KULIAH 3

Risalah perkuliahan 3

Arsitektur Nusantara

Heru Subiyantoro

Topik :

Kosmos, Hirarki,Struktur dalam Arsitektur

Arsitektur Nusantara sebagai ’Pengetahuan’

Dalam konsep pemikiran ini Arsitektur Nusantara tidak dipahami sebagai benda yang harus disimpan dan lestarikan keberadaannya, namun lebih pada sebagai pengetahuan arsitektur. Jika konsep tersebut dipahami benar maka arsitektur sebagai pengetahuan , akan mempunyai ciri dan karakter dari pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan merupakan sesuatu yang mempunyai sifat dinamis, selalu mengalami perkembangan , penuh dengan perilaku eksplorasi, terdapat keragaman dalam interpretasi. Jika pengetahuan mempunyai perkembangan sehingga bersifat dinamis, maka pengetahuan tersebut pasti mempunyai metode umum atau cara umum untuk melalui proses berkembang. Sehingga pengetahuan mempunyai sistem yang dapat dipakai untuk melakukan pengaturan. Jika terdapat pengaturan maka akan terdapat materi-materi yang diatur. Komponen yang diatur merupakan bagian-bagian yang menjadi penyusun arsitektur. Jadi sebagai pengetahuan , arsitektur mempunyai asas dan unsur dalam proses berarsitektur.

Terdapat pembedaan antara hasil karya arsitektur dan bangunan secara umum. Kenyamanan, efisiensi dan afektivitas dan standarisasi merupakan faktor-faktor pengukuran dalam bangunan secara umum. Sedangkan kenikmatan, nilai-nilai atau makna, simbolik merupakan kompetensi hasil karya arsitektur. Jadi ukuran-ukuran yang dipakai antara arsitektur dan bngunan secara umum secara jelas berbeda konteksnya.

Perspektif, Konteks, Faktor, dan Unsur.

Dalam setiap bahasan arsitektur selalu mempunyai perspektif, konteks, dan unsur yang berbeda-beda. Hal tersebut memberikan peluang kekayaan terhadap fenomena-fenomena dalam arsitektur. Sudut tinjauan dapat dibahas dalam banyak cara sehingga memungkinkan keluasan bahasan dalam arsitektur. Secara prinsip arsitektur membawa manusia dan kebudayaan menuju lingkungan binaan. Berbeda dengan disiplin antropologi manusia dan budaya sebagai obyek yang dipahami hasil dari lingkungan binaan. Sebagai subyek dalam perspektif arsitektur manusia dan budaya merupakan komponen aktif yang akan mewarnai setiap nilai kehidupan.

Arsitektur sering dipahami dalam ruang lingkup yang berbeda-beda bagi setiap individu. Hal tersebut bukanlah suatu kesalahan sebab kondisi tersebut dipahami sebagai kekayaan dalam berkarya. Rentang pemahaman atau tinjauan diatas dikarenakan konteks atau ruang lingkup yang dipunyai masing-masing metode tidak dalam wilayah yang sama.

Sudut pandang yang berbeda menghasilkan konteks yang berbeda pula. Tentunya karena sudut pandang dan kontek yang berbeda tersebut mempunyai sekumpulan faktor dan unsur yang berlainan. Kumpulan faktor dan unsur tiap konteks dan sudut tinjau merupakan sekumpulan faktor dan unsur yang berkepentingan dalam menentukan nilai dari karya tersebut.

Arsitektur-Manusia-Iklim

Arsitektur sebagai subyek dalam membentuk lingkungan terkait dengan msalah bagaimana arsiktektur tersebut mempengaruhi manusia sebagai pemakai. Arsitektur sebagai hasil karya akan memberikan sumbangan terhadap pembentukan perilaku dan pandangan manusia terhadap alam dan lingkungannya. Dalam tinjauan lainnya bagaimanakah arsitektur dapat memanfaatkan iklim(lingkungan). Salah satu alat ukur untuk sebuah hasil karya arsitektur adalah sejauh mana kemampuan arsitektur tersebut dapat mempengaruhi manusia dan dan memanfaatkan iklim sehingga memperoleh kenyamanan.

Setting of Nusantara Architecture

Ruang lingkup arsitektur nusantara dipahami dalam konteks nusantara sebagai tanah air daratan dan lautan.Kekayaan akan hutan alam memberikan ciri khas arsitektur nusantara penuh dengan ide-ide material dan konstruksi dari kayu. Posisi tersebut memberikan pengaruh terhadap kemahiran terhadap sikap yang selalu mementingkan kelestarian alam. Memberikan penandaan terhadap suatu tempat merupakan kemahiran yang tumbuh dari kedekatan dengan alam. Dalam hal pembuatan tempat tinggalpun arsitektur nusantara selalu memanfaatkan bahan-bahan alam berupa ranting dan dedaunan sebagai salah satu cara memahami kekuatan alam.

Lautan merupakan lingkungan terbesar yang dipunyai oleh arsitektur nusantara. Sehingga seharusnya lautan menjadi inspirasi yang dominan dalam berkomunikasi dengan alam. Besarnya lautan memberikan pengaruh terhadap kemampuan dalam cosmography atau membaca alam dengan perantara bintang di langit dan juga membaca iklim melalui arah angin. Kondisi alam menjadi bagian dari cara hidup arsitektur nusantara.

Fire, Orientation, Architecture

Api sebagai salah satu daya hidup, selain air, udara dan tanah, merupakan materi yang harus diusahakan untuk menghadirkannya. Di masa lalu tempat api mempunyia makna dan pengertian yang berbeda dengan tempat api berupa dapur sekarang ini. Api mempunyai nilai yang sakral sebagai pusat kekayaan akan nilai sosial pada masa lalu. Sehingga penempatan api berada pada ruang-ruang yang justru bagian penting dalam ruang sosial. Untuk membuat api dilindungi dengan memberikan penutup bagian atas agar terlindung dari hujan dan mengarahkan angin agar tidak mematikan api. Hal tersebut memberikan pengaruh terhadap kehadiran arsitektur nusantara. Arsitektur nusantara merupakan arsitektur yang mementingkan pemunculan atap daripada dinding. Hal tersebut sangat berbeda dengan arsitektur barat yang sangat mementingkan dinding(pembatas ruangan). Tempat dari material yang menjadi perantara kehadiran api (sumber api) juga merupakan tempat yang sangat penting untuk dilindungi.

Tempat hidup membutuhkan orientasi. Orientasi dapat menggunakan bantuan bintang di langit, gunung-gunung, lembah dan tanda alam lainnya. Bagi masyarakta yang berada di tepi pantai kehadiran sinar matahari dihubungkan dengan arah angin, dimana waktunya angin laut bertiup sebagai pertanda waktu sudah pagi dan angin darat yang mengantar menuju laut untuk berngkat hubungan antara api dan orientasi adalah hirarki dari sebuha kumpulan bangunan. Struktur api sebagai pusat perhatian dari konfigurasi material dan kumpulan bangunan. Dalam hal ini api tidak ditempatkan sebagai dasar dari sistim sosial namun pada nilai kesakralannya. Tingkat kesuciannya menjadi bagian yang ditekankan sebagai sumber orientasi seperti gunung, laut, tanah suci, dll.

Arsitektur dapat ditinjau dalam peranannya antara lain sebagai formal expression, imaginery of appearance, decoration. Atap-atap arsitektur nusantara mempunyai keragaman dalam tampilannya. Hal tersebut difungsikan sebagai identitas atau status sosial serta kekayaan meaning/makna. Susunannya masing-masing arsitektur nusantara diakibatkan adanya teknik dan unsur penyusunan yang unik, sehingga membentuk imaginery of appearance (penampilan unik). Arsitektur nusantara juga selalu menampilkan elemen dekoratif sebagai simbol-simbol status ataupun sebagai eksistensi estetis dari penggunannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s