KENYAMANAN ‘KESAN LUAS’ RUANGAN

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berhadapan dengan ruangan yang membuat kita bosan sehingga kita harus mengubah komposisi dan posisi property secara bergantian. Sifat kebosanan merupakan hal yang lumrah dipunyai setiap manusia. Justru kita harus dapat mengatur dan mengantisipasi agar sifat tersebut tidak menjadi pengahambat kita melakukan sesuatu pekerjaan.

Kenikmatan terhadap ruang arsitektur juga merupakan sesuatu potensi yang dapat kita atur sehingga kita mendapat kemanfaatan secara positif. Karena ruang arsitektur merupakan lingkungan yang berhadapan langsung dengan diri kita pengaruhnya dapat dipastikan dapat dirasakan secara langsung baik secara fisik maupun psikis.

Kenyataan yang kita hadapi mungkin sering sangat tidak sesuai dengan harapan dan keinginan. Seperti tipe rumah yang kita dapat tidak sesuai dengan harapan kita karena alasan finasial, mungkin juga bentuk tanah yang tidak menunjang untuk mengatur ruangan dengan baik dan ideal. Sebenarnya keadaan ini dapat diatasi dengan baik jika kita memahami teknik pengolahan ruangan arsitektur. Justru pekerjaan utama arsitektur adalah mengubah persepsi pemakai terhadap ruang arsitektur. Peng’ubah’an tersebut tentunya sesuai dengan keinginan pemakai. Kalau kita jeli mengamati beberapa arsitek (dan pemilik rumah) sering melakukan peng’ubah’an terhadap ruangan-ruangan yang dirancang.

Mengapa berharap ‘kesan luas’ terhadap ruangan

Pengubahan ruangan secara fisik mungkin tidak menjadi prioritas kita, sebab tidak memungkinkan kita memperluas lahan , namun secara teori kita masih mempunyai kesempatan untuk ‘memperluas’ ruangan kita secara psikis. Sebenarnya mengapa kita berharap untuk memperluas ruangan ?

Terdapat beberapa alasan mengapa kita (sangat?) berharap untuk memperluas ruangan, antara lain jika perluasan ruangan dilakukan secara fisik hal tersebut jelas akan memberi kesempatan kita untuk melakukan aktifitas yang lebih banyak dalam ruangan tersebut. Kita juga dapat menempatkan barang barang pribadi kita dalam satu ruangan lebih banyak. Secara psikis dalam teori ruang orang akan ‘merasa’ lebih lega dengan ruangan yang lebih luas. Ruangan yang ideal keluasannya akan memberikan efek orientasi dan kenikmatan terhadap indera maupun kondisi psikologis.

Mengubah luas fisik menjadi kesan luas

Sejalan dengan banyak persoalan tentang kondisi ruangan yang sering kita peroleh relatif semakin kecil, satu sisi alternatif penyelesaian memang tidak dapat kita penuhi, namun alternatif lainnya masih dapat menjadi pilihan yang dapat kita lakukan. Sisi subyektif manusia, sebagai salah satu unsure keberhasilan penikmatan, merupakan factor yang dirancang fleksibel terhadap beberapa kondisi meskipun sifatnya manipulatif dari ukuran obyek. Keluasan ruangan dapat ditafsirkan secara subyektif dengan mengenali perilaku indera dan sifat psikologis manusia. Indera dan psikologis memberikan definisi ‘luas’ melalui beberapa aspek pertimbangan tertentu.

Penerangan Ruang

Dalam memperlakukan ruangan sebenarnya kita berusaha untuk mempermainkan ilusi kita agar kenikmatan dapat kita rasakan. Untuk menghasilkan kesan luas kita dapat memanfaatkan ilusi yang didapat dari indera terhadap jarak . Memainkan penerangan berarti kita juga memainkan ilusi jarak antara dinding tersebut dengan kita sebagai pengamat.

Secara teori dari aspek kecerahan penerangan, semakin cerah akan menimbulkan efek jarak semakin jauh. Kebalikannya semakin suram atau redup akan menimbulkan efek jarak semakin mendekat. Teknik ini dapat kita dapatkan dari pengalaman ruang sehari-hari, yaitu kita mencoba untuk meredupkan penerangan lampu pada ruangan agar supaya ruangan tersebut terjadi suasana yang akrab, lebih privasi. Contoh lain terdapat dlaam ruangan tidur kita yang menginginkan suasana lebih privat. Sedangkan dalam suasana pesta dalam ruang kita akan berusaha untuk membuat ruangan tersebut menjadi sangat terang sehingga meskipun ruangan terbatas kita dapat merasakan jangkauan ilusi terhadap ruangan tersebut secara bebas.

Dalam praktiknya kita dapat merasakan bahwa penerangan dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap jangkauan ruangan. Batasan ilusi jarak ruangan dapat ditentukan oleh intensitas penerangan tersebut.

Warna Terang atau Gelap?

Apakah warna juga dapat menentukan ilusi jarak terhadap ruang ? Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya mengupas efek dari warna-warna tertentu terhadap kondisi psikologis kita. Warna merah akan memberikan ilusi jarak mendekat, sehingga terhadap keluasan ruangan warna ini akan memberikan kesan luas ruangan menjadi menyempit. Sebaliknya warna ruang kuning akan memberikan efek ilusi menjauh, sehingga terhadap keluasan ruangan akan berakibat munculnya kesan luas.

Jika kita amati dari analisis diatas terdapat suatu kecenderungan bahwa warna terang akan memberikan efek ruangan jadi mempunyai ‘kesan luas’. Sedangkan warna gelap akan memberikan efek ruangan jadi mempunyai ‘kesan sempit’. Sekarang anda dapat mempertimbangkan pada waktu memilih warna cat sebaiknya memilih warna cat yang bagaimana, agar sesuai dengan harapan kita. Selain warna cat juga juga mempunyai karakter lain yang mungkin menjadi bahan pertimbangan. Akhir bahasan anda akan mengetahui bahwa karakter material ternyata juga mempengaruhipengalaman ruangan.

Kemasifan dan Transparansi Permukaan

Ruangan yang terlalu banyak komposisi pembatas masifnya akan cenderung mempunyai karakter tertutup, sempit, privat, individual. Contoh ekstremnya kita dapat melihat pada ruangan penjara di lembaga pemasyarakatan. Meskipun dari segi fisik ruangan tersebut sebenarnya sudah sempit dari ukuran umumnya, kondisi tersebut diperkuat dengan kemasifan permukaan yang sangat tinggi dengan bukaan yang sangat sedikit.

Kemasifan ruangan dalam arsitektur ditentukan oleh banyaknya dinding yang pejal atau tidak tembus pandang. Bidang-bidang pembatas dengan karakter tertentu mempunyai sifat transparans yang membantu mewujudkan kesan luas ruangan.

Ornamen dan dan Tekstur Permukaan

Sering dalam ruangan kita mendapatkan banyak ukiran atau pasangan pengisi seperti gypsum dan juga batu alam dengan teksturnya. Secara umum factor tekstur sangat menentukan hadirnya ornament permukaan pada bidang dinding. Bnetuk lain dari ornament berupa pahatan permukaan berbentuk lukisan. Sebagai studi kasus anda pernah perhatikan rancangan ruang dalam hotel-hotel. Hotel-hotel prinsipnya membutuhkan ruangan yang bersifat akrab, sedangkan kesan seperti itu dapat diperoleh dengan cara membuat ilusi agar ruangan berkesan ‘sempit’ meskipun secara fisik sebenarnya ruangan tersebut cukup luas.

Adanya ornament maupun tekstur sebenarnya mempunyai peran untuk mengkomunikasikan antara individu penghuni ruangan dengan lingkungan ruangan tersebut. Komunikasi terjadi jika terdapat kesan-kesan yang dapat ditangkap dan dinikmati. Tekstur garis merupakan salah satu penyumbang terbesar dalam rangka mengesankan ilusi ruang. Jika ruang tersebut mempunyai elemen tekstur garis yang sangat dominant maka ruangan tersebut dapat dipastikan mempunyai ilusi jarak dan orientasi ruang sesuai arah dari garis-garis tekstur tersebut.

Komposisi pengisi Ruang

Faktor yang satu ini memerlukan perhatian khusus karena menyangkut sistim pengaturan ruangan. Pengisi ruang untuk masing-masing orang sangat bervariasi. Hal tersebut berhubungan dengan kemampuan dan selera masing-masing individu terhadap properti yang ingin dimiliki. Termasuk disini adalah perabot, lukisan dinding, dan property lainnya. Dimaksud komposisi disini adalah jumlah property yang mengisi ruangan tersebut, kemudian cara menata property tersebut.

Property ruangan juga akan mempengaruhi orientasi ruangan tersebut. Orientasi merupakan bagian sistim komunikasi dari penghuni ruangan dengan ruangan itu sendiri. Sehingga sudah barang tentu pengisi-pengisi ruang tersebut mempunyai peranan membentuk kesan ruang tersebut.

Proporsi Volume Ruang

Aspek yang satu ini mungkin hanya diberlakukan untuk rancangan ruang yang belum terbangun namun jika diterapkan pada ruangan yang sudah terbangun untuk merubah secara fisik membutuhkan pendanaan yang terlalu besar.

Jika kita akan membangun rumah kita dihadapkan memberikan masukan terhadap rancangan denah yang dibuat arsiteknya. Hal tersebut dimaksudkan agar kita mendapatkan proporsi ruang yang sesuai dengan keinginan estetika ruang yang diinginkan.

Pada prinsipnya semua factor-faktor diatas masih sangat ditentukan oleh keahlian subyektif dari perancang atau seorang arsitek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s