Mengelola Konsep

Mengapa konsep harus dikelola ? mungkin pertanyaan tersebut muncul sebelum kita lebih dalam mempelajari tentang proses mengelola konsep. Didalam perancangan arsitektur kita musti mempunyai sebuah strategi dalam menyelesaikan banyak permasalahan yang muncul. Seperti kita ketahui dalam topik diskusi sebelumnya konsep merupakan lebih banyak berhubungan dengan penyelesaian-penyelesaian secara sistematik dalam setiap aspek persoalan perancangan arsitektur.

Banyak aspek yang disentuh dalam perancangan arsitektur. dengan banyaknya aspek tersebut tentu tidak gambang untuk membuat pengaturan terhadap masing-masing aspek yang perlu diselesaikan dalam skal prioritas. Menyelesaikan skala prioritas menjadi sangat penting ketika menyangkut parameter waktu penyelesaian. Tidaklah mungkin menyelesaikan semua persoalan jika tidak di eskalasikan dan dipetakan arean mana dalam seluruh persoalan tersebut yang membutuhkan penanganan khusus.

Jangan dibayangkan sebuah konsep terus semua masalah akan terselesaikan ! dalam setiap aspek arsitktur anda akan menemui persoalan yang harus diselesaiakan sesuai dengan tema yang anda usung. Tema ? yah, memang kita dalam membuat konsep-konsep arsitektural harus didasarkan pada pemahaman tema yang kita munculkan diawal perancangan. Kenapa harus sesuai tema ? karena agar semua konsep yang kita hasilkan mempunyai satu pedoman latar belakang yang sama, sehingga lebih mudah dalam membuat struktur pertanggungjawaban yang konsisten. Meskipun berinduk pada sebuah tema, konsep-konsep ini juga sebaiknya dikelompokkan dalam beberapa grup agar mudah mengenali persoalan dan penyelesaiannya.

Kita dapat meng-konsetrasikan konsep-konsep tersebut dalam grup-grup yang sudah kita tentukan. Penentuan grup tersebut sangat tergantung dengan tujuan dari tematik kita. Sehingga tematik yang kita rancang dapat diujudkan dalam konsep-konsep tersebut.

Tematik ——-[grup]—–konsep-konsep

Keuntungan yang didapat jika kita melakukan prosedur yang terstruktur dalam pengelolaan adalah proses evaluasi dan mencari titik kesalahan dalam proses perancangan jadi lebih mudah.

Iklan

MENDEFINISIKAN ISU

Sebagian besar perancang memulai proyek mereka dengan menangkap informasi yang dapat menunjukkan sesuatu atau segala sesuatu yang harus dikerjakan dengan jenis bangunan yang akan dikerjakan. Dengan menyaring informasi kedalam kategori isu-dasar, mempermudah untuk membangun strategi dan rencana penelitian untuk informasi yang tidak tertangkap atau hilang, meng-identifikasi keputusan kritis yang perlu dibuat, dan membuat format yang searah untuk laporan terhadap klien.

Pemrograman isu-dasar merupakan alat bagi perancang untuk membuat keputusan pendekatan yang jelas diantara sebagian besar fakta yang menarik dan informasi yang penting diawal proses desain. Proses ini merupakan cara menyaring informasi kedalam kategori yang berguna diawal proyek, memberikan perancang dorongan percaya diri yang kuat dari kesseluruhan proses yang dapat diatur.

Jenis Isu

Isu berarti segala sesuatu, kecenderungan, pertanyaan, topic, proposisi, atau situasi dimana permitaan desain agar bangunan tersebut sesuai dengan keinginan klien dan pengguna.

Dalam arsitektur beberapa isu yang umum adalah sirkulasi, keamanan, kewilayahan, privasi, imej, guna energi, fleksibilitas, dan visibilitas. Dalam strategi pemrograman isu merupakan parameter untuk menyaring informasi desain kedalam daftar pengaturan untuk mendukung pembuatan keputusan yang efisien.

Daftar isu mendukung  sebagian besar dari kebutuhan desain bangunan. Mungkin tidak seluruhnya memnuhi, namun sebagian besar pembuatan keputusan banyak mencakup dalam daftar tersebut. Masing-masing isu mayor mempunyai sub-isu. Didetail untuk menghasilkan persyaratan tampilan yang sebelumnya ditetapkan tujuannya.

Issue Check List


Audibility

– Behaviour Setting

Circulation

– Information

– Material

– Parking

– Pedestrian

– Vehicles

Comfort

– Physical

– Psychological

Convenience

Durability

– Economy

– Elegant

– Phasing

– Quality

Legibility

– Layering

– Orientation

– Plan recognition

– Sequence

Maintenance

Mood/ Ambience

– Attitude

– Emotional Response

– Spirit of place

Olfactory

Personalization

– Group

– Individual

Privacy

– Group

– Individual

Energy Efficiency

Environmental Impact

Flexibility

– Adaptability

– Choice/ Variety

– Expansion/ contraction

– Multi-use

Image

– Identity

– Message

– Ordering/ proportion

– Status/ Hierarcy

– Symbolism

Interaction

– Group participation

– Social

Resource Management

Safety

– Accident

– Hazards

Security

– Assault

– Robbery

– Unauthorized acces/entry

– Vandalism

Territory

– Group

– Individual

Visibility

 

 

FAKTA

Site, iklim, kode bukanlah isu namun termasuk fakta, yaitu kondisi eksisting atau konteks  desain harus ditampilkan. Fakta merupakan obyek, spesifik, dan teruji dengan observasi.

Facts


SITE     

CLIMATE

Degree days

Precipitation

Solar Exposure

Wind speed and direction

CODE

Building

Zoning

SITE CONDITIONS

Cit Services/ transit

Geology

Hidrology

Noise

Odors

Site features (rock, flora, fauna, stream,etc.)

Soil bearing capacity

Topografy

Utilities

View to and from site

TRAFFIC LEVELS

Bycycles

Pedestrians

Vehicles

PERSON/USER

ACTIVITY ANALYSIS

AGE GROUP

ANTHROPOMETRIC

DISABILITY

ENVIRONMENTAL HISTORY

NUMBER OF PEOPLE/ GROUPINGS

Organizational structure

PERCEPTUAL ABILITIES

PERSONALITY

ROLES

RULES

VALUES

CONTEXT

CULTURAL

DEMOGRAPHIC

ECONOMIC

ETHICAL

ETHNIC

HISTORICAL

POLITICAL

SOCIAL

Solutions

Pintu masuk, bentuk atap, penerangan lampu, jenis ruangan, dll, juga bukanlah isu. Obyek tersebut merupakan konsep atau solusi yang muncul akibat isu tersebut.

Solutions

COMPOSITIONAL STRATEGIES

EQUIPMENT

FORM

Color

Dimension

Direction

Location

LIGHTING

MATERIAL

Building

Interior

Lanscape

Texture

Transparency

ORIENTATION

SPACE DEFINITION

Enclosed

Open