Natural Fusion

Iklan

Kajian Teori Sustainable Architecture

[Amos Rapoport]
Sustainability menurut Amos Rapoport dalam implikasinya dengan lingkungan buatan selalu melibatkan ‘meaning’, yang timbul akibat konflik antara kriteria ‘sustainability’ dan ‘wants’. Dalam kasus Mesiniaga,Bioclimatic Skyscraper, ‘meaning’ dapat dibedakan menjadi ‘meaning of sustainability’ dan ‘meaning in sustainability’.
Dalam ‘meaning of sustainability’ bisa dilihat bahwa terjadi ‘change and continuity’ dari konsep dan fisik bangunan. Dalam konsep, perubahan (change) bisa dilihat pada ‘meaning’ dari ‘bioclimatic design’ yang dulu pada masyarakat tradisional (traditional environment) alam tidak dengan sengaja menjadi batasan (constraint) dari wants manusia (karena lemahnya teknologi, populasi manusia yang masih sedikit dan seterusnya), tetapi sekarang (dalam contemporary environment), alam dengan sengaja dijadikan batasan dari wants untuk mencapai lingkungan yang sustainable. Sedang continuity dari konsep bisa dilihat dari alam yang tetap menjadi batasan dari wants.
Pada fisik, change and continuity, bisa dilihat dari :
• Plants (tanaman)
Kalau dulu pada manusia tradisional yang tidak mengenal bangungan tinggi, manusia dalam lingkungan buatannya bisa langsung berhubungan dengan ruang luar (dengan tanaman, air hujan, matahari, udara segar dan seterusnya). Maka disini (Mesiniaga), konsep tersebut tetap ingin dipakai dengan adanya hubungan langsung antara ruang luar dengan ruang dalam, sehingga dapat menambah kesejukan di dalam ruang dan juga supaya pemakai di dalam bangunan tetap dapat melihat hijaunya tanaman (tidak merasa terkurung dalam bangunan). Tetapi hanya saja sekarang digunakan pada bangunan berlantai lebih dari satu. Selain juga digunakan untuk fungsi estetis dan ekologis.
• Terraces (teras)
Manusia tradisional hidup dalam suasana komunal. Dalam Mesiniaga, fungsi komunal ditampilkan disekeliling bangunan dalam tampilan teras-teras lebar sebagai ruang komunal selain sebagai ruang penghawaan. Sehingga user tetap dapat merasakan ruang luar dan tidak terkungkung didalam bangunan seperti umumnya bangunan bertingkat lainnya.
• Air hujan.
Air hujan, dalam Mesiniaga, tidak secara vertikal langsung diturunkan ke tanah, tetapi secara spiral dengan perlahan dialirkan kebawah. Fungsinya, selain untuk menyirami tanaman yang juga ditanam secara spiral, juga untuk mengesankan bahwa ruang dalam bisa tetap berhubungan dengan ruang luar (dengan terdengarnya gemericik air), selain juga bisa untuk menambah kesejukan didalam bangunan.
Sedang ‘meaning in sustainability’ bisa dilihat dari kemampuan Mesiniaga untuk memuaskan ‘wants’. Baik wants dari user dan wants dari bangunan. Karena bangunan berkeinginan untuk memasukkan angin sebanyak mungkin kedalam bangunan, karena ingin memanfaatkan air hujan semaksimal mungkin, maka dibuat bentuk bulat untuk bangunan. Secara struktur, bulat sangat stabil dan dengan sistem spiral, air hujan dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Karena itu eksterior bangunan berbentuk bulat. Tetapi wants dari penghuni yang ingin memfungsikan bangunan tersebut sebagai kantor, menginginkan bentuk kotak karena efektif dan efisien. Bukan berarti karena bertolak belakang maka wants dari penghuni ditekan oleh wants dari bangunan. Ruang dalam tetap memakai bentuk-bentuk kotak, sedang ruang yang tersisa digunakan sebagai teras, untuk fungsi ruang komunal dan transisi ruang dalam dan ruang luar, selain juga berfungsi sebagai penghawaan.

Medan Energi Metafisik Elemen Dekorasi Arsitektur Rumah Kurung Manik Batak Karo


Pendahuluan

Dalam wilayah arsitektur nusantara rumah Batak Karo juga mempunyai tipologi yang hampir sama dengan arsitektur nusantara lainnya, yaitu mempunyai beberapa jenis rumah. Jenis-jenis tersebut benyak difokuskan pada perbedaan wujud atap bangunan. Seperti didalam arsitektur Jawa yang mempunyai beberapa jenis atap, arsitektur Batak Karo juga mempunyai beberapa jenis atap rumah yang mebedakan antara jenis yang satu dengan yang lain.

Rumah adat Batak Karo kondisi aslinya terdiri dari dinding papan yang merupakan bahan utama dari semua arsitektur nusantara, mempunyai atap yang tersusun dari ijuk sejenis dengan arsitektur Bali, bertiang balok mempunyai muka, tanduk, ret-ret, takal dapur. Bagian kaki menggunakan pondasi  palas. Puncak atap terdapat muka berbentuk segitiga sama kaki yang terbuat dari anyaman bambu. Bagian ini biasanya muka ini menjadi khas dalam pembahasan arsitektur nusantara. Dalam setiap jenis rumah Batak Karo jumlah mukanya berbeda, karena tergantung jumlah tingkat atau susun dari jenis rumah Batak Karo tersebut. Jika rumah yang atapnya tidak bertingkat jumlah mukanya 2 buah dalam posisi yang berlawanan. Sedangkan atap yang susun atau anjung-anjung 2 mempunyai jumlah muka sebanyak 8 buah.

Rumah Batak Karo terdiri dari beberapa bentuk yang pada dasarnya adalah sama, yang membedakan adalah bentuk atapnya dan tiangnya. Berdasarkan bentuk atapnya terdapat bentuk Rumah Kurung Manik, rumah Sada Tersek, rumah Dua Tersek Pakai Anjung-anjung, Rumah Ayo. Sedangkan berdasarkan tiangnya dapat dibedakan rumah Sangka Manuk, rumah Sendi. Dalam satu kampung juga terdapat bangunan lain antara lain adalah Jambur, Geriten, Sapo Page, Lesung dan bagian lain yaitu Peken, Pendonen, Penjuman, Kerangen, Barong, Penjalangen, Tapin, Buah Uta-uta.

Bentuk dan teknik pembuatan rumah pada dasarnya juga hampir sama, seperti letak dinding miring kearah luar, mempunyai dua pintu masuk yang menghadap Timur-Barat. Pada kedua ujung atapnya terdapat terdapat tanduk atau patung kepala kerbau. Dinding, lantai dan tiang-tiagnnya terbuat dari kayu. Untuk tangga teras(ture) yang berada di ujung Timur-Barat dan beberapa perlengkapan lainnya terbuat dari bambu. Bagian atap dan pengikatnya terbuat dari ijuk yang disusun sebagai bidang penutup atap.

Dalam sistim pembangunan rumah adat Batak Karo ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan membutuhkan banyak tenaga sukarela. Mereka yang ikut berpartisipasi dalam pembangunan disebut dengan Adangen( tanggungan).

Seperti umumnya arsitektur tradisonal di nusantara arsitektur adat Batak Karo pun mempunyai banyak dekorasi. Rumah adat Batak Karo yang menggunakan dekorasi tersebut biasanya disebut dengan Gerga. Dekorasi-dekorasi tersebut mempunyai makna-makna magis bagi para penghuninya. Makna-makna tersbut disimbolkan dalam bentuk dekorasi yang mempunyai susunan khusus, seperti motif manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Dekorasi-dekorasi biasanya juga merupakan salah satu bagian sistim komunikasi penghuni mengenai filsafat hidup, prasasti pembangunan, dan nilai-nilai magis yang dianutnya.

Dekorasi atau ragam hias merupakan simbolisasi akan kepercayaan diluar jasmani. Kekuatan-keuatan tersebut dipercayai merupakan bagian dari keberlangsungan hidup seseorang didunia ini. Kepercayaan terhadap kekuatan diluar diri manusia menjadi bagian penting dunia arsitektur tradisional. Kekuatan-kekuatan tersebut memberikan dorongan terhadap keinginan, pengaturan nasib, keberuntungan, kecelakaan, dan situasi-situasi yang mengikuti manusia dalam menjalani hidup didunia ini.

Dekorasi

Dekorasi – dekorasi yang muncul dalam arsitektur Batak Karo banyak berhubungan dengan fungsi-fungsi fisik dari obyek yang dipasangi dekorasi tersebut. Kepentingan-kepentingan atau harapan yang ingin dicapai diwakili dalam elemen dekoratif yang terdapat dalam setiap bagian dari benda tersebut. Seperti yang terdapat dimeja makan, penghuni berharap agar tidak terdapat keinginan jahat yang membuat makanan tersebut mengandung racun dan mengakibatkan keracunan atau kematian. Menghindari situasi-situasi yang buruk merupakan kondisi-kondisi yang ingin dicapai dalam setiap kegiatan.

Dari sisi pembuatan oranmentasi mempunyai empat cara, yaitu :

  1. Pahatan(relief), biasanya banyak digunakan dalam dekorasi pada rumah
  2. Torehan Pisau, bisanya banyak digunakan pada alat-alat
  3. Penggunaan Cat
  4. Dekorasi pada Tenun(hias)

Warna-warna dasar yang dipakai dalam adat Batak Karo aslinya warna yang berasal dari alam yaitu warna merah putih dan hitam. Namun pada perkembangannya menjadi lebih beraneka ragam karena berkembangnya tuntutan dari sisi citra dan guna dari variasi warna-warna tersebut. Selain itu juga pengaruh dari luar pada jaman penjajah Belanda masuk ke Indonesia, banyak warna yang menjadi alternatif dalam membuat dekorasi.

Makna-makna warna dalam Batak Karo antara lain merah berarti garang, putih berarti berhati suci, warna hitam berarti simbolisasi rakyata jelata(kunuma kurumah), warna biru berarti pandek(tukang doa), warna kuning berarti guru(dukun).

Ragam Hias biasanya terdapat pada bagian Ayo (muka rumah) dengan dengan hiasan geometris dan anyaman bambu. Sedangkan hiasan pemikul Ayo dibuat hiasan menyerupai gambar cecak dari bahan ijuk yang dalam bahasa Karo disebut sebagai Pangretret. Hiasan ini mempunyai makna magis tertentu, selain fungsi struktural pengikat dinding. Pada bagian Melmelen(dapur-dapur) yaitu pemikul derpih terdapat hiasan pokok yang terdiri dari tapak raja Sulaiman, Bindu Matoguh, embun Sikawiten, dan hiasan tepi seperti Cimbalau, tutup Dadu, Tiger Tudung dan lain-lain.

Dilihat dari sisi bentuk dekorasi pada rumah Batak Karo mempunyai empat jenis, yaitu :

  1. Bentuk geometris seperti ipen-ipen, tapak raja Sulaiman, piseren kambing, tiger tudung, bindu matoguh, cimba lau dan tutup dadu, desa siwaluh.
  2. Bentuk tumbuh-tumbuhan dan alam, bunga gundur, pantil manggis, tulak paku, embun sikawiten.
  3. Bentuk bintang, tanduk kerbau, pengretret.
  4. Bentuk raksasa, cuping-cuping, takal dapur-dapur.

Kajian terhadap Elemen Dekoratif

Berdasarkan bahasa pola dari rumah Batak Karo dapat diklasifikasikan dalam jenis :

  1. Hiasan yang digantung atau disangkutkan seperti tanduk kerbau dan cuping-cuping
  2. Hiasan yang diukir/dipahat/ digambar. Seperti hiasan-hiasan yang ada pada bilah-bilah papan dapur-dapur
  3. Hiasan yang sekaligus menjadi bagian struktur, seperti anyaman ayo-ayo merupakan dinding sekaligus ornamental.

Ragam hias diatas merupakan penggolongan berdasarkan pola penemptan yang terjadi pada bagian-bagian rumah Batak Karo. Kajian ini difokuskan pada penafsiran elemen-elemen dekoratif tersebut sehubungan dengan makna metafisik dari pemahaman penghuni rumah. Potensi dari kekuatan ruang yang dibentuk oleh koodinat elemen-elemen dekoratif tersebut untuk membentuk ruang yang mempunyai medan energi bagi penghuni menjadi lebih jelas jika kita dapat menghubungkan berdasarkan penempatannya.

Elemen Dekoratif Penolak Bala(Perlidungan)

Tanduk Kerbau

Hiasan yang digantung atau disangkutkan salah satunya adalah kepala kerbau. Tanduk kerbau yang dipasang diujung atap (bubungan) adalah tanduk asli, sedangkan kepala kerbau dapat dibuat dari tanah liat dan dicat warna putih. Hiasan kepala kerbau ini pada rumah Batak Karo berjumlah 2 buah sebab jumlah ujung atapnya 2 buah. Dengan orientasi ke arah timur dan barat berarti tanduk kerbau ini juga menghadap timur dan barat.

Tanduk kerbau ini mempunyai makna yang melambangkan sikap hormat dan merunduk yang mengesankan sikap satria yang menghormati setiap orang tetapi juga siap untuk mempertahankan setiap gangguan yang muncul untuk mengganggu. Sikap satria yang ingin dimunculkan antara lain adalah keperkasaan, sportifitas tanpa harus mengganggu orang lain, seperti sifat kerbau yang cukup tenang dalam menhadapi situasi namun jika diganggu siap untuk mempertahankan.

Cuping-cuping

Ragam hias ini mempunyai posisi pada bagian setiap pojok rumah(suki) sebagai batas derpih atau dinding, antara derpih depan dan derpih samping. Bentuk cuping-cuping banyak menyerupai bentuk saun telinga manusia. Sehingga makna yang diinginkan analog dengan fungsi dari telinga yaitu sebagai alat untuk mendengarkan lingkungannya secara tajam. Dengan pendenganran yang tajam maka didapatkan  kearifan yang cukup besar dalam berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Dengan begitu maka bekal ketajaman akan pendengaran terhadap sekitarnya, akan membuat tingkat kewaspadaan yang tinggi, sehingga siap untuk menangkal setiap gangguan yang ingin mengancam keberadaan.

Pangeretret

Pengretret

Ragam hias ini berbentuk seperti cicak yang mempunyai kepala pada kedua ujung badannya, dan terdapat tiga jari kaki ret-ret yang melambangkan ikatan keluarga tiga kesatuan. Pengretret ini juga mempunyai fungsi secara struktural pengikat bilah-bilah papan sebagai dinding(derpih).

Secara fisik ragam hias ini terbentuk dari jalinan tali ijuk yang menggambarkan makna kekuatan, penagkal setan dan melambangkan persatuan dan kesatuan masyarakat dalam menyelesaikan suatu masalah.

Penafsiran Medan Energi Metafisik ; Tanduk Kerbau dan Cuping-cuping

Sekarang kita perhatikan titik koordinat yang ditempati oleh elemen dekoratif yang digantung atau disangkutkan yaitu titik koordinat tanduk kerbau, cuping-cuping dan pelingkupan pengretret. Jika kita dapat membuat garis lurus yang kita hubungkan antara titik pemasangan elemen-elemen gantung tersebut, garis lurus tersebut membentuk geometri obyek bangunan tersebut. Garis garis tersebut membentuk medan energi yang melindungi semua penghuni rumah yang berada didalamnya. Rumah dipahami sebagai dunia kecil bagi kehidupan penghuni rumah Batak Karo ini. Seperti atmosfer yang melindungi bumi ini dari beberapa gangguan meteor dan radiasi yang merusak lingkungan dan menyaring semua yang masuk dalam bumi. Medan ini juga memberikan suatu atmosfer perlindungan terhadap energi lain yang bermaksud untuk merusak siklus kehidupan dunia dalam ruangan rumah.

Cara membaca medan energi yang muncul dari titik koordinat tersebut sebagai berikut.

  • Perlindungan secara vertikal, tanda tersebut dapat dibaca dari garis putus yang hadir akibat perhubungan antara tanduk kerbau(1 dan 2) dengan empat titik penjuru tempat dari cuping-cuping yang berada pada keempat  sudut(A,B,C,D) bangunan yang berhubungan dengan badan bangunan.
  • Perlindungan secara Horisontal, pengretret sebagai elemen ragam hias yang sekaligus berfungsi sebagai struktur pengikat bilah-bilah papan sebagai dinding , juga mempunyai fungsi metafisik sebagai penolak segala kejahatan. Melihat posisinya pengeretret menyerupai sabuk yang menghubungkan sudut-sudut bangunan empat persegi panjang Batak Karo. Sabuk energi ini menghubungkan setiap kolom pojok tempat sangkutan dari cuping-cuping(A,B,C,D).

 

Elemen Dekoratif : Pengharapan Kelancaran Hidup

Dapur-dapur (melmelan)

Elemen-elemen dekoratif yang diukir/dipahat/ digambar lebih banyak berada pada dapur-dapur yang terdiri dari tapak raja Sulaiman, bindu matagah, teiger tudung,desa siwaluh, bunga gundur dan pantil manggis, Embun sikawiten,  cimba lau dan tutup dadu.

Makna yang terkandung dalam dapur-dapur ini antara lain mengenai harapan akan kesehatan, petunjuk jalan agar tidak sesat, dijauhkan dari roh jahat, diberi kekuatan batin, keagungan dan kewibawaan , ketampanan, penunjuk arah bulan baik, keindahan, kemakmuran, kecerahan.

 

Penafsiran : Ruang Kehidupan Dunia

Jika kita melihat posisi fisik dapur-dapur ini merupakan bagian yang menjadi pengikat dari dari badan bangunan Kurung Manik Batak Karo. Dapur-dapur merupakan elemen bangunan yang dekat dengan posisi manusia, yaitu mengelilingi ruang hunian manusia. Elemen ini memberikan batasan ruang kehidupan manusia dalam dunia kecil yang dinamakan rumah. Keinginan dan harapan yang ada dalam hati dan pikiran mereka tuangkan dalam dapur-dapur dengan bahasa pola yang dalam bentuk ukiran dan pahatan.

Beberapa makna dari papan dapur-dapur ini sesuai dengan makna ukiran perbagian antara lain :

  • dapur-dapur memberikan pewadahan(ruang) terhadap semua harapan penghuni rumah tersebut terhadap lingkungan fisik yang diinginkan sesuai posisi koordinat dari dapur-dapur yang menyangga dinding(derpih) dan melingkupi bangunan rumah.
  • Dapur-dapur sebagai media komitmen dan kitab yang berisi aturan dan harapan.
  • Kekuatan internal jasmani dalam melakukan aktifitas ruang dunia menjadi tujuan utama dalam memberikan makna dapur-dapur.

 

 

Elemen Dekoratif : Ekspresi Keseimbangan

Ayo-ayo

Membaca keseimbangan kehidupan fisik dan metafisik yang terdapat dalam totalitas bangunan ini dapat dilihat dari ragam hias ayo-ayo. Elemen ini mempunyai posisi di bagian depan(muka) dan belakang. Bagian muka-belakang mengarah pada mata angin Timur – Barat. Arah timur-barat ini sesuai dengan arah hulu dan hilir sungai yang berada didekat bangunan ini. Bentuk dari ayo-ayo ini adalah bidang segitiga yang mengisi muka atap bagian depan, berisi ukiran-ukiran yang sebagian besar bermakna keindahan (sebagai hiasan) dan penolak bala.

Penafsiran : Keseimbangan Kehidupan

Elemen ragam hias ini didominasi oleh bentuk-bentuk ornamen keindahan dan beberapa bagian kecil sebagai penolak bala. Keindahan adalah ragam hiasan yang mengungkapkan intuisi seni dan kebijaksanaan dari masyarakat tersebut. Pemahaman dan ungkapan nilai-nilai keindahan sangat berkaitan dengan makna kearifan , bijaksana, berlaku adil, keseimbangan atau segala sesuatu harus dalam keadaan yang berimbang.

sumbu

Ayo-ayo berhadapan langsung dengan orang yang akan masuk rumah atau dalam arah hadap yang sama dengan pintu masuk yang berada didepan dan belakang(timur-barat). Sehingga pola bidang ayo-ayo ini menyambut setiap orang yang akan masuk rumah. Bagaikan sebuah ramuan yang memberikan kekuatan terhadap semua makhluk yang masuk bangunan ini. Jadi ayo-ayo merupakan raut muka(interface) yang berkomunikasi tentang nilai-nilai keindahan secara keseluruhan terhadap setiap pengunjung.

Beberapa bentuk ornamen geometris memberikan hipnotis terhadap orang yang memandangnya. Susunan geometris yang memusat memberikan cara hipnotis untuk sebuah kejujuran.

Ornamen yang mirip dengan ornamen geometris seperti ornamen bunga gundur ini banyak dijumpai dalam susunan keseluruhan bidang Ayo-ayo. Semua ornamen terbentuk secara simetris dalam konfigurasi segitiga sama kaki. Bagian kiri dan kanan menjadi pemusatan energi yang dapat mempengaruhi pendatang yang masuk melalui pintu-pintu tersebut.

Tafsir Keseluruhan

Secara keseluruhan ragam hias atau dekorasi pada rumah adat Batak Karo memberikan kekuatan ruang perlindungan , ruang pengharapan hidup, dan ruang kesimbangan bagi proses kehidupan masyarakat Batak Karo Kurung Manik.

Apakah Pemrograman Arsitektur?

[diterjemahkan secara pribadi dari Duerk]

Tulisan ini tentang Perancangan arsitektur. Bagian awal dari proses desain adalah pemrograman . Tulisan ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin melakukan perograman arsitektur dan ingin mengetahui lebih jauh tentang pertanyaan yang benar dalam waktu yang tepat.

Definisi
Kamus Webster (1966) Mendefinisikan program sebagai “perencanaan prosedur”. Pemrograman arsitektur adalah proses pengaturan informasi sehingga informasi yang benar dapat secara tepat posisinya dalam proses desain dan keutusan yang tepat dapat dilakukan untuk mempertajam hasil dari desain bangunan tersebut.
Pemrograman merupakan proses kreatif secara terstruktur terhadap harapan, keinginan, dan hasrat dari wujud bangunan nantinya.
Pemrograman juga merupakan perencanaan prosedur dan organisasi dari semua bagian sumber daya sudah tentu untuk membuat desain dalam suatu kontek dan persyaratan yang spesifik.
Pemrograman adalah pengumpulan, pengorganisasian, analisa, peng-interpretasi-an, dan pemaparan dari informasi yang relevan untuk proyek yang didesain.
Untuk memudahkan pemahaman beberapa aktifitas tersebut maka pemrograman dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
1. Analisis dari kondisi eksisting, yaitu analisa site, profil pengguna, kode, batasan dan iklim.
2. Proyeksi masa depan, yaitu beberapa criteria desain yang harus dipertemukan atau diselesaikan agar supaya cocok dan termasuk disini adalah misi, tujuan, konsep, dan persyaratan tampilan(performance).

Saya juga menyodorkan penggunaan isu desain sebagai alat penyaring untuk berbagai informasi atau data tentang kondisi eksisting dan sebagai topic untuk membangun tujuan, persyaratan tampilan dan konsep yang dibuat untuk membuat penjelasan kondisi masa depan.
Isu desain adalah pendifinisian sejauh mana wilayah garap dari permintaan dari tanggapan desain.

Siklus
Proses Desain

Proses Desain sering dianggap sebaga pengulangan secara terus menerus, siklus menuju suatu detail yang diinginkan. Pemrograman memberi seorang perancang atura-aturan untuk mengontrol informasi dalam setiap tahap detail.

Aturan Dokumen Program
Dokumen program menentukan misi (harapan) dari proyek. Dokumen tersebut juga merupakan kumpulan semua keputusan dari batas dan arah dari proyek. Ini merupakan kontrak resmi dari klien dan arsitek tentang kulaitas dari hasil (tujuan) dari proyek dan konteks (kondisi eksisting) dimana proyek tersebut dikerjakan.
Desain dipenuhi dengan harapan, tujuan-tujuan, keputusan desain yang berusaha untuk menyelesaikan banyak konflik yang muncul sehingga hasilnya mengarah pada kemungkinan terbaik atau seimbang, dimana membuat kemungkinan terbaik dalam kualitas hidup.

Kondisi Eksisting
Analisa merupakan bagian dari proses pemrograman yang bertugas meng-eksplorasi dan menjelaskan kondisi eksisting atau konteks dimana suatu desain sedang dikerjakan. Dalam pemrograman, antara kemampuan membuat sintesa dan dan analisa merupakan bagian penting untuk menghasilkan penegasan terhadap kondisi masa depan, persyaratan keberhasilan proyek dan pembuatan tujuan, persyaratan tampilan dan konsep.
Webster’s (1966) mendefinisikan analisa sebagai,
“a breaking up of any whole into its parts so as to find out their nature, function, etc.”
dan sintesa sebagai,
“The putting together of parts or elements so as to form a whole”.

Pengumpulan dan analisis data tentang kondisi eksisting atau konteks dari desain adalah tahap yang sangat penting terhadap keberhasilan dalam memahami batasan dan kemungkinan dari problem desain.

Pengaturan Kerangka Kerja
Pena(1987) dalam tulisannya memutuskan untuk membagi isu desain dalam 4 kategori yaitu, bentuk, fungsi, ekonomi, waktu. Palmer(1981) membuat 3 kategori untuk desain isu yaitu, factor manusia, factor fisik, dan factor eksternal. White(1972) mengkonsentrasikan tentang pembuatan daftar fakta dari kondisi eksisting dan menggunkan kategori proyek umum, klien, keuangan, kode, perencanaan dihubungkan dengan organisasi, fungsi, site, iklim dan pertumbuhan, dan perubahan. Tulisan ini memaparkan tentang penggunan isu desain sebagai alat pengkategoorian untuk mengorganisasi informasi desain dengan fakta yang ada, value, Goals, Perfomance Requirements, and Concepts.
Masing-masing ahli pemrograman atau proyek mungkin mempunyai format yang berbeda dalam mengorganisasikan data. Inti sebenarnya adalah harus ada suatu kerangka kerja untuk pengaturan yang memungkinkan seorang programmer dapat melacak informasi yang tertinggal, hilang atau tidak berguna.

Kondisi Masa Depan
Untuk memproyeksikan kebutuhan yang akan dating, programmer harus membuat konsep untuk mempertemukan harapan besarnya proyek dan masing-masing bagian. Proposal untuk kondisi masa depan atau desain yang sempurna adalah suatu pernyataan untuk mendekati tingkat dari hasil rancangan gedung tersebut. Harapan desain dari klien untuk kualitasn lingkungan menjadi rangkaian kekuatan internal yang membentuk rancangan.

Tingkatan Keputusan
Terdapat 4 bagian tahap dalam membuat program untuk menjelaskan kondisi masa depan : membuat misi, membangun tujuan proyek, membuat ketentuan persyaratan tampilan, dan membangun perhubungan konsep.
Misi : agar promis tentang desain menjadi sesuatu yang jelas, misi seharusnya membuat artikulasi yang tidak membuat pembaca bertanya. Misi seharusnya menjawab pertanyaan ,”Kenapa kita mengerjakan proyek ini?” dan “Apa kontribusi proyek ini untuk dunia?”. Webster(1966) mendefinisikan misi sebagai ,
“the special duty or function on which someone is sent, a special task or calling.”
Pernyataan misi merupakan landasan konsep untuk suatu proyek. Semua tujuan, persyaratan tampilan, dan konsep harus mendukung dan searah dengan misi dari proyek.
Tujuan : agar misi dapat dilaksanakan, tujuan seharusnya dibuat dalam bentuk yang jelas kualitasnya. Tujuan merupakan pernyataan dari suatu kualitas ideal dimana rancangan seharusnya sukses secara keseluruhan 100%.
Persyaratan Tampilan : agar tujuan desain dapat direalisasikan, bangunan harus berfungsi secara benar , menunjukkan tahap harapan yang bagus. Persyaratan tampilan merupakan kendaraan untuk komunikasi dari derajat fungsi yang disyaratkan untuk mengimplementasikan tujuan. Persyaratan tampilan disebutkan oleh Pena(1987) sebagai “statement of the problem” yaitu ringkasan dari persyaratan tampilan atau “design criteria.” Hal tersebut juga disebut sebagai “objectives” tetapi kata tersebut terlalu umum, bersinggungan dengan kata “goals”.
Konsep : agar bangunan berfungsi sesuai harapan dari tampilan, secara nyata diatur yang diarahkan untuk fungsi yang diutamakan. Konsep merupakan diagram yang mengilustrasikan perhubungan organisasi secara ideal. Konsep dapat dibuat untuk setiap tingkatan organisasi dalam desain, dari tingkat ide utama sampai dengan tingkat yang detail.

BAGAIMANA PENYESUAIAN PEMROGRAMAN DALAM PROSES DESAIN ?
Proses Konvensional
Dokumen standar menurut AIA membagi desain proses menjadi beberapa tahap, yaitu : pre-design services (termasuk pemrograman), schematic design, design development,construction documents, construction administration, and post-design services.
Masing-masing bagian desain didalam AIA sudah termasuk analisis, sintesis, dan evaluasi. Dokumen program merupakan perjanjian legal antara arsitek dank lien dalam hal ruang lingkup, titik berat, dan arah dari rancangan proyek tersebut. Dengan kata lain, dokumen tersebut merupakan esensi dari problem desain dan perjanjian arsitek untuk membuat kualitas dari tampilan yang diinginkan desain tersebut.
Pre-design Services
Pre-design services selayaknya termasuk didalamnya adalah kebutuhan, studi kelayakan, rencana induk dan jangka panjang, variasi pemilihan dari riset desain, dan terkadang contoh pembangunan. Pemrograman biasanya termasuk servis tambahan dalam tahap pre-design.
Needs Assesment and Feasibility Studies : merupakan tahap pre-design dari proses desain dimana untuk menyelesaikan problem aktifitas sangat penting untuk dikerjakan oleh tenaga ahli pemrograman. Beberapa pre-design sering mempersyaratkan kemampuan untuk membuat sebuah studi kelayakan untuk proyek. Termasuk disini adalah beberapa jenis alternatif proposal konsep untuk lahan tersebut dengan beberapa jenis fungsi, ukuran, konsep, dan biaya untuk diplih klien kita.
Studi kelayakan merupakan bagina yang sangat mendasar untuk pertimbangan yang cukup bagi pemberi dana, pembangun, dan atau klien untuk membuat keputusan terhadap nasib proyek tersebut berjalan atau tidak.
Master Planning : Seperti juga studi kelayakan, adalah pemrograman dengan cara yang singkat dan dengan detail yang minimal. Konsep umum tentang sirkulasi, fungsi bangunan, massa, dan penempatan dikerjakan dengan tahap-tahap perencanaan.
Building Prototypes : Pemrograman dapat menggambarkan kondisi kritis suatu pembangunan dari prototype gedung. Jika suatu rancangan diulang dalam beberapa situasi yang sama, sehingga asumsi dasar dapat diterapkan dengan baik.
Programming Research : Riset untuk pemrograman dalam merancang bangunan dapat berbentuk beberapa macam. Terdapat beberapa macam jenis riset yang dapat dilakukan seorang programer tergantung dari tingkat kesulitan dari penggalian beberapa isu dalam memahami spesifikasi bangunan. Brill(1984) telah melakukannya dalam meningkatkan produktifitas kantor, dan Farbstein(1987) melakukannya dalam mengatur lobbi kantor pos. Marcus(1975) dan Marcus-Sarkisian(1986) melakukan riset terhadap tempat tinggal, dan Howell(1980) juga melakukan riset pengembangan. Perancangan rumah sakit, penjara, sekolah, semua membutuhkan riset pengembangan terhadap literature yang arsitektural sehingga programmer dapat menggunakan sebagai sumber pustaka.
Post-design Services
Post-design services mungkin juga menggunakan kemampuan riset /analisis dan sintesis dari seorang programmer untuk membuat petunjuk bagi pengguna bangunan,adaptasi bangunan, petunjuk terhadap okupansi setelah terbangun, dan mengumpulkan informasi dari proyek sebagai referensi material untuk proyek yang akan dating dengan jenis gedung yang sama.
Building Users’ Manual : salah satu hasil dari kemampuan programmer adalah sebuah petunjuk tentang pembangunan gedung tersebut.

Model lain
Descriptive Models: Heading for a solution
Penjelasan dari proses desain telah sering dlakukan banyak periset untuk menangkap intisari dari apa yang dikerjakan seseorang ketika mereka menemukan ketertarikan baru tentang sesuatu. Proses tersebut mempunyai beberapa jenis, tiga tahap, lima tahap, sepuluh tahap dan beberapa lainnya dengan variasi jumlah dan nama tahap-tahap tersebut(Koberg dan Bagnall 1991,27).
Semua pemaparan tentang proses desain intinya terdapat tiga aktifitas pokok : analisa, sintesa, evaluasi. Pemrograman konsisten terhadap tiga bagian aktifitas ini dalam proporsi masing-masing.
Proses tersebut tidak linier, mulai dari analisis, sintesis, evaluasi, tidak terdapat tahapan yang selalu lurus.

Zeisel Model
Zeisel seorang sosiolog, mempunyai pandangan tersendiri tentang proses desain. Dia berpendapat tentang imaging, presenting, dan testing.
Imaging adalah bagian dari sintesis, yang membangun sebuah konsep tentang apa yang selayaknya ada untuk kondisi masa depan. Presenting adalah akktifitas pembuatan gambar yang dapat dikomunikasikan ke orang lain, berupa gambar, maket, atau computer.
Testing merupakan bagian dari proses evaluasi, dimana image(konsep) dapat diterima kesesuaiannya dengan criteria dari program desain.

Interaksi Program dengan Perancangan
Programer mungkin membuat dokumen program yang berdiri sendiri atau terlepas dari perancang. Ataupun menjadi satu bagian dengan proses desain.