Bagaimana Meng-awali Merancang Arsitektur ? [2] – Riset Dasar

image

Merancang dalam Arsitektur pada prinsipnya merupakan serangkaian keputusan yang didasarkan data ataupun fakta baik kuantitatif maupun kualitatif untuk menjawab sebuah atau beberapa masalah. Merancang juga mendapat arti memutuskan setiap saat dalam deretan solusi yang dikembangkan secara kreatif oleh perancang arsitektur. Pertanyaan penting selanjutnya adalah bagaimana membuat keputusan yang baik dalam setiap proses perancangan arsitektur ?
Sebelumnya pada tulisan bagian pertama telah disinggung penting nya sebuah riset yang mendasari setiap keputusan dalam proses perancangan. Proses perancangan di dunia arsitektur lebih banyak didasarkan pada kemampuan data dalam memberikan tren atau kecenderungan terhadap rupa desain tersebut. Semakin banyak riset (baik skala kecil atau besar) akan memberikan keakuratan terhadap fungsi dan ergonomi hasil karya arsitektur tersebut. Dibutuhkan sebuah pengetahuan yang luas dari hasil riset arsitektur dalam semua level ruang lingkup.
Sampai dengan pemahaman ini kita melihat betapa fakta dan analisa menjadi penentu gagasan-gagasan ide untuk menyelesaikan sebuah proses perancangan yang cukup panjang. Pengkayaan terhadap pengetahuan secara meluas menjadi sangat diperlukan bagi seseorang yang akan melakukan proses perancangan arsitektur.
Cobalah selalu untuk melakukan pengkayaan terhadap wawasan pengetahuan secara terus-menerus, baik kosarupa, kosakata, kosadesain, untuk mendapatkan solusi yang kreatif sebelum melakukan proses desain arsitektur. [ bersambung]

Iklan

Bagaimana Meng-awali Merancang Arsitektur ? [1]

Seringkali seorang yang dalam tahap belajar melkukan eksplorasi desain merasa bingung akan apa yang sebaiknya dilakukan terlebih dahulu. Hal tersebut sebenarnya dilatarbelakangi oleh luasnya aspek perancangan dalam dunia arsitektur. Arsitektur melingkupi sebuah domain yang sangat luas. tidak hanya masalah aspek fisik tapi juga aspek non fisik. Sehingga titik tolak perncangan bisa saja berawal dari sisi yang “tak terjamah” dengan baik dari aspek perancangan tersebut.

Saya mengibaratkan dalam dunia perancangan seperti sebuah bola, dimana permukaan bola bisa diakses dari semua sisi. tergantung kepentingan atau konteks apa yang kita kehendaki dalam mencapai tujuan perancangan obyek tersebut. Dengan luasnya titik awal perancangan tersebut sebenarnya justru memberikan ruang yang sangat luas untuk memulai perancangan secara khusus. Justru dalam situasi seperti ini kita diberi kebebasan yang tidak terbatas (sesuai karakter bola) untuk melakukan eksplorasi kreatif secara maksimal. Apakah ada cara pasti untuk memulai merancang ? Dalam perspektif saya jawabannya adalah tidak ! Namun untuk proses pembelajaran awal ada beberapa metode untuk menuntun dan mempermudah proses eksplorasi perancangan arsitektur tersebut.

Pembekalan awal untuk melakukan perancangan arsitektur harus didasari dengan pengetahuan tentang aspek fisik yaitu bangunan dan lingkungannya. Aspek non-fisik akan melengkapi kemampuan arsitektur untuk memberikan “nilai lebih” terhadap pengguna dan penikmat. Untuk mendapatkan gambaran secara nyata terhadap konteks perancangan yang akan kita kerjakan sangat disarankan untuk membuat riset kecil tentang obyek perancangan yang akan kita kerjakan. Jenis dan batas riset(observasi) yang kita lakukan merupakan variabel yang tidak baku. bisa saja riset tersebut memakan waktu dan energi yang cukup banyak jika obyek perancangan tersebut memang kompleks dan rumit. (berlanjut….)

scan0275

Arsitektur Makam Bung Karno Sekedar Kemegahan atau Simbolik ?

Gambar

Arsitektur Makam Bung Karno Sekedar Kemegahan atau Simbolik ?

Ketika kita datang di makam Bung Karno di Blitar kita akan dihadapkan ambiguisme antara melakukan tradisi sekar dan wisata. Bangunan penunjang pun seolah bermuka dua antara menarik kesenangan dan kesakralan. Apapun itu anda akan mempunyai kenangan indah diantara dua rasa tersebut ketika meninggalkan tempat tersebut.

PENGENDALIAN RADIASI MATAHARI (SOLAR RADIATION CONTROL)

 

Pengendalian Radiasi Matahari (Solar Radiation Control)
Pengaturan sinar matahari yang masuk kedalam bangunan merupakan langkah utama yang harus dilakukan dalam proses pendinginan secara pasif. Modulasi sinar matahari dalam proses pengaturan ini dapat dicapai dengan memperhatikan (Santamouris dkk,1996) :
– Orientation dan aperture geometry
– Shading devices
– Property of opaque dan transparent surfaces.
Orientasi dan bukaan jendela merupakan aspek yang selalu berkaitan erat dalam mengendalikan radiasi matahari yang masuk bangunan. Bangunan dengan kebutuhan sinar matahari untuk menghangatkan ruangan membutuhkan bukaan dan arah orientasi menuju sinar matahari. Sebaliknya bangunan dengan tingkat kebutuhan radiasi panas yang rendah membutuhkan bukaan dan arah orientasi yang menghindari bertatapan langsung dengan sinar matahari. Dengan mengatur bentuk dan arah orientasi radiasi langsung matahari dapat diatur sesuai dengan posisi lokasi dari equator.
Penggunaan elemen pembayangan merupakan langkah lanjutan yang dapat ditempuh setelah mengendalikan orientasi dan bukaan. Jika orientasi dan bukaan tak dapat ditoleransi dikarenakan kebutuhan perancangan, maka elemen pembayangan menjadi sangat penting. Elemen pembayangan dapat dirancang sesuai dengan posisi dan arah kedatangan radiasi matahari sehingga bukaan dapat terlindung dari radiasi sinar langsung. Terdapat 2 klasifikasi elemen pembayangan (Santamouris dkk, 1996), yaitu :
– Elemen pembayangan permanen (fixed shading elements), disini termasuk dalam posisi eksternal antara lain dalam bentuk overhang, vertical fins, kombinasi horisontal dan vertikal (egg-crate type), balkon. Jika dalam posisi internal antaralain dalam bentuk light-shelves dan louvre di atas jendela.
– Elemen yang dapat diatur (adjustable /retracable shading elements), yang termasuk elemen eksternal adalah tenda, awning, blinds, pergola, dan yang internal seperti curtains, rollers, venetian blinds.
Operasional dari elemen-elemen tersebut sangat tergantung dari kebutuhan ruangan tersebut. Faktor diluar bangunan yang juga dapat berfungsi sebagai elemen pembayangan adalah vegetasi disekitar bangunan. Vegetasi yang berada dekat dengan jendela dapat memberikan efek pembayangan dan mengakibatkan berkurangnya radiasi langsung sinar matahari.
Penetrasi radiasi matahari menuju bangunan melalui jendela juga ditentukan oleh kualitas solar optical dari material kaca tersebut. Bahan yang bersifat opaque dan transparan mempunyai sifat yang berbeda dalam meneruskan radiasi langsung sinar matahari. Dengan mengendalikan thermal property dari material kaca penetrasi dapat diatur jumlahnya. Sifat material transparan dikendalaikan melalui aspek reflectivity, solar transmittance, dan absorptance.

Insulasi Termal (Thermal Insulation)

Insulasi adalah penggunaan material dengan nilai konduktan rendah untuk mengurangi aliran energi melintas material tersebut. Untuk mereduksi alira energi tersebut material harus mempunyai nilai resistan yang tinggi (nilainya kebalikan dari konduktan). Secara umum udara merupakan insulator yang bagus untuk menghambat panas, dengan syarat proses konveksi dapat ditekan. Sebagian besar material mempunyai sifat insulasi namun terdapat tiga bagian besar tipe insulation, yaitu :

– Resistive insulation, merupakan menghambat aliran panas dengan mengandalkan nilai resistan pada proses konduksi.

– Reflective insulation, adalah mereduksi aliran radiasi panas.kemampuan material untuk menyerap atau meradiasikan kembali infra-red sangat tergantung dari bentuk dan warnanya. Penyerap paling bagus adalah material dengan warna hitam dan sebaliknya warna putih merupakan paling bagus sifat reflektifnya.

– Capasitive insulation, mempunyai karakteristik yang bermanfaat banyak jika fluktuasi temperatur diantara dua permukaan sangat besar. Sehingga insulasi jenis ini tidak bekerja dalam kondisi steady-state. Metode ini memanfaatkan penundaan aliran panas yang tersimpan dalam material bangunan tersebut (time-lag). Sehingga dapat memindahkan kondisi puncak aliran panas pada waktu yang dibutuhkan.

Meskipun insulasi dapat dibuat dengan menggabungkan beberapa jenis materisl bangunan, namun secara fisik dapat dibagi menjadi 5 jenis, yaitu : blankets, blown-in, loose-fill, rigid foam board, reflective films (Mars dalam htttp//Squ1.org/wiki/material).

INDIKATOR PERANCANGAN TERMAL

 

Dalam melakukan perancangan termal pada bangunan terdapat beberapa aspek yang diperhatikan untuk mengevaluasi dan merencanakan kinerja termal sebuah bangunan.

Temperatur Tiap Jam (Hourly Temperature)

Temperatur merupakan satuan indikator yang digunakan sebagai parameter kenyamanan. Temperatur yang masuk dalam kategori nyaman adalah temperatur yang dapat dirasakan tubuh manusia secara nyaman tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin dalam ukuran tubuh manusia.

Temperatur tiap jam dalam bangunan merupakan hasil akhir yang biasanya dapat diukur secara langsung efeknya oleh pengguna ruangan. Temperatur merupakan indikator terjadinya aliran panas kedalam ruangan ataupun keluar ruangan. temperatur yang tinggi menjelaskan banyak aliran panas yang menuju ruangan tersebut dan sebaliknya. Didalam grafik temperatur juga dapat dilihat rentang waktu yang memasuki kondisi nyaman yang sesuai okupansinya.

Selain temperatur dalam bangunan, terdapat temperatur diluar bangunan yang dapat digunakan sebagai pembanding dalam indikator tingkat adaptasi temperatur bangunan terhadap lingkungan luarnya.

Fluktuasi Panas Tiap Jam ( Hourly Gains dan Losses)

Ketika temperatur mengalami perubahan terjadi perubahan kondisi aliran panas dalam ruangan. Dengan melakukan control terhadap perubahan aliran panas, dapat diketahui bagian-bagian utama menyebabkan perubahan tersebut. Perancangan termal membutuhkan panduan dalam melakukan perubahan yang menyangkut komposisi penyebab panas dalam bangunan atau ruangan. Grafik temperatur tiap jam dan perubahan beban panas yang terjadi dapat dihubungkan untuk mendapatkan perhubungan penyebab kenaikan temperatur ruangan.

Periode Ketidaknyamanan ( Discomfort Period)

Salah satu parameter dalam strategi optimasi umumnya menggunakan nilai periode ketidaknyamanan selama jam okupansi. Periode ketidaknyamanan merupakan akibat dari pengelompokan nilai temperatur yang tidak memasuki kategori temperatur nyaman. Periode ini dapat berupa kondisi overheating atau underheating. Kondisi overheating terjadi jika temperatur yang terjadi pada jam tersebut melewati batas atas dari temperatur nyaman yang disyaratkan. Sebaliknya kondisiunderheating merupakan kondisi temperatur berada dibawah batas bawah yang diijinkan.

Beban Pemanasan dan Pendinginan (Heating and Cooling Loads)

Beban pemanasan atau pendinginan terhadap sebuah bangunan merupakan hasil analisa yang menunjukkan berapa derajat (degree hours) yang digunakan untuk menetralkan temperatur ruangan tersebut menuju temperatur nyaman. Kondisi nyaman tersebut berlakuk baik untuk kondisi overheating ataupun underheating. Kinerja degree-hours dalam satu tahun dapat dijadikan parameter untuk melihat pola usaha yang dilakukan dalam mencapai kondisi nyaman.

Distribusi Temperatur (Temperature Distribution)

Distribusi temperatur adalah pola sebaran prosentase nilai temperatur yang sama dalam rentang waktu 24 jam. Dengan mengetahui prosentase temperatur yang memasuki temperatur nyaman, maka kita dapat mengetahui prosentase periode nyaman dalam bangunan tersebut. Comfort period merupakan parameter lain dalam memahami tingkat optimasi dari periode okupansi pengguna.

 

Kearifan Lokal

Gambar

Kearifan Lokal

Banyak dari kita masih menganggap bahwa arsitektur (bangunan) lokal merupakan bangunan yang tidak efisien dan efektif. Dalam pikiran saya juga mempertanyakan apa sebenarnya yang membuat terminologi itu muncul. Karena faktual yang saya dapatkan sendiri justru mempunyai kondisi yang terbalik. Justru arsitektur lokal sangatlah mempunyai adaptabilitas yang cukup tinggi. Pada prinsipnya arsitektur lokal tumbuh secara alami dengan durasi waktu yang cukup panjang. Dengan ujian-ujian yang banyak dilakukan oleh alam dan habitat sekitarnya, arsitektur lokal mempunyai daya tahan yang dapat diandalkan dalam waktu yang lama.