Proses Berpikir Kreatif

Berpikir Kreatif

Banyak teknik atau cara dalam melakukan pendekatan berpikir kreatif. Teknik tersebut bergantung dengan persoalan-persoalan yang sedang dihadapi. Perancangan atau bidang desain yang lain mempunyai kaitan yang erat dengan masalah kreatifitas. Mungkin jantung atau nyawanya seorang perancang berada ditangan kreatifitas. kreatifitas menjadi bahan bakar yang dibutuhkan untuk menjalankan roda perancangan. Proses kreatif mempunyai alur sebagai berikut :

1. Formulasi Awal terhadap Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi dari sebuah obyek rancangan berbeda-beda. sehingga karena keunikan stiap maka permasalahan harus dipetakan dalam formulasi yang jelas. sehingga dalam melakukan beberapa penyelesaian dapat langsung pada titi permasalahan.

2. Beberapa Usaha sadar dalam mencari penyelesaian permasalahan

Dengan segala kemampuan dan pengalaman yang dipunyai biasanya seorang perancang melakukan persoalan-persoalan yang dihadapi. Pengalaman menjadi salah satu persoalan dari seorang perancang pemula. sebagian usaha sadar dalam menyelesaikan perancangan biasanya tidak semua dapat menjadi hal yang kreatif.

3. Masa Inkubasi terhadap peta permasalahan dan penyelesaian

Masa inkubasi merupakan situasi yang didominasi oleh proses perenungan terhadap persoalan-persoalan secara holistik. perancang akan mengembangkan kemampuan tidak sadarnya untuk menjelajah dalam dunia imajinasi seluas mungkin untuk menemukan ide-ide yang sesuai.

4. Kemunculan ide-ide secara acak dan tak terencana (mendadak)

Masa ini merupakan saat-saat dimana seseorang mengembangkan intuitifnya secara bebas. Sehingga nantinya muncul kemampuan yang tidak didapatkan dari sebuah kesadaran. Namn dalam proses ini lebih banyak mengandalkan kapasitas talenta dari seoarang perancang secara alami.

5. Membangun sebuah kesadaran dalam menyelesaikan permasalahan

Setelah masa inkubasi selesai, yang biasanya memakan waktu lama, muncul identifikasi penyelesaian konsep yang muncul secara cepat. dengan kemunculan ide-ide tersebut kemudian disusunlah sebuah rencana yang baik dan tersistem untuk keperluan dokumen yang lengkap.

Iklan

PLEA dan Arsitektur Bioklimatik (2)

Lokasi sebuah proyek arsitektur dalam skala global mempunyai koordinat tempat yang berbeda-beda diatas permukaan bumi. masing-masing tempat tersebut mempunyai koordinat latitude dan longitude yang unik. Dalam konteks tersebut perbedaan ruang dan waktu pada permukaan bumi juga mengidentikkan dengan kondisi cuaca dan iklim yang berbeda. Lingkungan tempat bangunan berada merupakan parameter yang harus dipertimbangkan dalam menyediakan kenyamanan dalam beraktifitas.

Bangunan sebagai sebuah ruang yang digunakan untuk menyesuaikan kemampuan manusia terhadap kondisi alam, mempunyai tugas melakukan akomodasi antara kebutuhan manusia sebagai pengguna dan alam sebagai tempat tinggal. Dalam batas-batas tertentu alam sangat tidak dapat ditoleransi sehingga perlu sebuah media  teknologi yang dapat menjadi penyangga kelangsungan hidup manusia.

Secara umum sumber energi utama alam yang kita terima adalah berasal dari turunan energi matahari yang berproses dan berubah menjadi bentuk-bentuk energi lain. sesuai dengan hukum kekekalan energi, bahwa energi tidak akan hilang begitu saja namun terjadi perubahan bnetuk energi dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Sebagai ilustrasi saja energi listrik yang kita pakai sehari-hari merupakan hasil dari perjalan panjang energi mekanik turbin dinamo yang diubah menjadi energi listrik. Ataupun energi angin yang memutar kincir dan diteruskan dinamo sebagai pengubah energi mekanik menjadi energi listrik.

Dalam siklus alam semesta energi secara bergantian berpindah dan berubah bentuk dari satu aktifitas ke aktifitas yang lain. Rangkaian proses tersebut mempunyai hukum keseimbangan tertentu. Keseimbangandi alam merupakan harmoni yang luar biasa.

Setiap permukaan bumi mempunyai kondisi cuaca dan iklim yang berbeda-beda, sehingga respon dari sebuah bangunan di masing-masing tempat tersebut juga berbeda. Perhatikan respon dari bangunan yang berada di daerah kutub dan daerah tropis. Masyarakat didaerah tropis pun berbeda dalam membuat hunian dari masyarakat daerah sub-tropis.

Perbedaan tersebut jika diperhatikan identik dengan posisi lokasi dari sumber energi terbesar bumi yaitu sinar matahari. Setiap perbedaan koordinat mengakibatkan perbedaan musim dan cuaca. Sehingga masing-masing tempat juga mempunyai karakteristik data iklim yang berbeda. Dalam makalah The Thermal Design of Buildings (Szokolay, RAIA Press 1987) ditunjukkan dengan mengetahui data iklimsecara menyeluruh dalam tiap jam kita mempunyai kemungkinan untuk melakukan tes secara obyektif terhadap penentuan potensi kegunaan strategi desain dari konsep passive and low energy bildings terhadap kenyamanan okupansi. Strategi ini merupakan langkah yang sangat masuk akal dalam menggunakan data iklim sebagai bagian dari proses perancangan bangunan.

Beberapa usaha yang dilakukan oleh beberapa perancang bangunan untuk menyesuaikan kemampuan alam dan teknologi dalam menyediakan fasilitas hunian, merupakan langkah-langkah yang bertujuan untuk memaksimalkan kemampuan alam. Rancangan-rancangan tersebut mempertimbangkan siklus biologis dari alam. Sehingga dalam opreasional tidak memberikan dapak kerusakan terhadap siklus alam.

Dengan merebaknya global warming maka sepatutnyalah komunitas arsitektur sebagai salah satu penentu lingkungan binaan memberikan kontribusi yang lebih tegas. (kajian-pustaka1-post)

PLEA dan Arsitektur Bioklimatik (1)

Arsitektur saat ini mempunyai beban yang agak berbeda dengan arsitektur masa lampau. alam dengan karakteristiknya berubah memaksa munculnya respon yang berbeda dari arsitektur. para perancang bangunan tidak saja dihadapkan terhadap paradigma dan parameter yang berbeda dalam menyediakan kenyamanan penghuni, namun juga teknologi yang berbeda setiap saat.

Arsitektur mencari jalan yang terbaik dalam menyeimbangkan kemampuan teknologi, alam dan adaptasi manusia. Bangunan merupakan titik pertemuan antara keinginan alam dan manusia. Optimalisasi perancangan menjadi sangat penting dengan kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan. Bangunan yang baik bukan lagi bergantung pada banyaknya AC yang bergelantungan , atau justru bangunan yang tanpa AC sama sekali. ruang dan waktu telah membentuk karakteristik bangunan pada jamannya. Pada lingkungan yang mempunyai temperatur dan kelembaban yang nyaman memungkinkan bangunan dapat menyediakan sebuah respon fisik sesuai dengan kebutuhan pengguna. sebaliknya pada lingkungan dengan temperatur yang tinggi dan kelembaban yang tinggi, potensi ketidaknyamana sangatlah tinggi. Peta ketidaknyamanan harus diperjelas agar terjadi simbiosis antara teknologi dalam membantu kenyamanan ruangan atau bangunan.

PLEA sebagai salah satu organisasi dunia merupakan tempat berkumpulnya para pakar pemerhati tentang pembatasan penggunaan energi secara berlebihan dan memanfaatkan kemampuan alam dalam menyeimbangkan energi.

kajian-pustaka-post

1st Prize Myeong-dong Original National Theater Restoration

National Theater ini diharapkan menjadi culutral interface sekaligus landmark setelah dilakukan renovasi dengan konsep restorasi. Dalam  proses renovasi terlihat akulturasi antara proses regenerasi ruang dan memunculkan raut muka budaya yang terlihat pada permukaan fasad bangunan.

Permukaan fasad bangunan mengingatkan sejarah besar yang telah berlangsung bertahun-tahun pada Myeong-dong. Dengan membuat tampilan yang lebih modern dan kekmampuan akustik dan arstistik ruang menjadikan ruang dalam bangunan jadi lebih moderen.

2nd Prize Sunchang Paste Kinds’ Museum

Obyek ini merupakan pemenang kedua dalam sebuah sayembara disain arsitektur museum di Korea. coba anda perhatikan bagaimana presentasi yang dilakukan untuk memaparkan konsep arsitekturnya. mungkin contoh ini kurang sempurna dalam membedah tektonika arsitekturnya. Namun teknik presentasinya dapat kita tiru untuk membuat konsep.

Prosedur Konsep Arsitektur

Dengan melakukan proses perancangan yang lebih tertib akan memberikan kesempatan dalam menyusun konsep yang konsisten. Konsep-konsep yang tersusun secara konsisten memberikan kemudahan dalam melakukan eksplanasi terhadap pihak luar yang ingin mengetahui dasar-dasar perancangan bangunan tersebut.

Fakta memberikan dasar terhadap persoalan-persoalan yang muncul di lapangan terhadap latar belakang kebutuhan dan kepentingan proyek tersebut dibangun. Beberapa fakta menjadi sangat menonjol peranannya dalam mengarahkan tema atau topik yang dipilih dalam sebuah proyek. Terkadang topik yang muncul dapat berlawanan atau tidak sejalan dengan kebutuhan-kebutuhan fungsional dari sebuah bangunan.

Tema atau topik dalam perancangan arsitektur mempunyai peranan penting dalam mewarnai hasil konsep dari perancangan sebuah bangunan. Topik membentuk kosmos yang akan mengatur pendekatan-pendekatan pemikiran global dari konsep-konsep turunan praktis. Topik akan memberi batasan terhadap metode pengembangan dari konsep-konsep pragmatik.

Tujuan (Goal) merupakan aspek kualitas terhadap ruang-ruang arsitektur yang akan dirancang. Kualitas-kualitas ruang yang diinginkan dalam sebuah perancangan bangunan menjadi penting karena berhubungan dengan tingkat kenyamanan ruang. Pendekatan ini tidak sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan kenyamanan ruang hunian, namun paling tidak dengan usaha pendekatan tipologi secara karakteristik fisik ruang diharapkan dapat mendekati harapan pemakai aktifitas ruang.

Perfomance Requirement merupakan rambu-rambu yang mengatur syarat tercapainya sebuah tujuan dari obyek ruang kita kerjakan. Ketika sebuah ruang dibuat, muncul sebuah harapan yang ingin dicapai, sehingga untuk mencapai harapan tersebut maka dibuatlah persyaratannya agar sesuai dengan tujuan atau harapan obyek tersebut.

Konsep (Concepts) merupakan artikulasi dari dari sekumpulan langkah tersebut sebelumnya yang dapat dijelaskan secara visual dalam sebuah struktur yang representatif. Ketika seorang perancang sudah melakukan perjalanan desain sampai terciptanya sebuah gagasan yang dapat dilaksanakan dalam sebuah pekerjaan praktis, maka ide-ide tersebut harus dapat dijelaskan dalam sebuah paparan untuk mendapatkan panduan aplikasi terhadap ide atau gagasan tersebut.

Konsep merupakan hasil berpikir sistematik yang dapat memberikan tuntutan secara prosedural terhadap sebuah pekerjaan di lapangan. Sehingga sifat dari sebuah konsep harus dapat diterima dalam sebuah kerangka aplikatif, sebab tujuan dari sebuah konsep adalah untuk menyelesaikan suatu persoalan dari fakta yang hadir sebelumnya.

Dalam arsitektur konsep menjadi sebuah pekerjaan yang sangat penting karena konsep merupakan hasil dari banyak pertimbangan yang diputuskan secara simultan. Konsep merupakan sebuah manajemen terhadap rangkaian penyelesaian secara optimal. Sehingga sebuah konsep arsitektur sebenarnya adalah proses penyesuaian (fitting) dari keputusan-keputusan penyelesaian persoalan arsitektur.

KULIAH 3

Risalah perkuliahan 3

Arsitektur Nusantara

Heru Subiyantoro

Topik :

Kosmos, Hirarki,Struktur dalam Arsitektur

Arsitektur Nusantara sebagai ’Pengetahuan’

Dalam konsep pemikiran ini Arsitektur Nusantara tidak dipahami sebagai benda yang harus disimpan dan lestarikan keberadaannya, namun lebih pada sebagai pengetahuan arsitektur. Jika konsep tersebut dipahami benar maka arsitektur sebagai pengetahuan , akan mempunyai ciri dan karakter dari pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan merupakan sesuatu yang mempunyai sifat dinamis, selalu mengalami perkembangan , penuh dengan perilaku eksplorasi, terdapat keragaman dalam interpretasi. Jika pengetahuan mempunyai perkembangan sehingga bersifat dinamis, maka pengetahuan tersebut pasti mempunyai metode umum atau cara umum untuk melalui proses berkembang. Sehingga pengetahuan mempunyai sistem yang dapat dipakai untuk melakukan pengaturan. Jika terdapat pengaturan maka akan terdapat materi-materi yang diatur. Komponen yang diatur merupakan bagian-bagian yang menjadi penyusun arsitektur. Jadi sebagai pengetahuan , arsitektur mempunyai asas dan unsur dalam proses berarsitektur.

Terdapat pembedaan antara hasil karya arsitektur dan bangunan secara umum. Kenyamanan, efisiensi dan afektivitas dan standarisasi merupakan faktor-faktor pengukuran dalam bangunan secara umum. Sedangkan kenikmatan, nilai-nilai atau makna, simbolik merupakan kompetensi hasil karya arsitektur. Jadi ukuran-ukuran yang dipakai antara arsitektur dan bngunan secara umum secara jelas berbeda konteksnya.

Perspektif, Konteks, Faktor, dan Unsur.

Dalam setiap bahasan arsitektur selalu mempunyai perspektif, konteks, dan unsur yang berbeda-beda. Hal tersebut memberikan peluang kekayaan terhadap fenomena-fenomena dalam arsitektur. Sudut tinjauan dapat dibahas dalam banyak cara sehingga memungkinkan keluasan bahasan dalam arsitektur. Secara prinsip arsitektur membawa manusia dan kebudayaan menuju lingkungan binaan. Berbeda dengan disiplin antropologi manusia dan budaya sebagai obyek yang dipahami hasil dari lingkungan binaan. Sebagai subyek dalam perspektif arsitektur manusia dan budaya merupakan komponen aktif yang akan mewarnai setiap nilai kehidupan.

Arsitektur sering dipahami dalam ruang lingkup yang berbeda-beda bagi setiap individu. Hal tersebut bukanlah suatu kesalahan sebab kondisi tersebut dipahami sebagai kekayaan dalam berkarya. Rentang pemahaman atau tinjauan diatas dikarenakan konteks atau ruang lingkup yang dipunyai masing-masing metode tidak dalam wilayah yang sama.

Sudut pandang yang berbeda menghasilkan konteks yang berbeda pula. Tentunya karena sudut pandang dan kontek yang berbeda tersebut mempunyai sekumpulan faktor dan unsur yang berlainan. Kumpulan faktor dan unsur tiap konteks dan sudut tinjau merupakan sekumpulan faktor dan unsur yang berkepentingan dalam menentukan nilai dari karya tersebut.

Arsitektur-Manusia-Iklim

Arsitektur sebagai subyek dalam membentuk lingkungan terkait dengan msalah bagaimana arsiktektur tersebut mempengaruhi manusia sebagai pemakai. Arsitektur sebagai hasil karya akan memberikan sumbangan terhadap pembentukan perilaku dan pandangan manusia terhadap alam dan lingkungannya. Dalam tinjauan lainnya bagaimanakah arsitektur dapat memanfaatkan iklim(lingkungan). Salah satu alat ukur untuk sebuah hasil karya arsitektur adalah sejauh mana kemampuan arsitektur tersebut dapat mempengaruhi manusia dan dan memanfaatkan iklim sehingga memperoleh kenyamanan.

Setting of Nusantara Architecture

Ruang lingkup arsitektur nusantara dipahami dalam konteks nusantara sebagai tanah air daratan dan lautan.Kekayaan akan hutan alam memberikan ciri khas arsitektur nusantara penuh dengan ide-ide material dan konstruksi dari kayu. Posisi tersebut memberikan pengaruh terhadap kemahiran terhadap sikap yang selalu mementingkan kelestarian alam. Memberikan penandaan terhadap suatu tempat merupakan kemahiran yang tumbuh dari kedekatan dengan alam. Dalam hal pembuatan tempat tinggalpun arsitektur nusantara selalu memanfaatkan bahan-bahan alam berupa ranting dan dedaunan sebagai salah satu cara memahami kekuatan alam.

Lautan merupakan lingkungan terbesar yang dipunyai oleh arsitektur nusantara. Sehingga seharusnya lautan menjadi inspirasi yang dominan dalam berkomunikasi dengan alam. Besarnya lautan memberikan pengaruh terhadap kemampuan dalam cosmography atau membaca alam dengan perantara bintang di langit dan juga membaca iklim melalui arah angin. Kondisi alam menjadi bagian dari cara hidup arsitektur nusantara.

Fire, Orientation, Architecture

Api sebagai salah satu daya hidup, selain air, udara dan tanah, merupakan materi yang harus diusahakan untuk menghadirkannya. Di masa lalu tempat api mempunyia makna dan pengertian yang berbeda dengan tempat api berupa dapur sekarang ini. Api mempunyai nilai yang sakral sebagai pusat kekayaan akan nilai sosial pada masa lalu. Sehingga penempatan api berada pada ruang-ruang yang justru bagian penting dalam ruang sosial. Untuk membuat api dilindungi dengan memberikan penutup bagian atas agar terlindung dari hujan dan mengarahkan angin agar tidak mematikan api. Hal tersebut memberikan pengaruh terhadap kehadiran arsitektur nusantara. Arsitektur nusantara merupakan arsitektur yang mementingkan pemunculan atap daripada dinding. Hal tersebut sangat berbeda dengan arsitektur barat yang sangat mementingkan dinding(pembatas ruangan). Tempat dari material yang menjadi perantara kehadiran api (sumber api) juga merupakan tempat yang sangat penting untuk dilindungi.

Tempat hidup membutuhkan orientasi. Orientasi dapat menggunakan bantuan bintang di langit, gunung-gunung, lembah dan tanda alam lainnya. Bagi masyarakta yang berada di tepi pantai kehadiran sinar matahari dihubungkan dengan arah angin, dimana waktunya angin laut bertiup sebagai pertanda waktu sudah pagi dan angin darat yang mengantar menuju laut untuk berngkat hubungan antara api dan orientasi adalah hirarki dari sebuha kumpulan bangunan. Struktur api sebagai pusat perhatian dari konfigurasi material dan kumpulan bangunan. Dalam hal ini api tidak ditempatkan sebagai dasar dari sistim sosial namun pada nilai kesakralannya. Tingkat kesuciannya menjadi bagian yang ditekankan sebagai sumber orientasi seperti gunung, laut, tanah suci, dll.

Arsitektur dapat ditinjau dalam peranannya antara lain sebagai formal expression, imaginery of appearance, decoration. Atap-atap arsitektur nusantara mempunyai keragaman dalam tampilannya. Hal tersebut difungsikan sebagai identitas atau status sosial serta kekayaan meaning/makna. Susunannya masing-masing arsitektur nusantara diakibatkan adanya teknik dan unsur penyusunan yang unik, sehingga membentuk imaginery of appearance (penampilan unik). Arsitektur nusantara juga selalu menampilkan elemen dekoratif sebagai simbol-simbol status ataupun sebagai eksistensi estetis dari penggunannya.