Kajian Teori Sustainable Architecture

[Amos Rapoport]
Sustainability menurut Amos Rapoport dalam implikasinya dengan lingkungan buatan selalu melibatkan ‘meaning’, yang timbul akibat konflik antara kriteria ‘sustainability’ dan ‘wants’. Dalam kasus Mesiniaga,Bioclimatic Skyscraper, ‘meaning’ dapat dibedakan menjadi ‘meaning of sustainability’ dan ‘meaning in sustainability’.
Dalam ‘meaning of sustainability’ bisa dilihat bahwa terjadi ‘change and continuity’ dari konsep dan fisik bangunan. Dalam konsep, perubahan (change) bisa dilihat pada ‘meaning’ dari ‘bioclimatic design’ yang dulu pada masyarakat tradisional (traditional environment) alam tidak dengan sengaja menjadi batasan (constraint) dari wants manusia (karena lemahnya teknologi, populasi manusia yang masih sedikit dan seterusnya), tetapi sekarang (dalam contemporary environment), alam dengan sengaja dijadikan batasan dari wants untuk mencapai lingkungan yang sustainable. Sedang continuity dari konsep bisa dilihat dari alam yang tetap menjadi batasan dari wants.
Pada fisik, change and continuity, bisa dilihat dari :
• Plants (tanaman)
Kalau dulu pada manusia tradisional yang tidak mengenal bangungan tinggi, manusia dalam lingkungan buatannya bisa langsung berhubungan dengan ruang luar (dengan tanaman, air hujan, matahari, udara segar dan seterusnya). Maka disini (Mesiniaga), konsep tersebut tetap ingin dipakai dengan adanya hubungan langsung antara ruang luar dengan ruang dalam, sehingga dapat menambah kesejukan di dalam ruang dan juga supaya pemakai di dalam bangunan tetap dapat melihat hijaunya tanaman (tidak merasa terkurung dalam bangunan). Tetapi hanya saja sekarang digunakan pada bangunan berlantai lebih dari satu. Selain juga digunakan untuk fungsi estetis dan ekologis.
• Terraces (teras)
Manusia tradisional hidup dalam suasana komunal. Dalam Mesiniaga, fungsi komunal ditampilkan disekeliling bangunan dalam tampilan teras-teras lebar sebagai ruang komunal selain sebagai ruang penghawaan. Sehingga user tetap dapat merasakan ruang luar dan tidak terkungkung didalam bangunan seperti umumnya bangunan bertingkat lainnya.
• Air hujan.
Air hujan, dalam Mesiniaga, tidak secara vertikal langsung diturunkan ke tanah, tetapi secara spiral dengan perlahan dialirkan kebawah. Fungsinya, selain untuk menyirami tanaman yang juga ditanam secara spiral, juga untuk mengesankan bahwa ruang dalam bisa tetap berhubungan dengan ruang luar (dengan terdengarnya gemericik air), selain juga bisa untuk menambah kesejukan didalam bangunan.
Sedang ‘meaning in sustainability’ bisa dilihat dari kemampuan Mesiniaga untuk memuaskan ‘wants’. Baik wants dari user dan wants dari bangunan. Karena bangunan berkeinginan untuk memasukkan angin sebanyak mungkin kedalam bangunan, karena ingin memanfaatkan air hujan semaksimal mungkin, maka dibuat bentuk bulat untuk bangunan. Secara struktur, bulat sangat stabil dan dengan sistem spiral, air hujan dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Karena itu eksterior bangunan berbentuk bulat. Tetapi wants dari penghuni yang ingin memfungsikan bangunan tersebut sebagai kantor, menginginkan bentuk kotak karena efektif dan efisien. Bukan berarti karena bertolak belakang maka wants dari penghuni ditekan oleh wants dari bangunan. Ruang dalam tetap memakai bentuk-bentuk kotak, sedang ruang yang tersisa digunakan sebagai teras, untuk fungsi ruang komunal dan transisi ruang dalam dan ruang luar, selain juga berfungsi sebagai penghawaan.

One thought on “Kajian Teori Sustainable Architecture

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s