PENGENDALIAN RADIASI MATAHARI (SOLAR RADIATION CONTROL)

 

Pengendalian Radiasi Matahari (Solar Radiation Control)
Pengaturan sinar matahari yang masuk kedalam bangunan merupakan langkah utama yang harus dilakukan dalam proses pendinginan secara pasif. Modulasi sinar matahari dalam proses pengaturan ini dapat dicapai dengan memperhatikan (Santamouris dkk,1996) :
– Orientation dan aperture geometry
– Shading devices
– Property of opaque dan transparent surfaces.
Orientasi dan bukaan jendela merupakan aspek yang selalu berkaitan erat dalam mengendalikan radiasi matahari yang masuk bangunan. Bangunan dengan kebutuhan sinar matahari untuk menghangatkan ruangan membutuhkan bukaan dan arah orientasi menuju sinar matahari. Sebaliknya bangunan dengan tingkat kebutuhan radiasi panas yang rendah membutuhkan bukaan dan arah orientasi yang menghindari bertatapan langsung dengan sinar matahari. Dengan mengatur bentuk dan arah orientasi radiasi langsung matahari dapat diatur sesuai dengan posisi lokasi dari equator.
Penggunaan elemen pembayangan merupakan langkah lanjutan yang dapat ditempuh setelah mengendalikan orientasi dan bukaan. Jika orientasi dan bukaan tak dapat ditoleransi dikarenakan kebutuhan perancangan, maka elemen pembayangan menjadi sangat penting. Elemen pembayangan dapat dirancang sesuai dengan posisi dan arah kedatangan radiasi matahari sehingga bukaan dapat terlindung dari radiasi sinar langsung. Terdapat 2 klasifikasi elemen pembayangan (Santamouris dkk, 1996), yaitu :
– Elemen pembayangan permanen (fixed shading elements), disini termasuk dalam posisi eksternal antara lain dalam bentuk overhang, vertical fins, kombinasi horisontal dan vertikal (egg-crate type), balkon. Jika dalam posisi internal antaralain dalam bentuk light-shelves dan louvre di atas jendela.
– Elemen yang dapat diatur (adjustable /retracable shading elements), yang termasuk elemen eksternal adalah tenda, awning, blinds, pergola, dan yang internal seperti curtains, rollers, venetian blinds.
Operasional dari elemen-elemen tersebut sangat tergantung dari kebutuhan ruangan tersebut. Faktor diluar bangunan yang juga dapat berfungsi sebagai elemen pembayangan adalah vegetasi disekitar bangunan. Vegetasi yang berada dekat dengan jendela dapat memberikan efek pembayangan dan mengakibatkan berkurangnya radiasi langsung sinar matahari.
Penetrasi radiasi matahari menuju bangunan melalui jendela juga ditentukan oleh kualitas solar optical dari material kaca tersebut. Bahan yang bersifat opaque dan transparan mempunyai sifat yang berbeda dalam meneruskan radiasi langsung sinar matahari. Dengan mengendalikan thermal property dari material kaca penetrasi dapat diatur jumlahnya. Sifat material transparan dikendalaikan melalui aspek reflectivity, solar transmittance, dan absorptance.

Insulasi Termal (Thermal Insulation)

Insulasi adalah penggunaan material dengan nilai konduktan rendah untuk mengurangi aliran energi melintas material tersebut. Untuk mereduksi alira energi tersebut material harus mempunyai nilai resistan yang tinggi (nilainya kebalikan dari konduktan). Secara umum udara merupakan insulator yang bagus untuk menghambat panas, dengan syarat proses konveksi dapat ditekan. Sebagian besar material mempunyai sifat insulasi namun terdapat tiga bagian besar tipe insulation, yaitu :

- Resistive insulation, merupakan menghambat aliran panas dengan mengandalkan nilai resistan pada proses konduksi.

- Reflective insulation, adalah mereduksi aliran radiasi panas.kemampuan material untuk menyerap atau meradiasikan kembali infra-red sangat tergantung dari bentuk dan warnanya. Penyerap paling bagus adalah material dengan warna hitam dan sebaliknya warna putih merupakan paling bagus sifat reflektifnya.

- Capasitive insulation, mempunyai karakteristik yang bermanfaat banyak jika fluktuasi temperatur diantara dua permukaan sangat besar. Sehingga insulasi jenis ini tidak bekerja dalam kondisi steady-state. Metode ini memanfaatkan penundaan aliran panas yang tersimpan dalam material bangunan tersebut (time-lag). Sehingga dapat memindahkan kondisi puncak aliran panas pada waktu yang dibutuhkan.

Meskipun insulasi dapat dibuat dengan menggabungkan beberapa jenis materisl bangunan, namun secara fisik dapat dibagi menjadi 5 jenis, yaitu : blankets, blown-in, loose-fill, rigid foam board, reflective films (Mars dalam htttp//Squ1.org/wiki/material).

INDIKATOR PERANCANGAN TERMAL

 

Dalam melakukan perancangan termal pada bangunan terdapat beberapa aspek yang diperhatikan untuk mengevaluasi dan merencanakan kinerja termal sebuah bangunan.

Temperatur Tiap Jam (Hourly Temperature)

Temperatur merupakan satuan indikator yang digunakan sebagai parameter kenyamanan. Temperatur yang masuk dalam kategori nyaman adalah temperatur yang dapat dirasakan tubuh manusia secara nyaman tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin dalam ukuran tubuh manusia.

Temperatur tiap jam dalam bangunan merupakan hasil akhir yang biasanya dapat diukur secara langsung efeknya oleh pengguna ruangan. Temperatur merupakan indikator terjadinya aliran panas kedalam ruangan ataupun keluar ruangan. temperatur yang tinggi menjelaskan banyak aliran panas yang menuju ruangan tersebut dan sebaliknya. Didalam grafik temperatur juga dapat dilihat rentang waktu yang memasuki kondisi nyaman yang sesuai okupansinya.

Selain temperatur dalam bangunan, terdapat temperatur diluar bangunan yang dapat digunakan sebagai pembanding dalam indikator tingkat adaptasi temperatur bangunan terhadap lingkungan luarnya.

Fluktuasi Panas Tiap Jam ( Hourly Gains dan Losses)

Ketika temperatur mengalami perubahan terjadi perubahan kondisi aliran panas dalam ruangan. Dengan melakukan control terhadap perubahan aliran panas, dapat diketahui bagian-bagian utama menyebabkan perubahan tersebut. Perancangan termal membutuhkan panduan dalam melakukan perubahan yang menyangkut komposisi penyebab panas dalam bangunan atau ruangan. Grafik temperatur tiap jam dan perubahan beban panas yang terjadi dapat dihubungkan untuk mendapatkan perhubungan penyebab kenaikan temperatur ruangan.

Periode Ketidaknyamanan ( Discomfort Period)

Salah satu parameter dalam strategi optimasi umumnya menggunakan nilai periode ketidaknyamanan selama jam okupansi. Periode ketidaknyamanan merupakan akibat dari pengelompokan nilai temperatur yang tidak memasuki kategori temperatur nyaman. Periode ini dapat berupa kondisi overheating atau underheating. Kondisi overheating terjadi jika temperatur yang terjadi pada jam tersebut melewati batas atas dari temperatur nyaman yang disyaratkan. Sebaliknya kondisiunderheating merupakan kondisi temperatur berada dibawah batas bawah yang diijinkan.

Beban Pemanasan dan Pendinginan (Heating and Cooling Loads)

Beban pemanasan atau pendinginan terhadap sebuah bangunan merupakan hasil analisa yang menunjukkan berapa derajat (degree hours) yang digunakan untuk menetralkan temperatur ruangan tersebut menuju temperatur nyaman. Kondisi nyaman tersebut berlakuk baik untuk kondisi overheating ataupun underheating. Kinerja degree-hours dalam satu tahun dapat dijadikan parameter untuk melihat pola usaha yang dilakukan dalam mencapai kondisi nyaman.

Distribusi Temperatur (Temperature Distribution)

Distribusi temperatur adalah pola sebaran prosentase nilai temperatur yang sama dalam rentang waktu 24 jam. Dengan mengetahui prosentase temperatur yang memasuki temperatur nyaman, maka kita dapat mengetahui prosentase periode nyaman dalam bangunan tersebut. Comfort period merupakan parameter lain dalam memahami tingkat optimasi dari periode okupansi pengguna.

 

Kearifan Lokal

Kearifan Lokal

Banyak dari kita masih menganggap bahwa arsitektur (bangunan) lokal merupakan bangunan yang tidak efisien dan efektif. Dalam pikiran saya juga mempertanyakan apa sebenarnya yang membuat terminologi itu muncul. Karena faktual yang saya dapatkan sendiri justru mempunyai kondisi yang terbalik. Justru arsitektur lokal sangatlah mempunyai adaptabilitas yang cukup tinggi. Pada prinsipnya arsitektur lokal tumbuh secara alami dengan durasi waktu yang cukup panjang. Dengan ujian-ujian yang banyak dilakukan oleh alam dan habitat sekitarnya, arsitektur lokal mempunyai daya tahan yang dapat diandalkan dalam waktu yang lama.

Hubungan Bentuk Bangunan dan Pemanasan Ruangan

Bentuk bangunan mempunyai potensi dalam mengendalikan penerimaan panas terhadap permukaan selubung bangunan. Secara teori dengan meminimalkan permukaan yang berhadapan dengan jatuhnya radiasi langsung maka proses hantaran panas yang terjadi secara kuantitas juga menurun. Secara khusus beberapa sumber ilmiah membahas secara analisis mengenai fenomena tersebut. Markus & Morris (1980) mengungkap masalah fenomena Thermal Cube dalam proses optimasi fabric heat loss pada bangunan iklim dingin.
Tujuan dari optimasi bentuk bangunan adalah meminimumkan fabric heat loss.(Morris&Markus, 1980). Dengan analiasis terhadap Fabric loss per degree , dengan asumsi bahwa semua dinding mempunyai U-value yang sama, bangunan tersebut mempunyai denah kotak dan perbedaan pada masing-masing permukaan adalah sama, maka dalam perhitungan menunjukkan bahwa bentuk bentuk “cube” mempunyai rasio ‘surface/volume’ yang paling kecil (Morris&Markus, 1980).

Dalam menerima radiasi, bangunan mempunyai 3 (tiga ) elemen pokok yaitu dinding, jendela, dan atap. Bidang-bidang yang menerima radiasi dalam suatu bentuk bangunan ada 5 (lima) bagian ( 4 merupakan bagian dinding dan 1 bagian atap). Bagian-bagian tersebut yang mempengaruhi dan menyebabkan rasio minimum dari surface/volume seperti terlihat dalam tabel

Olgyay (1992) melakukan studi tentang bentuk optimum dengan membandingkan rasio bentuk mulai dari 5 : 1 , 4 : 1, 3 : 1, 2 : 1, 1 : 1, 1 : 2, 1 : 3, 1 : 4, 1 : 5, dengan parameter ukuran jumlah heat gains dan heat losses dalam beberapa jenis tipe iklim. Dari riset tersebut dihasilkan garis optimal terhadap masing-masing tipe iklim dalam masalah rasio bentuk bangunan. Dari observasi yang dilakukan tersebut didapat sebuah gambaran sebagai berikut :
1. Bentuk kotak tidak selalu optimal terhadap semua tempat atau lokasi
2. Semua bentuk yang diperpanjang pada sisi Utara-Selatan , selama musim dingin atau panas kurang efisien daripada bentuk kotak.
3. Kondisi optimum dalam setiap kasus dicapai dengan memanjangkan pada sumbu arah Timur-Barat.
Khusus untuk daerah Hot-Humid digambarkan pencapaian kondisi optimum dicapai dengan membentangkan rasio bentuk memanjang kearah Timur –Barat dengan nilai perbandingan 1 : 1,7. Hal tersebut yang paling mendekati dengan kenyataan dilapangan (untuk bangunan pendidikan tinggi) adalah rasio 1 : 3 dan 1 : 4 . kondisi optimum tersebut diatas dicapai dengan arah hadap yang tegak lurus atau satu sumbu dengan arah mata angin. Terdapat potensi masalah yang berbeda jika orientasi dari bangunan tidak searah sumbu Utara-Selatan.
Jika dilihat dari grafik pengamatan observasi Olgyay (1992), semakin panjang rasio kearah Timur-Barat, semakin besar nilai heat losses sedangkan nilai heat gains cenderung stabil. Hal tersebut mengisyaratkan bentuk yang lebih memanjang sebenarnya sangat menguntungkan dari aspek penghilangan panas bangunan. Bagaimanapun hal tersebut perlu dibuktikan dalam riset ini, mengingat observasi tersebut diatas dilakukan bukan pada daerah panas lembab yang mempunyai kondisi lebih spesifik

Mengelola Konsep

Mengapa konsep harus dikelola ? mungkin pertanyaan tersebut muncul sebelum kita lebih dalam mempelajari tentang proses mengelola konsep. Didalam perancangan arsitektur kita musti mempunyai sebuah strategi dalam menyelesaikan banyak permasalahan yang muncul. Seperti kita ketahui dalam topik diskusi sebelumnya konsep merupakan lebih banyak berhubungan dengan penyelesaian-penyelesaian secara sistematik dalam setiap aspek persoalan perancangan arsitektur.

Banyak aspek yang disentuh dalam perancangan arsitektur. dengan banyaknya aspek tersebut tentu tidak gambang untuk membuat pengaturan terhadap masing-masing aspek yang perlu diselesaikan dalam skal prioritas. Menyelesaikan skala prioritas menjadi sangat penting ketika menyangkut parameter waktu penyelesaian. Tidaklah mungkin menyelesaikan semua persoalan jika tidak di eskalasikan dan dipetakan arean mana dalam seluruh persoalan tersebut yang membutuhkan penanganan khusus.

Jangan dibayangkan sebuah konsep terus semua masalah akan terselesaikan ! dalam setiap aspek arsitktur anda akan menemui persoalan yang harus diselesaiakan sesuai dengan tema yang anda usung. Tema ? yah, memang kita dalam membuat konsep-konsep arsitektural harus didasarkan pada pemahaman tema yang kita munculkan diawal perancangan. Kenapa harus sesuai tema ? karena agar semua konsep yang kita hasilkan mempunyai satu pedoman latar belakang yang sama, sehingga lebih mudah dalam membuat struktur pertanggungjawaban yang konsisten. Meskipun berinduk pada sebuah tema, konsep-konsep ini juga sebaiknya dikelompokkan dalam beberapa grup agar mudah mengenali persoalan dan penyelesaiannya.

Kita dapat meng-konsetrasikan konsep-konsep tersebut dalam grup-grup yang sudah kita tentukan. Penentuan grup tersebut sangat tergantung dengan tujuan dari tematik kita. Sehingga tematik yang kita rancang dapat diujudkan dalam konsep-konsep tersebut.

Tematik ——-[grup]—–konsep-konsep

Keuntungan yang didapat jika kita melakukan prosedur yang terstruktur dalam pengelolaan adalah proses evaluasi dan mencari titik kesalahan dalam proses perancangan jadi lebih mudah.

MENDEFINISIKAN ISU

Sebagian besar perancang memulai proyek mereka dengan menangkap informasi yang dapat menunjukkan sesuatu atau segala sesuatu yang harus dikerjakan dengan jenis bangunan yang akan dikerjakan. Dengan menyaring informasi kedalam kategori isu-dasar, mempermudah untuk membangun strategi dan rencana penelitian untuk informasi yang tidak tertangkap atau hilang, meng-identifikasi keputusan kritis yang perlu dibuat, dan membuat format yang searah untuk laporan terhadap klien.

Pemrograman isu-dasar merupakan alat bagi perancang untuk membuat keputusan pendekatan yang jelas diantara sebagian besar fakta yang menarik dan informasi yang penting diawal proses desain. Proses ini merupakan cara menyaring informasi kedalam kategori yang berguna diawal proyek, memberikan perancang dorongan percaya diri yang kuat dari kesseluruhan proses yang dapat diatur.

Jenis Isu

Isu berarti segala sesuatu, kecenderungan, pertanyaan, topic, proposisi, atau situasi dimana permitaan desain agar bangunan tersebut sesuai dengan keinginan klien dan pengguna.

Dalam arsitektur beberapa isu yang umum adalah sirkulasi, keamanan, kewilayahan, privasi, imej, guna energi, fleksibilitas, dan visibilitas. Dalam strategi pemrograman isu merupakan parameter untuk menyaring informasi desain kedalam daftar pengaturan untuk mendukung pembuatan keputusan yang efisien.

Daftar isu mendukung  sebagian besar dari kebutuhan desain bangunan. Mungkin tidak seluruhnya memnuhi, namun sebagian besar pembuatan keputusan banyak mencakup dalam daftar tersebut. Masing-masing isu mayor mempunyai sub-isu. Didetail untuk menghasilkan persyaratan tampilan yang sebelumnya ditetapkan tujuannya.

Issue Check List


Audibility

- Behaviour Setting

Circulation

- Information

- Material

- Parking

- Pedestrian

- Vehicles

Comfort

- Physical

- Psychological

Convenience

Durability

- Economy

- Elegant

- Phasing

- Quality

Legibility

- Layering

- Orientation

- Plan recognition

- Sequence

Maintenance

Mood/ Ambience

- Attitude

- Emotional Response

- Spirit of place

Olfactory

Personalization

- Group

- Individual

Privacy

- Group

- Individual

Energy Efficiency

Environmental Impact

Flexibility

- Adaptability

- Choice/ Variety

- Expansion/ contraction

- Multi-use

Image

- Identity

- Message

- Ordering/ proportion

- Status/ Hierarcy

- Symbolism

Interaction

- Group participation

- Social

Resource Management

Safety

- Accident

- Hazards

Security

- Assault

- Robbery

- Unauthorized acces/entry

- Vandalism

Territory

- Group

- Individual

Visibility

 

 

FAKTA

Site, iklim, kode bukanlah isu namun termasuk fakta, yaitu kondisi eksisting atau konteks  desain harus ditampilkan. Fakta merupakan obyek, spesifik, dan teruji dengan observasi.

Facts


SITE     

CLIMATE

Degree days

Precipitation

Solar Exposure

Wind speed and direction

CODE

Building

Zoning

SITE CONDITIONS

Cit Services/ transit

Geology

Hidrology

Noise

Odors

Site features (rock, flora, fauna, stream,etc.)

Soil bearing capacity

Topografy

Utilities

View to and from site

TRAFFIC LEVELS

Bycycles

Pedestrians

Vehicles

PERSON/USER

ACTIVITY ANALYSIS

AGE GROUP

ANTHROPOMETRIC

DISABILITY

ENVIRONMENTAL HISTORY

NUMBER OF PEOPLE/ GROUPINGS

Organizational structure

PERCEPTUAL ABILITIES

PERSONALITY

ROLES

RULES

VALUES

CONTEXT

CULTURAL

DEMOGRAPHIC

ECONOMIC

ETHICAL

ETHNIC

HISTORICAL

POLITICAL

SOCIAL

Solutions

Pintu masuk, bentuk atap, penerangan lampu, jenis ruangan, dll, juga bukanlah isu. Obyek tersebut merupakan konsep atau solusi yang muncul akibat isu tersebut.

Solutions

COMPOSITIONAL STRATEGIES

EQUIPMENT

FORM

Color

Dimension

Direction

Location

LIGHTING

MATERIAL

Building

Interior

Lanscape

Texture

Transparency

ORIENTATION

SPACE DEFINITION

Enclosed

Open

Natural Fusion

Kajian Teori Sustainable Architecture

[Amos Rapoport]
Sustainability menurut Amos Rapoport dalam implikasinya dengan lingkungan buatan selalu melibatkan ‘meaning’, yang timbul akibat konflik antara kriteria ‘sustainability’ dan ‘wants’. Dalam kasus Mesiniaga,Bioclimatic Skyscraper, ‘meaning’ dapat dibedakan menjadi ‘meaning of sustainability’ dan ‘meaning in sustainability’.
Dalam ‘meaning of sustainability’ bisa dilihat bahwa terjadi ‘change and continuity’ dari konsep dan fisik bangunan. Dalam konsep, perubahan (change) bisa dilihat pada ‘meaning’ dari ‘bioclimatic design’ yang dulu pada masyarakat tradisional (traditional environment) alam tidak dengan sengaja menjadi batasan (constraint) dari wants manusia (karena lemahnya teknologi, populasi manusia yang masih sedikit dan seterusnya), tetapi sekarang (dalam contemporary environment), alam dengan sengaja dijadikan batasan dari wants untuk mencapai lingkungan yang sustainable. Sedang continuity dari konsep bisa dilihat dari alam yang tetap menjadi batasan dari wants.
Pada fisik, change and continuity, bisa dilihat dari :
• Plants (tanaman)
Kalau dulu pada manusia tradisional yang tidak mengenal bangungan tinggi, manusia dalam lingkungan buatannya bisa langsung berhubungan dengan ruang luar (dengan tanaman, air hujan, matahari, udara segar dan seterusnya). Maka disini (Mesiniaga), konsep tersebut tetap ingin dipakai dengan adanya hubungan langsung antara ruang luar dengan ruang dalam, sehingga dapat menambah kesejukan di dalam ruang dan juga supaya pemakai di dalam bangunan tetap dapat melihat hijaunya tanaman (tidak merasa terkurung dalam bangunan). Tetapi hanya saja sekarang digunakan pada bangunan berlantai lebih dari satu. Selain juga digunakan untuk fungsi estetis dan ekologis.
• Terraces (teras)
Manusia tradisional hidup dalam suasana komunal. Dalam Mesiniaga, fungsi komunal ditampilkan disekeliling bangunan dalam tampilan teras-teras lebar sebagai ruang komunal selain sebagai ruang penghawaan. Sehingga user tetap dapat merasakan ruang luar dan tidak terkungkung didalam bangunan seperti umumnya bangunan bertingkat lainnya.
• Air hujan.
Air hujan, dalam Mesiniaga, tidak secara vertikal langsung diturunkan ke tanah, tetapi secara spiral dengan perlahan dialirkan kebawah. Fungsinya, selain untuk menyirami tanaman yang juga ditanam secara spiral, juga untuk mengesankan bahwa ruang dalam bisa tetap berhubungan dengan ruang luar (dengan terdengarnya gemericik air), selain juga bisa untuk menambah kesejukan didalam bangunan.
Sedang ‘meaning in sustainability’ bisa dilihat dari kemampuan Mesiniaga untuk memuaskan ‘wants’. Baik wants dari user dan wants dari bangunan. Karena bangunan berkeinginan untuk memasukkan angin sebanyak mungkin kedalam bangunan, karena ingin memanfaatkan air hujan semaksimal mungkin, maka dibuat bentuk bulat untuk bangunan. Secara struktur, bulat sangat stabil dan dengan sistem spiral, air hujan dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Karena itu eksterior bangunan berbentuk bulat. Tetapi wants dari penghuni yang ingin memfungsikan bangunan tersebut sebagai kantor, menginginkan bentuk kotak karena efektif dan efisien. Bukan berarti karena bertolak belakang maka wants dari penghuni ditekan oleh wants dari bangunan. Ruang dalam tetap memakai bentuk-bentuk kotak, sedang ruang yang tersisa digunakan sebagai teras, untuk fungsi ruang komunal dan transisi ruang dalam dan ruang luar, selain juga berfungsi sebagai penghawaan.

Medan Energi Metafisik Elemen Dekorasi Arsitektur Rumah Kurung Manik Batak Karo


Pendahuluan

Dalam wilayah arsitektur nusantara rumah Batak Karo juga mempunyai tipologi yang hampir sama dengan arsitektur nusantara lainnya, yaitu mempunyai beberapa jenis rumah. Jenis-jenis tersebut benyak difokuskan pada perbedaan wujud atap bangunan. Seperti didalam arsitektur Jawa yang mempunyai beberapa jenis atap, arsitektur Batak Karo juga mempunyai beberapa jenis atap rumah yang mebedakan antara jenis yang satu dengan yang lain.

Rumah adat Batak Karo kondisi aslinya terdiri dari dinding papan yang merupakan bahan utama dari semua arsitektur nusantara, mempunyai atap yang tersusun dari ijuk sejenis dengan arsitektur Bali, bertiang balok mempunyai muka, tanduk, ret-ret, takal dapur. Bagian kaki menggunakan pondasi  palas. Puncak atap terdapat muka berbentuk segitiga sama kaki yang terbuat dari anyaman bambu. Bagian ini biasanya muka ini menjadi khas dalam pembahasan arsitektur nusantara. Dalam setiap jenis rumah Batak Karo jumlah mukanya berbeda, karena tergantung jumlah tingkat atau susun dari jenis rumah Batak Karo tersebut. Jika rumah yang atapnya tidak bertingkat jumlah mukanya 2 buah dalam posisi yang berlawanan. Sedangkan atap yang susun atau anjung-anjung 2 mempunyai jumlah muka sebanyak 8 buah.

Rumah Batak Karo terdiri dari beberapa bentuk yang pada dasarnya adalah sama, yang membedakan adalah bentuk atapnya dan tiangnya. Berdasarkan bentuk atapnya terdapat bentuk Rumah Kurung Manik, rumah Sada Tersek, rumah Dua Tersek Pakai Anjung-anjung, Rumah Ayo. Sedangkan berdasarkan tiangnya dapat dibedakan rumah Sangka Manuk, rumah Sendi. Dalam satu kampung juga terdapat bangunan lain antara lain adalah Jambur, Geriten, Sapo Page, Lesung dan bagian lain yaitu Peken, Pendonen, Penjuman, Kerangen, Barong, Penjalangen, Tapin, Buah Uta-uta.

Bentuk dan teknik pembuatan rumah pada dasarnya juga hampir sama, seperti letak dinding miring kearah luar, mempunyai dua pintu masuk yang menghadap Timur-Barat. Pada kedua ujung atapnya terdapat terdapat tanduk atau patung kepala kerbau. Dinding, lantai dan tiang-tiagnnya terbuat dari kayu. Untuk tangga teras(ture) yang berada di ujung Timur-Barat dan beberapa perlengkapan lainnya terbuat dari bambu. Bagian atap dan pengikatnya terbuat dari ijuk yang disusun sebagai bidang penutup atap.

Dalam sistim pembangunan rumah adat Batak Karo ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan membutuhkan banyak tenaga sukarela. Mereka yang ikut berpartisipasi dalam pembangunan disebut dengan Adangen( tanggungan).

Seperti umumnya arsitektur tradisonal di nusantara arsitektur adat Batak Karo pun mempunyai banyak dekorasi. Rumah adat Batak Karo yang menggunakan dekorasi tersebut biasanya disebut dengan Gerga. Dekorasi-dekorasi tersebut mempunyai makna-makna magis bagi para penghuninya. Makna-makna tersbut disimbolkan dalam bentuk dekorasi yang mempunyai susunan khusus, seperti motif manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Dekorasi-dekorasi biasanya juga merupakan salah satu bagian sistim komunikasi penghuni mengenai filsafat hidup, prasasti pembangunan, dan nilai-nilai magis yang dianutnya.

Dekorasi atau ragam hias merupakan simbolisasi akan kepercayaan diluar jasmani. Kekuatan-keuatan tersebut dipercayai merupakan bagian dari keberlangsungan hidup seseorang didunia ini. Kepercayaan terhadap kekuatan diluar diri manusia menjadi bagian penting dunia arsitektur tradisional. Kekuatan-kekuatan tersebut memberikan dorongan terhadap keinginan, pengaturan nasib, keberuntungan, kecelakaan, dan situasi-situasi yang mengikuti manusia dalam menjalani hidup didunia ini.

Dekorasi

Dekorasi – dekorasi yang muncul dalam arsitektur Batak Karo banyak berhubungan dengan fungsi-fungsi fisik dari obyek yang dipasangi dekorasi tersebut. Kepentingan-kepentingan atau harapan yang ingin dicapai diwakili dalam elemen dekoratif yang terdapat dalam setiap bagian dari benda tersebut. Seperti yang terdapat dimeja makan, penghuni berharap agar tidak terdapat keinginan jahat yang membuat makanan tersebut mengandung racun dan mengakibatkan keracunan atau kematian. Menghindari situasi-situasi yang buruk merupakan kondisi-kondisi yang ingin dicapai dalam setiap kegiatan.

Dari sisi pembuatan oranmentasi mempunyai empat cara, yaitu :

  1. Pahatan(relief), biasanya banyak digunakan dalam dekorasi pada rumah
  2. Torehan Pisau, bisanya banyak digunakan pada alat-alat
  3. Penggunaan Cat
  4. Dekorasi pada Tenun(hias)

Warna-warna dasar yang dipakai dalam adat Batak Karo aslinya warna yang berasal dari alam yaitu warna merah putih dan hitam. Namun pada perkembangannya menjadi lebih beraneka ragam karena berkembangnya tuntutan dari sisi citra dan guna dari variasi warna-warna tersebut. Selain itu juga pengaruh dari luar pada jaman penjajah Belanda masuk ke Indonesia, banyak warna yang menjadi alternatif dalam membuat dekorasi.

Makna-makna warna dalam Batak Karo antara lain merah berarti garang, putih berarti berhati suci, warna hitam berarti simbolisasi rakyata jelata(kunuma kurumah), warna biru berarti pandek(tukang doa), warna kuning berarti guru(dukun).

Ragam Hias biasanya terdapat pada bagian Ayo (muka rumah) dengan dengan hiasan geometris dan anyaman bambu. Sedangkan hiasan pemikul Ayo dibuat hiasan menyerupai gambar cecak dari bahan ijuk yang dalam bahasa Karo disebut sebagai Pangretret. Hiasan ini mempunyai makna magis tertentu, selain fungsi struktural pengikat dinding. Pada bagian Melmelen(dapur-dapur) yaitu pemikul derpih terdapat hiasan pokok yang terdiri dari tapak raja Sulaiman, Bindu Matoguh, embun Sikawiten, dan hiasan tepi seperti Cimbalau, tutup Dadu, Tiger Tudung dan lain-lain.

Dilihat dari sisi bentuk dekorasi pada rumah Batak Karo mempunyai empat jenis, yaitu :

  1. Bentuk geometris seperti ipen-ipen, tapak raja Sulaiman, piseren kambing, tiger tudung, bindu matoguh, cimba lau dan tutup dadu, desa siwaluh.
  2. Bentuk tumbuh-tumbuhan dan alam, bunga gundur, pantil manggis, tulak paku, embun sikawiten.
  3. Bentuk bintang, tanduk kerbau, pengretret.
  4. Bentuk raksasa, cuping-cuping, takal dapur-dapur.

Kajian terhadap Elemen Dekoratif

Berdasarkan bahasa pola dari rumah Batak Karo dapat diklasifikasikan dalam jenis :

  1. Hiasan yang digantung atau disangkutkan seperti tanduk kerbau dan cuping-cuping
  2. Hiasan yang diukir/dipahat/ digambar. Seperti hiasan-hiasan yang ada pada bilah-bilah papan dapur-dapur
  3. Hiasan yang sekaligus menjadi bagian struktur, seperti anyaman ayo-ayo merupakan dinding sekaligus ornamental.

Ragam hias diatas merupakan penggolongan berdasarkan pola penemptan yang terjadi pada bagian-bagian rumah Batak Karo. Kajian ini difokuskan pada penafsiran elemen-elemen dekoratif tersebut sehubungan dengan makna metafisik dari pemahaman penghuni rumah. Potensi dari kekuatan ruang yang dibentuk oleh koodinat elemen-elemen dekoratif tersebut untuk membentuk ruang yang mempunyai medan energi bagi penghuni menjadi lebih jelas jika kita dapat menghubungkan berdasarkan penempatannya.

Elemen Dekoratif Penolak Bala(Perlidungan)

Tanduk Kerbau

Hiasan yang digantung atau disangkutkan salah satunya adalah kepala kerbau. Tanduk kerbau yang dipasang diujung atap (bubungan) adalah tanduk asli, sedangkan kepala kerbau dapat dibuat dari tanah liat dan dicat warna putih. Hiasan kepala kerbau ini pada rumah Batak Karo berjumlah 2 buah sebab jumlah ujung atapnya 2 buah. Dengan orientasi ke arah timur dan barat berarti tanduk kerbau ini juga menghadap timur dan barat.

Tanduk kerbau ini mempunyai makna yang melambangkan sikap hormat dan merunduk yang mengesankan sikap satria yang menghormati setiap orang tetapi juga siap untuk mempertahankan setiap gangguan yang muncul untuk mengganggu. Sikap satria yang ingin dimunculkan antara lain adalah keperkasaan, sportifitas tanpa harus mengganggu orang lain, seperti sifat kerbau yang cukup tenang dalam menhadapi situasi namun jika diganggu siap untuk mempertahankan.

Cuping-cuping

Ragam hias ini mempunyai posisi pada bagian setiap pojok rumah(suki) sebagai batas derpih atau dinding, antara derpih depan dan derpih samping. Bentuk cuping-cuping banyak menyerupai bentuk saun telinga manusia. Sehingga makna yang diinginkan analog dengan fungsi dari telinga yaitu sebagai alat untuk mendengarkan lingkungannya secara tajam. Dengan pendenganran yang tajam maka didapatkan  kearifan yang cukup besar dalam berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Dengan begitu maka bekal ketajaman akan pendengaran terhadap sekitarnya, akan membuat tingkat kewaspadaan yang tinggi, sehingga siap untuk menangkal setiap gangguan yang ingin mengancam keberadaan.

Pangeretret

Pengretret

Ragam hias ini berbentuk seperti cicak yang mempunyai kepala pada kedua ujung badannya, dan terdapat tiga jari kaki ret-ret yang melambangkan ikatan keluarga tiga kesatuan. Pengretret ini juga mempunyai fungsi secara struktural pengikat bilah-bilah papan sebagai dinding(derpih).

Secara fisik ragam hias ini terbentuk dari jalinan tali ijuk yang menggambarkan makna kekuatan, penagkal setan dan melambangkan persatuan dan kesatuan masyarakat dalam menyelesaikan suatu masalah.

Penafsiran Medan Energi Metafisik ; Tanduk Kerbau dan Cuping-cuping

Sekarang kita perhatikan titik koordinat yang ditempati oleh elemen dekoratif yang digantung atau disangkutkan yaitu titik koordinat tanduk kerbau, cuping-cuping dan pelingkupan pengretret. Jika kita dapat membuat garis lurus yang kita hubungkan antara titik pemasangan elemen-elemen gantung tersebut, garis lurus tersebut membentuk geometri obyek bangunan tersebut. Garis garis tersebut membentuk medan energi yang melindungi semua penghuni rumah yang berada didalamnya. Rumah dipahami sebagai dunia kecil bagi kehidupan penghuni rumah Batak Karo ini. Seperti atmosfer yang melindungi bumi ini dari beberapa gangguan meteor dan radiasi yang merusak lingkungan dan menyaring semua yang masuk dalam bumi. Medan ini juga memberikan suatu atmosfer perlindungan terhadap energi lain yang bermaksud untuk merusak siklus kehidupan dunia dalam ruangan rumah.

Cara membaca medan energi yang muncul dari titik koordinat tersebut sebagai berikut.

  • Perlindungan secara vertikal, tanda tersebut dapat dibaca dari garis putus yang hadir akibat perhubungan antara tanduk kerbau(1 dan 2) dengan empat titik penjuru tempat dari cuping-cuping yang berada pada keempat  sudut(A,B,C,D) bangunan yang berhubungan dengan badan bangunan.
  • Perlindungan secara Horisontal, pengretret sebagai elemen ragam hias yang sekaligus berfungsi sebagai struktur pengikat bilah-bilah papan sebagai dinding , juga mempunyai fungsi metafisik sebagai penolak segala kejahatan. Melihat posisinya pengeretret menyerupai sabuk yang menghubungkan sudut-sudut bangunan empat persegi panjang Batak Karo. Sabuk energi ini menghubungkan setiap kolom pojok tempat sangkutan dari cuping-cuping(A,B,C,D).

 

Elemen Dekoratif : Pengharapan Kelancaran Hidup

Dapur-dapur (melmelan)

Elemen-elemen dekoratif yang diukir/dipahat/ digambar lebih banyak berada pada dapur-dapur yang terdiri dari tapak raja Sulaiman, bindu matagah, teiger tudung,desa siwaluh, bunga gundur dan pantil manggis, Embun sikawiten,  cimba lau dan tutup dadu.

Makna yang terkandung dalam dapur-dapur ini antara lain mengenai harapan akan kesehatan, petunjuk jalan agar tidak sesat, dijauhkan dari roh jahat, diberi kekuatan batin, keagungan dan kewibawaan , ketampanan, penunjuk arah bulan baik, keindahan, kemakmuran, kecerahan.

 

Penafsiran : Ruang Kehidupan Dunia

Jika kita melihat posisi fisik dapur-dapur ini merupakan bagian yang menjadi pengikat dari dari badan bangunan Kurung Manik Batak Karo. Dapur-dapur merupakan elemen bangunan yang dekat dengan posisi manusia, yaitu mengelilingi ruang hunian manusia. Elemen ini memberikan batasan ruang kehidupan manusia dalam dunia kecil yang dinamakan rumah. Keinginan dan harapan yang ada dalam hati dan pikiran mereka tuangkan dalam dapur-dapur dengan bahasa pola yang dalam bentuk ukiran dan pahatan.

Beberapa makna dari papan dapur-dapur ini sesuai dengan makna ukiran perbagian antara lain :

  • dapur-dapur memberikan pewadahan(ruang) terhadap semua harapan penghuni rumah tersebut terhadap lingkungan fisik yang diinginkan sesuai posisi koordinat dari dapur-dapur yang menyangga dinding(derpih) dan melingkupi bangunan rumah.
  • Dapur-dapur sebagai media komitmen dan kitab yang berisi aturan dan harapan.
  • Kekuatan internal jasmani dalam melakukan aktifitas ruang dunia menjadi tujuan utama dalam memberikan makna dapur-dapur.

 

 

Elemen Dekoratif : Ekspresi Keseimbangan

Ayo-ayo

Membaca keseimbangan kehidupan fisik dan metafisik yang terdapat dalam totalitas bangunan ini dapat dilihat dari ragam hias ayo-ayo. Elemen ini mempunyai posisi di bagian depan(muka) dan belakang. Bagian muka-belakang mengarah pada mata angin Timur – Barat. Arah timur-barat ini sesuai dengan arah hulu dan hilir sungai yang berada didekat bangunan ini. Bentuk dari ayo-ayo ini adalah bidang segitiga yang mengisi muka atap bagian depan, berisi ukiran-ukiran yang sebagian besar bermakna keindahan (sebagai hiasan) dan penolak bala.

Penafsiran : Keseimbangan Kehidupan

Elemen ragam hias ini didominasi oleh bentuk-bentuk ornamen keindahan dan beberapa bagian kecil sebagai penolak bala. Keindahan adalah ragam hiasan yang mengungkapkan intuisi seni dan kebijaksanaan dari masyarakat tersebut. Pemahaman dan ungkapan nilai-nilai keindahan sangat berkaitan dengan makna kearifan , bijaksana, berlaku adil, keseimbangan atau segala sesuatu harus dalam keadaan yang berimbang.

sumbu

Ayo-ayo berhadapan langsung dengan orang yang akan masuk rumah atau dalam arah hadap yang sama dengan pintu masuk yang berada didepan dan belakang(timur-barat). Sehingga pola bidang ayo-ayo ini menyambut setiap orang yang akan masuk rumah. Bagaikan sebuah ramuan yang memberikan kekuatan terhadap semua makhluk yang masuk bangunan ini. Jadi ayo-ayo merupakan raut muka(interface) yang berkomunikasi tentang nilai-nilai keindahan secara keseluruhan terhadap setiap pengunjung.

Beberapa bentuk ornamen geometris memberikan hipnotis terhadap orang yang memandangnya. Susunan geometris yang memusat memberikan cara hipnotis untuk sebuah kejujuran.

Ornamen yang mirip dengan ornamen geometris seperti ornamen bunga gundur ini banyak dijumpai dalam susunan keseluruhan bidang Ayo-ayo. Semua ornamen terbentuk secara simetris dalam konfigurasi segitiga sama kaki. Bagian kiri dan kanan menjadi pemusatan energi yang dapat mempengaruhi pendatang yang masuk melalui pintu-pintu tersebut.

Tafsir Keseluruhan

Secara keseluruhan ragam hias atau dekorasi pada rumah adat Batak Karo memberikan kekuatan ruang perlindungan , ruang pengharapan hidup, dan ruang kesimbangan bagi proses kehidupan masyarakat Batak Karo Kurung Manik.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 80 pengikut lainnya.