi (termal)yang berjalan keluar dan masuk melewati pembatas tersebut. Beberapa jenis konsep antara lain energy, exergy dan entropy, menjadi tingkat bahasan yang menarik dalam konferensi internasional di Tokyo Jepang
tahun 2005[5].

Kualitas dari energy dan materi diekspresikan dengan konsep ”Exergy”. Konsep tersebut menggambarkan kapasitas (kemampuan) dari energi dan materi atau kemampuan penyebaran energi dalam sebuah lingkungan. Exergy secara eksplisit mengindikasikan derajat dari ”konsumsi” secara kualitatif, dimana bersamaan dengan proses penyebaran energi dan materi tersebut. enurunan secara kualitatif dari energi dan materi dalam suatu siklus aktifitas tertentu direpresentasikan dengan konsep entropy, yang mengidikasikan pernyataan tentang panas yang dibuang atau derajat hilangya energy dan materi. Bagaimana kinerja konsep exergy ini dalam pola konsumsi dari sistem pemanasan dan sistem pendinginan. seperti digambarkan dalam grafik pola konsumsi exergy antara beberapa kasus, terdapat kesimpulan sementara bahwa lebih efektif untuk memperhatikan masalah insulasi termal pada jendela kaca dan dinding luar sehingga menghasilkan peredaman panas atau pendinginan dalam exergy daripada meng-install sebuah boiler atau pompa pemanas dengan efisiensi termal yang ekstrem tinggi.

Pengembangan konsep exergy dalam perancangan arsitektur menjadi diperlukan dalam rangka untuk menekan penggunaan energi yang berlebihan dan tidak efektif[6].

  1. Kesimpulan

Dari pengembangan konsep tentang energi dan materi yang dibahas sebelumnya terlihat adanya peranan selubung bangunan(Building Envelope) dalam melakukan tugas pengelolaan energi sangat penting. Banyak makalah fokus pembahasannya pada building envelope, dengan melakukan variasi terhadap material, arah orientasi, warna susunan konstrksi, dll. Hal tersebut semata untuk mendapatkan efektifitas dalam penggunaan energi dan kenyamanan termal pada ruang dalam. Semakin luas permukaan dari bangunan akan mengakibatkan adanya media siklus energi semakin banyak. Namun dalam konsep exergy hal tersebut dapat dikendalikan dengan pengelolaan dari perangkat keras ataupun perngkat lunak. Selubung bangunan sebagai bagian dari pengedalian dari perangkat keras menjadi faktor penting untuk direncanakan sebaik mungkin

DAFTAR PUSTAKA

Olgyay, Victor. 1992. “Design With
Climate”. United Stated.Van Nostrand Reinhold.

Givoni, B. 1976. “ Man , Climate and
Architecture”.
London. Applied Science Publisher LTD.

Markus, T.A., Moriss,E.N. 1980.
”Buildings, Climate and Energy” .
London . Pitman
Publishing Limited.

Douglass, James . 2006. “Building Adaptation”
Jordan Hilll,
Oxford, UK. Elsevier Ltd.

Makalah penelitian dalam
INTA Conference 2006 , 2006 ,“Modelling of The Urban Thermal Environment of
Singapore To Mitigate Urban Heat Island”, R. Priyadarsini, N.H. Wong, K.W.
Cheong, Department of Building , School of Design and Environment National
University of Singapore.

Musashi Institute of Technology
Graduate School of Environmental and Information Studies
http://www.yc.musashi-tech.ac.jp/index.html

Shukuya laboratory http://www.yc.musashi-tech.ac.jp/~shukuya/






[1] World
Commission on Environment and Development, Our Common Future, pp. 4, Oxford
University Press, New York, 1987.

[2]
Pembagian skala lingkungan ini berdasarkan makalah laporan hasil dari “Action for Sustainability; The 2005 World Sustainable
Building Conference in Tokyo.

[3] Makalah
penelitian dalam INTA Conference 2006 ,“Proposal of Sustainability City Block
Model in Metro Manila and Simulation Analysis of Its Heat-Island Effect
Mitigation”, Motofumi MARUI , Akira HOYANO, Tokyo Institute of Technology.

[4] Makalah
penelitian dalam INTA Conference 2006 ,“Modelling of The Urban Thermal
Environment of Singapore To Mitigate Urban Heat Island”, R. Priyadarsini, N.H.
Wong, K.W. Cheong, Department of Building , School of Design and Environment National
University of Singapore.

[5] Lihat
statemen tentang “Action for Sustainability The 2005 World Sistainable Building
Conference in Tokyo”.

[6] Lihat
penerapan “exergy “ ini dalam bangunan Fukasawa Symbiotic Housing Project
melalui situs Mushasi Institute of Technology.

One thought on “PENGELOLAAN (ELEMEN) SELUBUNG BANGUNAN DALAM KONSEP ARSITEKTUR KEBERLANJUTAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s