KULIAH 2

Risalah perkuliahan 2

Arsitektur Nusantara

Heru Subiyantoro

Topik :

Apakah Arsitektur Nusantara?

Latar belakang

Arsitektur nusantara secara umum selama ini masih dipahami sebagai (sama artinya dengan) arsitektur tradisional. Hal tersebut tidaklah sepenuhnya keliru jika melihat proses pemahaman arsitektur itu sendiri. Jika pola pemikiran tersebut dipakai dalam memahami dunia arsitektur kita maka tidak mustahil jika terjadi stagnasi bahkan mungkin kematian dalam proses ber-arsitektur. Arsitektur bukan lagi sebagai suatu ranah kajian yang seharusnya dapat berkembang membentuk jati dirinya namun justru menjadi barang rongsokan yang dapat saja disimpan sebagai kenangan atau sekalian dibuang dan dilenyapkan. Oleh karena itu diperlukan sebuah renungan dan kajian terhadap apakah arsitektur nusantara tersebut dalam kerangka pemikiran arsitektur menjadi ranah kajian ilmu yang dapat berkembang secara terus-menerus.

Arsitektur Tradisional sebagai romantisme arsitektur

Berkembang dengan sebuah paradigma baru, gerakan postmodern berusaha memisahkan kebakuan cara berpikir modern. Terjadi pemisahan secara jelas wilayah postmodern dengan wilayah tradisional. Dengan berkembangnya gerakan postmodern , arsitektur tradisional ditempatkan pada posisi sebagai obyek yang harus dimuseumkan. Arsitektur tradisional dipahami sebagai romantisme, sebuah kenangan akan masa silam yang akan dihadirkan dalam bentuk semirip mungkin sehingga tidak berorientasi terhadap perkembangan kreatifitas namun lebih banyak dalam upaya pelestarian.

Ketidaktepatan pemahaman arsitektur tradisional dalam perpektif ilmu arsitektur

Dalam proses pengkajian arsitektur, seharusnya arsitektur ditempatkan sebagai subyek atau sebagai fokus utama dalam pengkajian. Seperti yang dilakukan oleh Mangunwijaya, Vitrivius, Le Corbusier, semua memfokuskan pada pengkajian terhadap substansi ruang arsitektur yang merupakan substansi dasar arsitektur. Seperti dipahami bahwa substansi dasar arsitektur adalah ruang. Sehingga setiap kajian yang ingin menempatkan arsitektur sebagai subyek sudah seharusnya memnitikberatkan bahan kajiannya pada ruang. Berbeda jauh dengan bahan kajian yang dilakukan oleh antropologi yang lebih banyak menekankan pada bahan kajian manusia sebagai subyek. Tentu pembahasan lebih banyak dalam masalah pandangan hidup, interaksi, struktur sosial, dll.

Arsitektur Tradisional sebagai pengantar dalam beraktifitas merancang

Sehubungan dengan kompleksnya konteks kajian dalam ranah arsitektur, beberapa orang yang berkecimpung dalam kajian teori arsitektur memberikan pemilahan terhadap wilayah kerja teori arsitektur. Iwan sudrajat memberikan pemilahan theory in architecture, theory of architecture, dan theory about architecture. Bahwa teori arsitektur dapat berada dalam arsitektur sendiri , teori untuk arsitektur dan teori tentang arsitektur. Derajat tertinggi dalam konteks perancangan ruang arsitektur merupakan teori dalam arsitektur. Teori dalam arsitektur meliputi faktor-faktor formal dari kepentingan perancangan ruang seperti tektonika, struktur representasional, prinsip-prinsip estetika, dll. Ide-ide ruang arsitektur muncul dengan fasilitasi teori-teori arsitektur ini. DK. Ching merupakan salah satu arsitek yang dapat memaparkan teori-teori ruang dalam arsitektur. Memberikan irama dan komposisi bentuk dan ruang yang menghasilkan rangkaian estetika merupakan tugas praktis dari teori-teori ini. Seharusnya setiap arsitek dalam melakukan proses perancangan selalu menghasilkan teknik dan teori yang unik terhadap setiap perancangan arsitektur.

Dimensi pemahaman suatu karya arsitektur dalam hubungannya dengan budaya

Sebuah obyek karya arsitektur mempunyai dua dimensi yang dapat diukur dari kepentingan kehadiran teori. Sebuah bangunan dapat dinilai kehadirannya sebagai cermin budaya atau tradisi, maka yang berlaku dalam konteks ini teori adalah sebagai terminologi yang berada diluar internal arsitektur, jadi teori membahas tentang arsitektur. Dilain pihak obyek bangunan tersebut sebagai rekaman budaya atau tradisi, maka yang berlaku dalam konteks ini teori merupakan subyek dalam melakukan proses peng-hadiran obyek bangunan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s