TANGGAP ALAM BANGUNAN; KAMIICHI MOUNTAIN PAVILION, JEPANG (2)


ditail2

Respon Arsitektur

terhadap lingkungan

Beberapa aspek dalam pembahasan respon bangunan terhadap lingkungan dibagi dalam bagian –bagian tersendiri. Pembagian pembahasan dimaksudkan agar mudah dalam membaca aspek-aspek yang ditonjolkan dalam perancangan dan aspek tidak menjadio prioritas dalam perancangan bangunan Kamiichi Moutain Pavilion ini.

Analisis Lokasi

Iklim

Lokasi dari Kamiichi Mountain Pavilion ini terletak dalam deretan tanah batuan didaerah tepian sungai yang dipakai sebagai tempat aliran es yang mencair(meltwater). Ketinggian daerah ini adalah 2500 meter didaerah pegunungan bagian utara Jepang. Dapat dibayangkan bahwa bangunan ini menempati wilayah pegunungan sehingga termasuk dalam wilayah iklim pegunungan. Dengan lingkungan yang secara konsisten dingin (ketinggian 2500) maka dapat dipastikan lebih banyak panas yang dibutuhkan, bukan pendinginan. Namun konsep pemanasan tidak dibutuhkan secara aktif , karena bangunan ini memang lebih cenderung bertujuan sebagai tempat orientasi dan transit bagi pendaki gunung bukan sebagai tempat tinggal permanen. Tidak terdapat analisis khusus dalam menentukan lokasi bangunan ini, karena kemungkinan besar penempatan bangunan ini lebih banyak tergantung pada jalur dan jarak pendakian yang biasa dilakukan para pendaki gunung salju.

Topografi

Gbr. Site yang berkontur memberi pengaruh pada orientasi

layoutPosisi dari bangunan ini terletak pada deretan batuan di tepi sungai yang biasa dialiri air dari es cair(meltwater). Bangunan pavilion ini memang berfungsi sebagai tempat transit para pendaki gunung. Sehingga jalur pendakian mungkin lebih menjadi perhatian. Bangunan ini yang jelas menghadap ke sungai dan membelakangi dataran yang lebih tinggi.

Tipologi yang selalu menghadap ke arah lebih rendah (arah lembah)secara umum banyak dipakai pada bangunan-bangunan yang dibangun dilereng gunung. Hal ini merupakan respon umum yang dilakukan untuk mendapatkan view(pandangan). Dalam topografi pada tanah kontur arah hadap menuju area yang lebih rendah bukan saja masalah kenyamanan pandangan namun juga terhadap arah datang sinar matahari yang cenderung lebih banyak dari arah turun.

Vegetasi

Gbr. Tampak bangunan dari arah sungai latar vegetasi

tampakSecara teori vegetasi memberikan pengalaman ruang tersendiri bagi hunian. Dalam bangunan yang digunakan sebagai hunian permanen, biasanya vegetasi mempunyai pengaruh dalam shading terhadap sinar matahari langsung. Vegetasi yang terdapat disekitar bangunan Kamiichi mountain pavilion , meskipun tidak diketahui waktu tanamnya, tanaman tersebut mempunyai fungsi secara langsung sebagai penghalang atau penghambat aliran udara (angin) yang secara langsung menghembus dari arah pegunungan. Aliran udara dari arah pegunungan mempunyai kapasitas sebagai faktor yang menambah dingin bangunan pavilion ini. Jadi vegetasi yang berada pada posisi belakang bangunan, arah yang lebih tinggi, merupakan fungsi shelter-belt untuk memproteksi site atau bangunan terhadap angin dingin yang menerpa bangunan ini.

Arah Matahari

Gbr. Bangunan mempunyai vertikalitas besar

photo-buildArah datang sinar matahari mempengaruhi secara langsung setiap posisi bangunan pada tipe iklim apapun. Terutama pada bangunan-bangunan yang mempunyai lokasi pada pegunungan. Pada pegunungan permukaan yang terkena sinar matahari berada pada setengah sisi dari gunung tersebut, sedangkan setengah bagian lagi suatu saat tidak terkena terkena sinar matahari, apalagi pada daerah yang mempunyai latitude yang besar seperti lokasi Kamiichi pavilion ini. Melihat citra foto yang terlihat bangunan terletak pada bagian yang sempat menikmati sinar matahari dengan indikator beberapa tanaman yang cukup subur tumbuh sebagai latar belakang.

Bentuk Bangunan

Ruangan

Ruangan pada bangunan pavilion ini sangat sederhana. Hal tersebut disebabkan karena bangunan ini tidak dipersiapkan untuk hunian yang dipakai dalam waktu menetap lama. Melihat fungsinya bangunan ini lebih banyak berfungsi sebagai tempat transit bagi para pendaki gunung yang bersalju ini. Sehingga ruangan terlihat hanya dirancang dalam satu tempat yang menyatu tanpa sekat sesuai kegunaan yang biasanya hanya untuk berkumpul dalam suatu ruangan yang dapat melindungi dari angin dan hujan. Seluruh permukaan dinding dan atap langsung berhubungan dengan ruangan didalamnya. Dinding dan atap bangunan mempunyai posisi sebagai shelter yang cepat menyesuaikan dengan kondisi luar bangunan. Cuaca dingin memang tidak dihindari sebab lingkungan yang menyelubunginya aemua dingin. Namun ketika cuaca sudah mulai panas pahan logam yang dipakai sebagai lapisan dinding dan atap akan cepat menghantarkan panas. Logam mempunyai sifat yang cepat menghantarkan panas, hal tersebut cocok bagi tempat yang mempunyai rentang penyinaran yang tidak terlalu lama.

Energi Use

Gbr. Potongan bangunan dengan volume ruangan sederhana

potonganEnergi yang digunakan disini hanya mengandalkan yang diperoleh dari alam. Bangunan ini cenderung mempunyai strategi yang sangat pasif dalam penggunaan energi. Tak energi listrik dalam bangunan ini sehingga untuk mendapatkan energi panas bangunan dibuat sekecil mungkin sesuai kebutuhan untuk sekelompok orang yang dapat secara bersama melakukan kegiatan didalam ruangan ini. Bagian atas bangunan ini terdapat ventilasi pada bagian tepian atap. Dengan volume ruangan yang cukup kecil maka tidak diperlukan energi panas yang banyak. Sehingga dengan menempatkan energi panas sedikit dapat secara cepat terakumulasi dalam bangunan ini

Orientasi

Gbr. Analogi personal terhadap bangunan

orientasi0001Jika kita ingin memahami secara sederhana mengapa orientasi bangunan hampir setiap bangunan yang berada di lereng gunung selalu menghadap arah lembah atau yang lebih rendah , kita dapat melihat ilustrasi pada gambar tentang analogi personal[1] yang dilakukan untuk memahami posisi bangunan terhadap sinar matahari. Bangunan-bangunan yang berada di lereng gunung hampir selalu dianalogikan dengan posisi seseorang yang sedang tidur dalam posisi rata dengan tanah lereng tersebut. Hal tersebut dimaksudkan agar dapat menerima sinar matahari (saat sinar matahari menerangi sisi gunung tersebut) sebanyak-banyaknya. Namun sebenarnya bangunan ini lebih banyak terbantu dalam pengumpulan panas dengan volume ruangan dari pada orientasi bangunan. Hal itu dikarenakan lingkungan sekitarnya lebih kuat pengaruhnya (angin dingin, suhu lingkungan, dll.)

Susunan Ruang

Susunan ruangan dari bangunan ini sangat sederhana, yaitu tidak terdapat egregasi ruangan karena memang tidak dibutuhkan secara fungsi ruang. Lebih penting dari itu adalah volume ruangan tidak dipecah-pecah agar dapat melakukan kegiatan secara bersama. Dari sisi termal jika melakukan api unggun didalam ruangan ini diharapkan dapat menyebar keseluruh bangunan dengan bentang horisontal yang pendek namun mempunyai vertikalitas yang tinggi(sesuai karakteristik api).

Ventilasi

Sehubungan dengan penggunaan energi api unggun (buatan) ventilasi dibutuhkan pada bagian atas. Bagian atap mempunyai ventilasi yang dapat mengeluarkan gas karbon hasil pembakaran agar tidak meracuni penghuni didalam ruangan. Ventilasi tidak dibutuhkan besar sebab tidak dibutuhkan aliran yang kencang untuk mengeluarkan udara tersebut. Ventilasi tidak difungsikan untuk memberikan aliran seperti fungsi pada bangunan tropik.

Bukaan

Bukaan yang terdapat dalam bangunan pavilion ini sangat terbatas. Hal tersebut dapat dimaklumi dengan iklim seperti itu, yang sering hujan dan bersalju. Semakin banyak bukaan akan menghilangkan fungsi utama dari bangunan ini sebagai shelter terhadap angin dingin dan hujan yang sering turun.

Penggunaan Ruangan

Penggunaan ruang pada pavilion ini telah banyak disinggun pada bahasan diatas. Ruang bangunan ini sebenarnya mempunyai frekuensi penggunaan yang tidak terlalu sering, hal tersebut dikarenakan bangunan ini hanya berfungsi transit bagi para pendaki gunung. Penggunaan yang terbatas tersebut menjadi alasan kenapa bangunan ini juga tidak dirancang menggunakan energi tambahan apapun. Konsep penggunaan ruangan tak ada bedanya dengan penggunaan sebuah gua yang dapat digunakan oleh siapapun yang lewat rute ini. Energi tambahan yang direncanakan sebagai suatu sistem akan memberikan konsekuensi pemeliharaan, yang sudah barang tentu juga akan memerlukan energi tambahan lagi.

Bahan Bangunan

Insulasi

Dalam Kamiichi pavilion ini tidak nampak akan usaha untuk memaksimalkan thermal insulation. Hal tersebut dapat dilihat dari potongan banguna yang memperlihatkan betapa sederhananya cara membuat lapisan dinding. Kondisi dingin mungkin sudah merupakan kondisi yang harus diterima. Sehingga bagaimanapun dingin akan tetap terasa bagaimanapun usaha untuk mengaturnya. Justru lapisan tembaga yang menjadi bahan pelapis dinding dan atap merupakan penghantar yang baik untuk panas.

Thermal Mass dan Surface Resistance

Thermal mass tidak menjadi topik menarik perhatian dalam bangunan ini. Yang perlu diperhitungkan justru kecepatan untuk melakukan transfer panas pada saat terdapat sinar matahari. Bangunan ini tidak mementingkan penghimpunan panas dalam waktu yang lama sehubungan dengan penggunaan ruangan yang juga temporer.


[1] Baca bukunya Donna P. Duerk tentang analogi personal, hal. 67

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s